Bagi saya, pertama, Al-Qurãn adalah
taqdîr (تقدير) - dalam arti ukuran; batasan; ketentuan;
timbangan, dan sebagainya, tentang baik dan buruknya nilai kehidupaan – menurut
Allah. Dengan demikian, dengan turunnya Al-Quran, tidak ada peluang bagi perbantahan tentang apa itu takdir! Dengan kata lain, perdebatan tentang apa itu takdir sudah selayaknya selesai bila semua mau kembali kepada (merujuk) Al-Quran!
Kedua, Al-Qurãn
adalah sebuah “gagasan” (ide) pilihan (alternatif) untuk kehidupan berbudaya.
Bisa juga dikatakan bahwa Al-Qurãn adalah sebuah “isme” (paham; ajaran)
seperti isme-isme yang lain. Bedanya, sebagai isme, Al-Qurãn
bersumber dari Allah.
Meningkat lebih
jauh, saya juga memahami Al-Qurãn sebagai sebuah disiplin ilmu, yang
terbangun secara metodis, sistematis, analitis, sehingga menjadi objektif
(benar secara asas-asas ilmiah). Karenanya, Al-Qurãn pun harus dikaji dan
dipahami secara ilmiah. Dengan demikian, bagi saya, Al-Qurãn
bukan hanya sebuah objek kepercayaan dari segolongan orang yang menganggapnya
suci dan memujanya secara membuta. Sebagaimana kata Ali bin Abu Talib – konon -
Al-Qurãn
adalah sebuah literature ilmiah yang harus dibiarkan berbicara tentang dirinya
sendiri (isthantiqil-Qurãna!).
Al-Qurãn
hadir di tengah ‘kitab-kitab’ yang dianggap besar dan suci untuk diperlakukan
secara sama, oleh naluri kejujuran ilmiah manusia. Bahkan Al-Qurãn
siap diuji untuk diuji sampai sedetail-detailnya. Siap dikupas sampai tuntas!
Dari dulu sampai
kapan pun Al-Qurãn adalah kitab yang terbuka untuk berbagai kerja
pembedahan, selagi pembedahannya dilakukan dengan nurani yang penuh kejujuran.
Bekasi,
31 Januari 2017,
2:43 WIB.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar