Surat Al-Baqarah: Tentang Nama Surat
Dan Huruf-huruf Misterius
(Hanya Untuk Renungan)
Sapi kuning mulus
Al-Baqarah
dalam terjemahan di Indonesia selalu diartikan “sapi betina”. Itu dilakukan
dengan mengikuti rumusan ilmu sharaf tingkat dasar; yaitu bahwa bila di
belakang kata benda terdapat huruf tã’ marbûthah (tã’ bundar),
maka kata benda itu masuk ke dalam jenis perempuan (mu’annats; feminine
gender).
Di
lain pihak, ternyata penambahan huruf tersebut tidak selalu mengubah kata benda
jenis lelaki (mudzakkar; masculine gender) menjadi wanita, tapi hanya
menyatakan satu, sebuah, sekelompok. Misalnya, umam(un) berarti
bangsa-bangsa atau kaum-kaum, maka ummatun (ummah) adalah satu
bangsa atau satu kaum. Atau, bila syajar(un) berarti
pohon-pohon, syajaratun (syajarah) adalah sebatang pohon.
Dengan demikian, bila baqar(un)berarti (seluruh) sapi, maka baqaratun
(baqarah) adalah seekor sapi, dan belum tentu betina.
Apalagi
bila pada kata
baqaratun itu ditambahkan kata sandang
al, sehingga
menjadi
al-bagaratu (al-baqarah), maka tentu pengertiannya
(penerjemahannya) bisa menjadi lain lagi.
Dalam
Al-Qurãn sendiri sendiri, kata al-baqaru (bentuk
ma’rifah/definitive dari baqarun) disebut tiga kali, yaitu dalam surat
Al-Baqarah ayat 70, serta dalam surat Al-An’ãm ayat 144 dan 146. Dan, yang menarik,
pada surat Al-Baqarah ayat 70, kata al-baqara digunakan Bani
Isra’il sebagai sambutan atas informasi Musa bahwa Allah menyuruh mereka
menyembelih baqaratan, seperti yang tertera pada ayat 67. Kemudian,
pada ayat 71, Musa menjawab mereka dengan menggunakan lagi kata baqaratun. Jelasnya,
bila hal itu diukur dengan teori ilmu sharaf tingkat dasar tentang
penambahan tã’ marbûthah yang mengubah kata benda jenis lelaki
menjadi jenis wanita, maka apa yang dilakukan Yahudi itu tentu sangat bodoh.
Mengapa? Sebab, Musa menyebut agar mereka menyembelih “sapi betina”, tapi
mereka menyambut dengan pertanyaan, “Sapi jantan macam apa?” Dalam
bahasa anak muda sekarang, Yahudi ini rupanya nggak konek alias
nggak nyambung.
Mungkin
anda akan mengatakan bahwa Yahudi sengaja mengolok-olok Musa dengan cara
seperti itu. Bisa jadi. Tapi, saya ingin menajamkan pengamatan pada ‘rasa
bahasa’. Kita ambil contoh! Anda, misalnya, mengatakan kepada saya, “Tadi saya
bertemu seorang lelaki.” Dalam pikiran anda, seorang
lelaki itu tentu tergambar jelas, karena anda sedang menceritakan
pengalaman sendiri. Sebaliknya, dalam pikiran saya sama sekali tidak terlintas gambaran
seorang lelaki, tapi sejumlah lelaki, karena saya baru mendengar cerita yang
belum lengkap. Maka, sangat masuk akal bila cerita anda itu saya sambut dengan
pertanyaan, “Lelaki macam apa yang anda temukan?”
Perhatikan! Seorang
lelaki jelas mengacu pada bilangan satu (khusus); sementara lelaki
merujuk pada bilangan banyak (umum).
Itulah
‘kasus kebahasaan’ yang terjadi dalam dialog antara Musa dengan bangsanya.
Ketika Musa, di satu pihak, menggunakan kata benda tunggal, baqaratan,
Yahudi (BaniIsra’il) bereaksi dengan menggunakan kata benda tunggal bermakna
jamak, al-baqaru. Jadi, sekali lagi, al-baqarah,
tidak harus berarti sapi betina, tapi bisa jadi bermakna seekor
sapi tertentu (khas).
Dan
ternyata, kekhususan sapi itu menjadi tampak menyolok setelah kita periksa
surat Al-Baqarah ayat 68-69 dan 71. Di situ disebutkan ciri-ciri sapi itu
antara lain: tidak tua dan tidak muda; warnanya kuning tua dan enak
dilihat; belum pernah digunakan untuk membajak atau menyiram tanah (sawah;
kebun); keadaan kulitnya (yang kuning tua itu) mulus, tanpa bercak noda sedikit
pun.
Gambaran
demikian itu, mau tak mau, juga mengingatkan kita pada kisah tentang Samiri,
yang konon membuat patung sapi dari emas, yang kemudian disembah Yahudi ketika
Musa tidak hadir di tengah mereka. Sapi emas itukah gerangan yang dimaksud
sebagai al-baqarah itu? Tapi, bukankah Allah menyuruh agar
sapi itu disembelih? Bagaimana cara menyembelih (patung) sapi yang terbuat dari
emas? Mengapa pula harus disembelih? Atau, bukankah perintah penyembelihan sapi
itu berkaitan dengan terbunuhnya seorang lelaki? Itulah salah satu bentuk
‘teka-teki’ Al-Qurãn; yang jawabannya tidak selalu bisa diambil dari gudang
teori bahasa. Jawaban itu mungkin terdapat dalam rumusan sastra, atau harus
mengacu pada sebuah peristiwa sejarah (termasuk yang terekam dalam teks-teks
hadis), dan lain-lain.
Dan,
harap dicatat bahwa teori bahasa, rumusan sastra, data sejarah, dan lain-lain
itu hanya manawarkan “kemungkinan-kemungkinan” asumptif (zhanni), bukan
“kepastian” makna. Kepastiannya, apakah ‘bahan’ dari gudang bahasa, sastra,
atau sejarah dan lain-lain yang tepat (proporsional), sangat tergantung pada qarïnah (konteks;
indikasi; isyarat) yang ditunjukkan oleh Al-Qurãn itu sendiri. (Ingat
dalil innal-qurãna yufassiru ba’dhuhu ba’dhan: sesungguhnya
Al-Qurãn itu satu bagian dengan bagian yang lain saling menafsirkan).
Tentu
saja anda bisa (dan boleh) membantah apa yang saya ajukan. Tapi – ini
masalahnya! – terjemahan yang sudah dianggap mapan itu juga jelas sekali
mengandung kekeliruan mendasar. Kata al-baqarah, misalnya, adalah
gabungan dari kata sandang al dengan kata benda baqarah.
Jadi, al-baqarah adalah sebuah kata benda berbentukma’rifah (definitif).
Tapi, mengapa para penafsir kita menerjemahkannya menjadi sapi betina,
yang jelas bermakna umum (mencakup semua sapi betina)? Padahal, bila
benar-benar mau berpegang pada teori bahasa, kata al-baqarah harus
diterjemahkan menjadi sapi betina ini atau sapi betina
itu, atau si sapi betina atau sang sapi
betina (hanya untuk seekor sapi betina tertentu). Atau, seperti
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, menjadi the cow.
Fungsi kata benda
ma’rifah
Kata
benda ma’rifah (definitif) – yaitu kata benda yang ditambah kata sandang al
–dibentuk karena beberapa alasan. Antara lain, ia merupakan pengulangan
dari gambaran benda (nyata/konkret maupun gaib/abstrak) yang sudah disebutkan.
Misalnya dalam kalimat: Saya melihat seekor sapi (baqaratan) gemuk di
ladang tadi pagi. Bila kalimat itu kemudian saya sambung dengan
kalimat baru yang dimulai dengan kata Sapi itu (al-Baqaratu), maka
yang saya maksud dengan “sapi itu” adalah ulangan dari kalimat di atas (Saya
melihat seekor sapi gemuk di ladang tadi pagi). Dengan kata lain, kata
benda ma’rifah in dibentuk untuk membedakan pengertiannya, yaitu dari
pengertian umum menjadi pengertian khusus.
Alasan
lain, kata benda ma’rifah dibentuk untuk mengubah sebuah kata umum menjadi
sebuah istilah yang berkaitan dengan konteks wacana atau disiplin ilmu
tertentu. Di sini kata benda ma’rifah – khususnya bila ia sebagai istilah –
tidak bisa diterjemahkan secara harfiah, tapi harus dilihat dulu definisinya,
yang disebut atau diisyaratkan oleh pembuat wacana (pembicara/penulis).
Istilah al-ïmãn(u),
misalnya, tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi kepercayaan,
karena di satu pihak Al-Qurãn (misalnya melalui surat Al-Hujurat ayat 14)
mengisyaratkan definisinya, dan di lain pihak Nabi Muhammad bahkan menetapkan
definisi itu dengan begitu jelas (melalui hadis Ibnu Majah, Al-Bukhari, Muslim,
Ath-Thabrani, dan Ibnu Najjar).
Tafsir alif-lãm-mïm
Al-Baqarah,
seperti juga sejumlah surat lain dalam Al-Qurãn, diawali dengan huruf-huruf
yang secara bahasa (linguistics; ‘ilmul-lughah) tidak mempunyai arti,
yaitu alif-lãm-mïm.
Karena
tidak terpahami secara bahasa, menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf
misterius sepanjang masa!
Banyak
orang (penafsir) mencari-cari berbagai kemungkinan maknanya sesuai kemampuan
masing-masing. Ada kalanya, yang diandalkan adalah kemampuan berimajinasi.
Secara
umum, para ahli tafsir dalam hal ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok
pertama, boleh dikatakan bersikap pasif, tidak mau menafsirkan huruf-huruf
tersebut.
Mereka
beranggapan bahwa huruf-huruf itu masuk ke dalam kelompok ayat-ayat mutasyãbihãt, yang
menurut mereka semua pengertiannya hanya diketahui oleh Allah sendiri. Termasuk
ke dalam kelompok ini adalah Jalãluddïn Muhammad bin Ahmad Al-Mahally dan
Jalãluddïn ‘Abdur-Rahmãn bin Abu Bakr As-Suyûthy. Mereka inilah yang kemudian
terkenal sebagai “Al-Jalãlain(i)” (dua Jalal), karena bersama-sama menulis
sebuah tafsir, yang selanjutnya kita kenal sebagai Tafsir Jalalain; sebuah
tafsir yang boleh dikatakan paling ringkas (edisi yang ada pada penulis,
misalnya, hanya satu jilid yang terdiri dari 280 halaman), sederhana, dan mudah
dipahami.
Kalimat
pendek dalam (kitab) tafsir tersebut, Allahu a’lamu bi-murãdihi
bihi (الله أعلم بمراده به) – Allah saja yang tahu makna huruf-huruf itu – adalah dalil
yang paling sering disebut (dikutip) orang sehubungan dengan ‘huruf-huruf
misterius’ tersebut. Ada kalanya dalil ini justru diajukan setelah yang
bersangkutan memaparkan berbagai penafsiran.
Secara
umum, para penafsir juga menyebut huruf-huruf itu sebagai al-hurûful-muqattha’ah (الحروف
المقطّعة), alias huruf-huruf singkatan.
Karena
dianggap sebagai huruf-huruf singkatan, maka otomatis ada sejumlah penafsir yang
mencari-cari kepanjangannya.
Muncullah,
antara lain, nama Ibnu ‘Abbas sebagai narasumber yang menyebutkan kepanjangan
dari huruf-huruf itu. Al-Qurthubi, misalnya, mengutip Ibnu ‘Abbas yang
mengatakan bahwa alif dari alif-lãm-mïm adalah
kependekan dari Allah, lãm dari Jibril, dan mïm dari
Muhammad.
Kata
Al-Qurthubi pula, entah dari narasumber siapa, alif adalah
huruf awal (miftãhun) nama Allah, lãm dari Lathïf (halus;
lembut), dan mïm dari Majïd (mulia).
Masih
dalam kutipan Al-Qurthubi, ada yang mengatakan bahwa alif-lãm-mïm adalah
singkatan dari Ana AlLahu a’laM (Aku,
Allah, paling tahu), dan alif-lãm-rã singkatan dari Ana
AlLahu aRã (Aku, Allah, melihat). Anehnya, alif-lãm-shãd dikatakan
sebagai kependekan dari Ana AlLahu afDhalu (Aku, Allah, paling
mulia). Yang terakhir ini, bila tak ada salah ketik pada teks yang saya baca,
sungguh ajaib, karena huruf shãd tiba-tiba berubah
menjadi dhãd.
Karena
begitu banyak versi yang dimunculkan sebagai kepanjangan dari “huruf-huruf
singkatan” itu, semua akhirnya jatuh menjadi bernilai spekulatif belaka.
Tentu
saja spekulasi demikian itu tidak akan berhasil memuaskan siapa pun (termasuk
penafsirnya).
Isyarat dari
Al-Qurãn
Abdullah
Yusuf Ali dalam tafsirnya yang amat terkenal, The Holy Qur’an, yang
pernah diterjemahkan sedikitnya oleh tiga orang Indonesia (terakhir oleh Ali
Audah), agaknya hanya seorang dari sedikit orang yang mengungkap penjelasan
yang diisyaratkan oleh Al-Qurãn. Kata Abdullah Yusuf Ali (dalam terjemaan Ali
Audah):
Secara
logis harus kita perhatikan adanya faktor umum dalam Surah-surah yang didahului
awalan-awalan huruf yang sama, dan faktor ini harus dibedakan dengan
Surah-surah yang memakai awalan-awalan yang lain. Dalam segala hal, bila
terdapat huruf-huruf singkatan, di situ ada beberapa sebutan Qur’an atau Kitab.
…”
Sayangnya,
penafsir yang konon pengikut Ahmadiyah ini tidak menjelaskan lebih lanjut
mengapa ciri-ciri tersebut bisa muncul.
Di
atas sudah penulis sebutkan bahwa karena tidak terpahami secara bahasa.
Menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf misterius sepanjang masa. Tapi,
benarkah tinjauan bahasa dalam hal ini sudah samasekali ‘mentok’ alias buntu?
Tinjauan
bahasa secara verbal (bunyi yang bersifat kata) memang tidak atau kurang
membantu.
Tapi,
coba diingat kembali bahwa Al-Qurãn adalah sebuah ilmu, dan ilmu itu diajarkan
melalui alat bernama bahasa.
Bahasa
adalah sebuah alat yang tersusun dari sejumlah lambang.
Bila diucapkan (menjadi bahasa lisan), lambang itu berbentuk bunyi.
Bila ditulis (menjadi bahasa tulis), bentuk lambang itu adalah huruf.
Al-Qurãn
sendiri, sebagai wahyu, datang kepada Nabi Muhammad dalam bentuk bunyi, bukan
huruf. Dan, ternyata, di antara bunyi-bunyi yang disampaikan Jibril kepada Nabi
Muhammad itu, ada sejumlah bunyi yang ketika ditulis muncul menjadi
huruf-huruf, antara lain, alif-lãm-mïm.
Apa
artinya?
Karena
huruf-huruf itu tidak mewakili bunyi apa pun yang kita kenal sebagai kata, maka
huruf-huruf itu memang bukan kata. Karena itu, memperlakukannya sebagai kata
adalah keliru. Begitu juga ketika dicoba menempatkannya sebagai huruf-huruf
singkatan, tanpa petunjuk Allah dan RasulNya, kita jadi cenderung main
tebak-tebakan.
Satu
sisi yang belum disentuh adalah proporsi huruf-huruf itu dalam bahasa maupun
ilmu.
Huruf
pada hakikatnya adalah bagian terkecil dari bahasa, dan kerena itu pula –
karena ilmu disampaikan melalui bahasa – maka huruf juga merupakan bagian
terkecil dari ilmu. Dengan demikian, apa tidak mungkin bila huruf-huruf
‘misterius’ itu adalah lambang bahasa sekaligus ilmu (yakni Al-Qurãn)?
Lantas,
bila memang merupakan lambang bahasa dan ilmu, mengapa pula lambang itu tidak
hanya satu? Mengapa setelah alif-lãm-mïm harus ada alif-lãm-rã,
alif-lãm-shãd, dan lain-lain?
Jawabannya
bukan alif-lãm-mïm, alif-lãm-rã, alif-lãm-shãd yang menjadi
lambang, tapi semua huruf adalah lambang, yaitu lambang bahasa sekaligus
lambang ilmu. Hanya ‘kebetulan’ dalam Al-Qurãn yang ditampilkan adalah
huruf-huruf tersebut. .
Isyarat hadis
Bila
kita rujuk sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah, kita dapati keterangan bawa
wahyu memang tidak seluruhnya hadir dalam bentuk kata-kata, tapi ada
juga yang seperti suara lonceng. Selengkapnya, simaklah hadis riwayat
Al-Bukhari ini:
Abdullah
bin yusuf bercerita kepada kami; katanya, kami mendapat kabar dari Malik yang
mendengar Hisyãm bin ‘Urwah bercerita bahwa ayahnya mendengar dari Aisyah,
Ummul-Mu’minïn, r.a. bahwa Harïts bin Hisyãm, r.a. bertanya kepada Rasulullah
s.a.w., “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada Anda?” Maka
Rasulullah menjawab, “Kadang-kadang ia datang kepadaku seperti dentingan
lonceng, dan itulah cara yang paling berat bagiku. Setelah itu, ia (Jibril)
pergi, yaitu setelah aku memahami apa yang dikatakannya. Kadang-kadang Sang
Malaikat muncul di hadapanku sebagai seorang lelaki, lalu ia mengajariku
(wahyu), sampai aku memahami apa yang ia katakan.” (Lalu) kata Aisyah, r.a.,
“Aku sendiri pernah melihat wahyu datang kepada beliau pada hari yang sangat
dingin. Ketika ia (Jibril) pergi meninggalkan beliau, sungguh, dahi
beliau mengucurkan keringat.”
Hadis
ini jelas memaparkan cara penurunan wahyu, yang ternyata tidak seluruhnya
berupa rangkaian bunyi bermakna (kata-kata), tapi ada juga yang seperti suara
lonceng (tidak benar-benar sama dengan suara lonceng!). Apa tidak mungkin bila
bunyi-bunyi yang seperti lonceng itulah yang akhirnya diucapkan menjadi alif-lãm-mïm dan
lain-lain?
Sangat
mungkin.
Lagi
pula, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa huruf tidak terpisahkan dari
bahasa dan ilmu. Juga bisa menjadi lambang ilmu.
Lebih
lanjut, mari kita coba lihat ayat ini (Al-Baqarah ayat 1-2) dari sudut pandang
ilmu nahwu:
Perhatikanlah
bahwa alif-lãm-mïm – yang merupakan ayat pertama itu –
ternyata dihubungkan oleh kata penunjuk dzãlika dengan
kata al-kitãbu.
Dengan
demikian, terjemahan lugu dari kalimat ini adalah “alif-lãm-mïm itulah
kitab (atau alif-lãm-mïm = al-kitãb). Tegasnya, tak ada ‘arti’
lain dari alif-lãm-mïm, selain al-kitãb (yaitu
Al-Qurãn).
Ternyata,
susunan inilah - alif-lãm-mïm dzãlikal-kitãbu – yang
selanjutnya bisa menjadi rumus untuk memahami surat-surat lain yang diawali
dengan “huruf-huruf misterius” itu; karena memang setelah huruf-huruf itu
selalu ada isyarat yang menghubungkannya dengan sebutan-sebutan lain dari
Al-Qurãn.∆