TERBUKA UNTUK SEMUA KRITIK

Sabtu, 18 November 2017

J i l b a b



Beberapa waktu lalu. Saya bertanya dalam hati, “Evie Tamala aja udah pake jilbab; terus kapan Rina Nose ya?”
Tak lama kemudian, Rina Nose (RN) muncul di teve dalam keadaam sudah berhijab!
Saya usap dada sambil ngucap. “al-hambu lillãh!!!”
Beberapa wakttu kemudian, saya brawsing video-video RN. Dan saya agak heran ketika dalam sebuah video digambarkan bahwa RN memelihara anjing.
Bukan saya benci anjing dan pemelharanya; tapi dalam pandangan umum, sorang muslim/muslimah “ga boleh piara anjing”. Tapi pertanyaan tak penting itu saya biarkan mengendap.
Tapi belum lagi pertanyaan itu tersimpan, beredar berita bahwa RN sudah copot jilbab!
Saya terhenyak. Ya Allah, apakah saya baru nonton sinetron Indonesia, yang umumnya tak punya kekuatan konsep dan skenario, plus buruk pemilihan aktor dan aktrisnya, juga settingnya sering ga cocok?
Inbox fesbuk saya pun dipenuhi pertanyaan: Apa pendapat Abang?
Apa ya?
Setahu saya, Islam mempunyai banyak simbol, antara lain berupa sejumlah ritus. Dan jilbab, bagi saya, adalah simbol yang paling fenomenal dan berpengaruh… Dan membuktikan betapa hebatnya peran wanita bagi Islam!
Jilbab berbeda dengan gamis dan sorban dan jenggot lelaki. Juga berbeda dengan celana cingkrang mereka!
Saya bilang sama istri dengan emosional, “Bagi Abang, tanpa wanita berjilab, Islam tak dikenal orang di dunia ini! Tak disebut. Tak dibahas orang!”
“Benar! Benar!” kata istri saya, sambil bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Saya tahu di sana ada lemari dan cermin cukup lebar. Mungkin di sana istri saya yang berjilbab sejak kecil mau berge’er ria. Haha!
Tak lama kemudian, Istri saya duduk lagi dekat saya. Saya pun meneruskan ocehan emosional saya, “Bagi Abang, jilbab adalah simbol perlawanan terhadap budaya populer, terhadap baudaya Barat yang cenderung mengeksploitasi tubuh wanita demi selera seks dan uang. Wanita muslimah,dengan jilbab mereka, tampil bukan hanya secara simbolik melakukan perlawanan, tapi juga secdara frontal bergerak di seluruh dunia, menghadapi risiko yang tidak ringan di segala bidang kehidupan. Para pelajar, pengajar, pekerja, dan lain-lain, semua berani berbenturan dengan segala bantuk kekuatan dunia yang mendukung kekuasaan nafsu birahi dan uang. Pokoknya, jilbab bukan hanya simbol tapi satu sisi kekuatan Islam itu sendiri!”
“Jadi, RN gimana?”Tanya istri saya setelah saya agak lama terdiam.
“Gimana ya? Yaa. Mungkin dia, dengan hidungnya yang pendek itu, tak mampu mengendus betapa hebatnya wanita dengan jilbabnya itu!” jawab saya seenaknya.
“Huuuuh, ga lucu!” kata istri saya.
“Emang kamu pikir si RN itu lucu?” kata saya sambil memencet hidung istri saya yang sering saya puji karena bangir.

Jumat, 17 November 2017

Surat Al-Baqarah: Tentang Nama Surat dan Huruf-huruf MIsterius


Surat Al-Baqarah: Tentang Nama Surat Dan Huruf-huruf Misterius
(Hanya Untuk Renungan)

Sapi kuning mulus
Al-Baqarah dalam terjemahan di Indonesia selalu diartikan “sapi betina”. Itu dilakukan dengan mengikuti rumusan ilmu sharaf tingkat dasar; yaitu bahwa bila di belakang kata benda terdapat huruf tã’ marbûthah (tã’ bundar), maka kata benda itu masuk ke dalam jenis perempuan (mu’annats; feminine gender).
Di lain pihak, ternyata penambahan huruf tersebut tidak selalu mengubah kata benda jenis lelaki (mudzakkar; masculine gender) menjadi wanita, tapi hanya menyatakan satu, sebuah, sekelompok. Misalnya, umam(un) berarti bangsa-bangsa atau kaum-kaum, maka ummatun (ummah) adalah satu bangsa atau satu kaum. Atau, bila syajar(un) berarti pohon-pohon, syajaratun (syajarah) adalah sebatang pohon. Dengan demikian, bila baqar(un)berarti (seluruh) sapi, maka baqaratun (baqarah) adalah seekor sapi, dan belum tentu betina.
Apalagi bila pada kata baqaratun itu ditambahkan kata sandang al, sehingga menjadi al-bagaratu (al-baqarah), maka tentu pengertiannya (penerjemahannya) bisa menjadi lain lagi.
Dalam Al-Qurãn sendiri sendiri, kata al-baqaru (bentuk ma’rifah/definitive dari baqarun) disebut tiga kali, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 70, serta dalam surat Al-An’ãm ayat 144 dan 146. Dan, yang menarik, pada surat Al-Baqarah ayat 70, kata al-baqara digunakan Bani Isra’il sebagai sambutan atas informasi Musa bahwa Allah menyuruh mereka menyembelih baqaratan, seperti yang tertera pada ayat 67. Kemudian, pada ayat 71, Musa menjawab mereka dengan menggunakan lagi kata baqaratun. Jelasnya, bila hal itu diukur dengan teori ilmu sharaf tingkat dasar tentang penambahan tã’ marbûthah yang mengubah kata benda jenis lelaki menjadi jenis wanita, maka apa yang dilakukan Yahudi itu tentu sangat bodoh. Mengapa? Sebab, Musa menyebut agar mereka menyembelih “sapi betina”, tapi mereka menyambut dengan pertanyaan, “Sapi jantan macam apa?” Dalam bahasa anak muda sekarang, Yahudi ini rupanya nggak konek alias nggak nyambung.
Mungkin anda akan mengatakan bahwa Yahudi sengaja mengolok-olok Musa dengan cara seperti itu. Bisa jadi. Tapi, saya ingin menajamkan pengamatan pada ‘rasa bahasa’. Kita ambil contoh! Anda, misalnya, mengatakan kepada saya, “Tadi saya bertemu seorang lelaki.” Dalam pikiran anda, seorang lelaki itu tentu tergambar jelas, karena anda sedang menceritakan pengalaman sendiri. Sebaliknya, dalam pikiran saya sama sekali tidak terlintas gambaran seorang lelaki, tapi sejumlah lelaki, karena saya baru mendengar cerita yang belum lengkap. Maka, sangat masuk akal bila cerita anda itu saya sambut dengan pertanyaan, “Lelaki macam apa yang anda temukan?”
Perhatikan! Seorang lelaki jelas mengacu pada bilangan satu (khusus); sementara lelaki merujuk pada bilangan banyak (umum).
Itulah ‘kasus kebahasaan’ yang terjadi dalam dialog antara Musa dengan bangsanya. Ketika Musa, di satu pihak, menggunakan kata benda tunggal, baqaratan, Yahudi (BaniIsra’il) bereaksi dengan menggunakan kata benda tunggal bermakna jamak, al-baqaru. Jadi, sekali lagi, al-baqarah, tidak harus berarti sapi betina, tapi bisa jadi bermakna seekor sapi tertentu (khas).
Dan ternyata, kekhususan sapi itu menjadi tampak menyolok setelah kita periksa surat Al-Baqarah ayat 68-69 dan 71. Di situ disebutkan ciri-ciri sapi itu antara lain: tidak tua dan tidak muda; warnanya kuning tua dan enak dilihat; belum pernah digunakan untuk membajak atau menyiram tanah (sawah; kebun); keadaan kulitnya (yang kuning tua itu) mulus, tanpa bercak noda sedikit pun.
Gambaran demikian itu, mau tak mau, juga mengingatkan kita pada kisah tentang Samiri, yang konon membuat patung sapi dari emas, yang kemudian disembah Yahudi ketika Musa tidak hadir di tengah mereka. Sapi emas itukah gerangan yang dimaksud sebagai al-baqarah itu? Tapi, bukankah Allah menyuruh agar sapi itu disembelih? Bagaimana cara menyembelih (patung) sapi yang terbuat dari emas? Mengapa pula harus disembelih? Atau, bukankah perintah penyembelihan sapi itu berkaitan dengan terbunuhnya seorang lelaki? Itulah salah satu bentuk ‘teka-teki’ Al-Qurãn; yang jawabannya tidak selalu bisa diambil dari gudang teori bahasa. Jawaban itu mungkin terdapat dalam rumusan sastra, atau harus mengacu pada sebuah peristiwa sejarah (termasuk yang terekam dalam teks-teks hadis), dan lain-lain.
Dan, harap dicatat bahwa teori bahasa, rumusan sastra, data sejarah, dan lain-lain itu hanya manawarkan “kemungkinan-kemungkinan” asumptif (zhanni), bukan “kepastian” makna. Kepastiannya, apakah ‘bahan’ dari gudang bahasa, sastra, atau sejarah dan lain-lain yang tepat (proporsional), sangat tergantung pada qarïnah (konteks; indikasi; isyarat) yang ditunjukkan oleh Al-Qurãn itu sendiri. (Ingat dalil innal-qurãna yufassiru ba’dhuhu ba’dhan: sesungguhnya Al-Qurãn itu satu bagian dengan bagian yang lain saling menafsirkan).
Tentu saja anda bisa (dan boleh) membantah apa yang saya ajukan. Tapi – ini masalahnya! – terjemahan yang sudah dianggap mapan itu juga jelas sekali mengandung kekeliruan mendasar. Kata al-baqarah, misalnya, adalah gabungan dari kata sandang al dengan kata benda baqarah. Jadi, al-baqarah adalah sebuah kata benda berbentukma’rifah (definitif). Tapi, mengapa para penafsir kita menerjemahkannya menjadi sapi betina, yang jelas bermakna umum (mencakup semua sapi betina)? Padahal, bila benar-benar mau berpegang pada teori bahasa, kata al-baqarah harus diterjemahkan menjadi sapi betina ini atau sapi betina itu, atau si sapi betina atau sang sapi betina (hanya untuk seekor sapi betina tertentu). Atau, seperti diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, menjadi the cow.

Fungsi kata benda ma’rifah
Kata benda ma’rifah (definitif) – yaitu kata benda yang ditambah kata sandang al –dibentuk karena beberapa alasan. Antara lain, ia merupakan pengulangan dari gambaran benda (nyata/konkret maupun gaib/abstrak) yang sudah disebutkan. Misalnya dalam kalimat: Saya melihat seekor sapi (baqaratan) gemuk di ladang tadi pagi. Bila kalimat itu kemudian saya sambung dengan kalimat baru yang dimulai dengan kata Sapi itu (al-Baqaratu), maka yang saya maksud dengan “sapi itu” adalah ulangan dari kalimat di atas (Saya melihat seekor sapi gemuk di ladang tadi pagi). Dengan kata lain, kata benda ma’rifah in dibentuk untuk membedakan pengertiannya, yaitu dari pengertian umum menjadi pengertian khusus.
Alasan lain, kata benda ma’rifah dibentuk untuk mengubah sebuah kata umum menjadi sebuah istilah yang berkaitan dengan konteks wacana atau disiplin ilmu tertentu. Di sini kata benda ma’rifah – khususnya bila ia sebagai istilah – tidak bisa diterjemahkan secara harfiah, tapi harus dilihat dulu definisinya, yang disebut atau diisyaratkan oleh pembuat wacana (pembicara/penulis).
Istilah al-ïmãn(u), misalnya, tidak bisa diterjemahkan begitu saja menjadi kepercayaan, karena di satu pihak Al-Qurãn (misalnya melalui surat Al-Hujurat ayat 14) mengisyaratkan definisinya, dan di lain pihak Nabi Muhammad bahkan menetapkan definisi itu dengan begitu jelas (melalui hadis Ibnu Majah, Al-Bukhari, Muslim, Ath-Thabrani, dan Ibnu Najjar).

Tafsir alif-lãm-mïm
Al-Baqarah, seperti juga sejumlah surat lain dalam Al-Qurãn, diawali dengan huruf-huruf yang secara bahasa (linguistics; ‘ilmul-lughah) tidak mempunyai arti, yaitu alif-lãm-mïm.
Karena tidak terpahami secara bahasa, menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf misterius sepanjang masa!
Banyak orang (penafsir) mencari-cari berbagai kemungkinan maknanya sesuai kemampuan masing-masing. Ada kalanya, yang diandalkan adalah kemampuan berimajinasi.
Secara umum, para ahli tafsir dalam hal ini terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, boleh dikatakan bersikap pasif, tidak mau menafsirkan huruf-huruf tersebut.
Mereka beranggapan bahwa huruf-huruf itu masuk ke dalam kelompok ayat-ayat mutasyãbihãt, yang menurut mereka semua pengertiannya hanya diketahui oleh Allah sendiri. Termasuk ke dalam kelompok ini adalah Jalãluddïn Muhammad bin Ahmad Al-Mahally dan Jalãluddïn ‘Abdur-Rahmãn bin Abu Bakr As-Suyûthy. Mereka inilah yang kemudian terkenal sebagai “Al-Jalãlain(i)” (dua Jalal), karena bersama-sama menulis sebuah tafsir, yang selanjutnya kita kenal sebagai Tafsir Jalalain; sebuah tafsir yang boleh dikatakan paling ringkas (edisi yang ada pada penulis, misalnya, hanya satu jilid yang terdiri dari 280 halaman), sederhana, dan mudah dipahami.
Kalimat pendek dalam (kitab) tafsir tersebut, Allahu a’lamu bi-murãdihi bihi (الله أعلم بمراده به) – Allah saja yang tahu makna huruf-huruf itu – adalah dalil yang paling sering disebut (dikutip) orang sehubungan dengan ‘huruf-huruf misterius’ tersebut. Ada kalanya dalil ini justru diajukan setelah yang bersangkutan memaparkan berbagai penafsiran.
Secara umum, para penafsir juga menyebut huruf-huruf itu sebagai al-hurûful-muqattha’ah (الحروف المقطّعة), alias huruf-huruf singkatan.
Karena dianggap sebagai huruf-huruf singkatan, maka otomatis ada sejumlah penafsir yang mencari-cari kepanjangannya.
Muncullah, antara lain, nama Ibnu ‘Abbas sebagai narasumber yang menyebutkan kepanjangan dari huruf-huruf itu. Al-Qurthubi, misalnya, mengutip Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa alif dari alif-lãm-mïm adalah kependekan dari Allah, lãm dari Jibril, dan mïm  dari Muhammad.
Kata Al-Qurthubi pula, entah dari narasumber siapa, alif adalah huruf  awal (miftãhun) nama Allah, lãm dari Lathïf (halus; lembut), dan mïm dari Majïd (mulia).
Masih dalam kutipan Al-Qurthubi, ada yang mengatakan bahwa alif-lãm-mïm adalah singkatan dari Ana AlLahu a’laM (Aku, Allah, paling tahu), dan alif-lãm-rã singkatan dari Ana AlLahu aRã (Aku, Allah, melihat). Anehnya, alif-lãm-shãd dikatakan sebagai kependekan dari Ana AlLahu afDhalu (Aku, Allah, paling mulia). Yang terakhir ini, bila tak ada salah ketik pada teks yang saya baca, sungguh ajaib, karena huruf shãd tiba-tiba berubah menjadi dhãd.
Karena begitu banyak versi yang dimunculkan sebagai kepanjangan dari “huruf-huruf singkatan” itu, semua akhirnya jatuh menjadi bernilai spekulatif belaka.
Tentu saja spekulasi demikian itu tidak akan berhasil memuaskan siapa pun (termasuk penafsirnya).

Isyarat dari Al-Qurãn
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsirnya yang amat terkenal, The Holy Qur’an, yang pernah diterjemahkan sedikitnya oleh tiga orang Indonesia (terakhir oleh Ali Audah), agaknya hanya seorang dari sedikit orang yang mengungkap penjelasan yang diisyaratkan oleh Al-Qurãn. Kata Abdullah Yusuf Ali (dalam terjemaan Ali Audah):
Secara logis harus kita perhatikan adanya faktor umum dalam Surah-surah yang didahului awalan-awalan huruf yang sama, dan faktor ini harus dibedakan dengan Surah-surah yang memakai awalan-awalan yang lain. Dalam segala hal, bila terdapat huruf-huruf singkatan, di situ ada beberapa sebutan Qur’an atau Kitab. …”
Sayangnya, penafsir yang konon pengikut Ahmadiyah ini tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa ciri-ciri tersebut bisa muncul.
Di atas sudah penulis sebutkan bahwa karena tidak terpahami secara bahasa. Menjelmalah huruf-huruf itu menjadi huruf-huruf misterius sepanjang masa. Tapi, benarkah tinjauan bahasa dalam hal ini sudah samasekali ‘mentok’ alias buntu?
Tinjauan bahasa secara verbal (bunyi yang bersifat kata) memang tidak atau kurang membantu.
Tapi, coba diingat kembali bahwa Al-Qurãn adalah sebuah ilmu, dan ilmu itu diajarkan melalui alat bernama bahasa.
Bahasa adalah sebuah alat yang tersusun dari sejumlah lambang. Bila diucapkan (menjadi bahasa lisan), lambang itu berbentuk bunyi. Bila ditulis (menjadi bahasa tulis), bentuk lambang itu adalah huruf.
Al-Qurãn sendiri, sebagai wahyu, datang kepada Nabi Muhammad dalam bentuk bunyi, bukan huruf. Dan, ternyata, di antara bunyi-bunyi yang disampaikan Jibril kepada Nabi Muhammad itu, ada sejumlah bunyi yang ketika ditulis muncul menjadi huruf-huruf, antara lain, alif-lãm-mïm.
Apa artinya?
Karena huruf-huruf itu tidak mewakili bunyi apa pun yang kita kenal sebagai kata, maka huruf-huruf itu memang bukan kata. Karena itu, memperlakukannya sebagai kata adalah keliru. Begitu juga ketika dicoba menempatkannya sebagai huruf-huruf singkatan, tanpa petunjuk Allah dan RasulNya, kita jadi cenderung main tebak-tebakan.
Satu sisi yang belum disentuh adalah proporsi huruf-huruf itu dalam bahasa maupun ilmu.
Huruf pada hakikatnya adalah bagian terkecil dari bahasa, dan kerena itu pula – karena ilmu disampaikan melalui bahasa – maka huruf juga merupakan bagian terkecil dari ilmu. Dengan demikian, apa tidak mungkin bila huruf-huruf ‘misterius’ itu adalah lambang bahasa sekaligus ilmu (yakni Al-Qurãn)?
Lantas, bila memang merupakan lambang bahasa dan ilmu, mengapa pula lambang itu tidak hanya satu? Mengapa setelah alif-lãm-mïm harus ada alif-lãm-rã, alif-lãm-shãd, dan lain-lain?
Jawabannya bukan alif-lãm-mïm, alif-lãm-rã, alif-lãm-shãd yang menjadi lambang, tapi semua huruf adalah lambang, yaitu lambang bahasa sekaligus lambang ilmu. Hanya ‘kebetulan’ dalam Al-Qurãn yang ditampilkan adalah huruf-huruf tersebut. .

Isyarat hadis
Bila kita rujuk sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah, kita dapati keterangan bawa wahyu memang tidak seluruhnya hadir dalam bentuk kata-kata, tapi  ada juga yang seperti suara lonceng. Selengkapnya, simaklah hadis riwayat Al-Bukhari ini:
Abdullah bin yusuf bercerita kepada kami; katanya, kami mendapat kabar dari Malik yang mendengar Hisyãm bin ‘Urwah bercerita bahwa ayahnya mendengar dari Aisyah, Ummul-Mu’minïn, r.a. bahwa Harïts bin Hisyãm, r.a. bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada Anda?” Maka Rasulullah menjawab, “Kadang-kadang ia datang kepadaku seperti dentingan lonceng, dan itulah cara yang paling berat bagiku. Setelah itu, ia (Jibril) pergi, yaitu setelah aku memahami apa yang dikatakannya. Kadang-kadang Sang Malaikat muncul di hadapanku sebagai seorang lelaki, lalu ia mengajariku (wahyu), sampai aku memahami apa yang ia katakan.” (Lalu) kata Aisyah, r.a., “Aku sendiri pernah melihat wahyu datang kepada beliau pada hari yang sangat dingin. Ketika  ia (Jibril) pergi meninggalkan beliau, sungguh, dahi beliau mengucurkan keringat.”
Hadis ini jelas memaparkan cara penurunan wahyu, yang ternyata tidak seluruhnya berupa rangkaian bunyi bermakna (kata-kata), tapi ada juga yang seperti suara lonceng (tidak benar-benar sama dengan suara lonceng!). Apa tidak mungkin bila bunyi-bunyi yang seperti lonceng itulah yang akhirnya diucapkan menjadi alif-lãm-mïm dan lain-lain?
Sangat mungkin.
Lagi pula, hal itu tidak mengubah kenyataan bahwa huruf tidak terpisahkan dari bahasa dan ilmu. Juga bisa menjadi lambang ilmu.
Lebih lanjut, mari kita coba lihat ayat ini (Al-Baqarah ayat 1-2) dari sudut pandang ilmu nahwu:
Perhatikanlah bahwa alif-lãm-mïm – yang merupakan ayat pertama itu – ternyata dihubungkan oleh kata penunjuk dzãlika dengan kata al-kitãbu.
Dengan demikian, terjemahan lugu dari kalimat ini adalah “alif-lãm-mïm itulah kitab (atau alif-lãm-mïm = al-kitãb). Tegasnya, tak ada ‘arti’ lain dari alif-lãm-mïm, selain al-kitãb (yaitu Al-Qurãn).
Ternyata, susunan inilah - alif-lãm-mïm dzãlikal-kitãbu – yang selanjutnya bisa menjadi rumus untuk memahami surat-surat lain yang diawali dengan “huruf-huruf misterius” itu; karena memang setelah huruf-huruf itu selalu ada isyarat yang menghubungkannya dengan sebutan-sebutan lain dari Al-Qurãn.∆


Senin, 27 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 4 (Al-Baqarah 86-96)



86.  Merekalah orang-orang yang telah membarter kehidupan dunia (remeh) dengan akhirat (agung). Sehingga azab mereka tak akan bisa diringankan. Yakni tak akan bisa ditolong dengan apa pun (dan siapa pun).
87. Sungguh telah Kami datangkan kepada Musa Al-Kitab, kemudian Kami susulkan setelahnya dengan para rasul lain, antara lain Kami datangkan Isa Ibnu Maryam dengan membawa Al-Bayyinat, yakni Kami kuatkan dia dengan Ruhul-Qudus. (Tapi semua kalian tolak). Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul yang tidak sesuai selera kalian lantas kalian bersikap takabur, sehingga sebagin dari mereka kalian sangkal dan sebaian lainnya kalian bunuh?
88. Mereka mengatakan, “Hati kami tertutup!”[1]  (Camkan, Muhammad!) Bahkan lebih dari itu! Allah telah melaknat mereka karena kekafiran mereka, sehingga hanya sedikit di antara mereka yang mau beriman.
89.  Apalagi ketika datang kepada mereka sebuah Kitab dari Allah (melallui Muhammad) sebagai penguat terhadap apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenanangan atas kaum kafir, tapi setelah datang kepada mereka apa yang sudah mereka kenal,[2] maka mereka pun mengkafirinya. Maka (pantas) laknat Allah menimpa orang-orang kafir itu.
90. Jelek sekali cara mereka mengorbankan diri (untuk neraka) demi menolak apa yang diajarkan Allah, semata-mata demi pembangkangan karena mereka kesal Allah memberikan karuniaNya melalui orang yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.[3] Dengan demikian, mereka menderita (akibat) kemurkaan demi kemurkaan. Yakni memang selayaknyalah orang-orang kafir menanggung azab yang menghinakan.
91. Yaitu ketika diperintahkan kepadfa meereka, “Berimanlah dengan yang Dia ajarkan (kepada Muhammad ini)!” (Mereka menjawab), “Kami (hanya) akan beriman kepada yang diajarkan kepada kami!” Yakni mereka pasti menolak (ajaran) setelahnya, meskipun itu Kebenaran yang menguatkan apa yang ada pada mereka. Tanyakan (Muhammad), “Kalau memang begitu, mengapa kalian terus berusaha membunuh para nabi (da’i)  Allah dahulu, bila kalian beriman (mengikuti mereka)?
92. Bahkan telah dihadirkan kepada kalian Musa dengan Al-Bayyinãt (Taurat; ajaran yang gamblang tak terbantahkan), (tapi) kemudian kalian menganut model kehidupan saling peras dengan mengabaikan itu, yakni kalian malah berbuat zhalim.
93. Karena sikap demikian itu, Kami cabut perjanjian dengan kalian, yang berdampak seolah-olah Kami menindihkan Bukit Thur dalam kehidupan kalian (sangat berat). (Kami ingatkan lagi), “Genggamlah apa yang Kami sampaikan kepada kalian dengan sekuat daya! Yakni simaklah (dengan benar). (Kalian malah mengejek), “Kami dulu telah menyimaknya, kemudian kami mencampakkannya!” Demikianlah jiwa mereka telah dicekoki model kehidupan ‘anak sapi’ (cenderung menghisap) yang menjiwai kekafiran mereka. “Alangkah jeleknya (pengaruh) yang mendorong kalian untuk membentuk iman kalian; bila kalian orang-orang yang memahami iman!
94. Tanyakan kepada mereka, “Bila (konsep) kehidupan mutakhir menurut Allah telah kalian jalankan dengan tulus, tidak oleh orang lain, maka jadilah kalian pejuang-pejuang yang berani mati; bila kalian jujur.
95. Sayang, mereka tak akan pernah berani mati selamanya. Karena tangan-tangan mereka dari dulu (membuat kerusakan). Demikian Allah tahu persis (dan memberi tahu, melalui Al-Qurãn ini) perilaku orang-orang zalim.
96. Sebaliknya kamu (Muhammad) sungguh bakal mendapati mereka (Yahudi) sebagai orang-orang yang paling ‘cinta hidup’.[4] Bahkan melebihi kaum musyrik (tak kenal Allah berikut ajaraNya)! Begitu cintanya mereka (pada kehidupan dunia), sampai-sampai ada yang ingin diberi umur 1000 tahun![5] Padahal (panjang umur) itu tak akan menjauhkan mereka dari azab. Karena Allah mahaawas terhadap perilaku (jahat) yang terus mereka lakuka.



[1] Ini adalah sikap berlagak jujur, tapi sebenarnya merupakan penolakan yang disertai penghinaan.
[2] Lihat S. Al-Baqarah ayat 146.
[3] Sebenarnya karunia (ajaran) Allah adalah untuk siapa saja yang mau. Tapi pemilihan rasul adalah mutlak merupakan hak istimewa Allah, sebagaimana Dia juga dulu pernah memlih Musa, salah satu rasul dari kalangan mereka (Yahudi). Lihat S. Thaha ayat 13,
[4] Dalam istilah hadis, mereka adalah orang yang cinta dunia, sekaligus takut mati.
[5] Ingat penyair kita, Khairil Anwar, yang mengatakan, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, tapi kemudian ia mati dalam usia 27 tahun.

Senin, 20 Februari 2017

Konsep Budaya Tinggi Mulia (Terjemah Percobaan Surat Al-A'la)

1.       Beredarlah kamu di bumi, menjalankan ajaran Allah, yang jelas bernilai tinggi tiada tara.
2.       Sebagaimana Dia telah mencipta alam semesta serta menata keseimbangannya;
3.       Yakni sebagaimana Dia ciptakan kepastian hukum alam, maka Dia pun mengajarkan petunjuk bagi kehidupan budaya.
4.       Selanjutnya, sebagaimana Dia menghamparkan padang rumput hijau (bagi hewan gembalaan; begitu juga Dia menghidangkan ruang dan waktu berbudaya saling asuh saling jaga).
5.       Maka perhatikanlah bahwa Dia telah rumuskan bahwa padang rumput hijau itu pasti mengering hingga warnanya menjadi coklat tua dimakan usia. (Begitu juga halnya ruang-waktu budaya; kelak tidak lagi hijau – kondusif – bagi penegakan budaya mulia).
6.       Maka, selanjutnya (setelah mengajarkan prinsip di atas itu), Kami akan bacakan (ajarkan) kepadamu (Muhammad) selengkap-lengkapnya; maka kamu janganlah mengabaikannya;
7.       Kecuali yang Allah kehendaki (agar kamu mengabaikannya); Karena Dia akan mengajarkan kepadamu segala yang kasat mata serta semua yang hanya bisa dipahami secara intelektual saja.
8.       Yakni akan Kami mudahkan pengajarannya, demi kemudahan pelaksanaannya.
9.       Maka sampaikan peringatan selagi itu berguna.
10.   Pastilah akan mengambil pelajaran setiap orang yang mengkhawatirkan masa depannya.
11.   Sebaliknya, pastilah akan mendepaknya jauh-jauh orang yang amat sakit jiwanya.
12.   Dia itulah yang senantiasa ingin mengobarkan kehidupan neraka seluas-luasnya.
13.   Sehingga orang menanggung derita seolah mati tak berkuburan dan hidup tak tentu tujuan.
14.   Sungguh telah berjaya orang yang membersihkan diri dengan ajaranNya;
15.   Yakni telah membangun kesadaran dengan ilmu pembimbingNya, dan selanjutnya hanya berharap untuk hidup dengan ajaranNya selama-lamanya.
16.   Tapi sayangnya, kehidupan dunia (status quo) selalu mencengkeram kesadaran kalian;
17.   Padahal kehidupan akhirat (alternatif hidup dengan ajaran Allah) jelas lebih baik dan abadi.
18.   Sesunguhnya hal ini juga sudah diajarkan melalui suhuf lama;
19.   Seperti, antara lain, dalam suhuf Ibrahim dan Musa.


Top of Form
Bottom of Form


Komentar
Haris Prasongko says:
Assalamalaikum ……., saya ucapkan terima kasih atas kiriman email ini ….., dan akan saya gunakan sebaik baiknya …., dan semoga ini adalah awal dari perbaikan kehidupan saya dan yang lain menuju hidup berpedoman al quran ….., wassalamualaikum …..


Komentar-komentar di Facebook:
Avraham Naji Katanya di sumber lain: “Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi”, Mungkin tanpa mengaitkan dengan perintah ” Fasabbih bihamdi robbika wastagfir”, dan pernyataan “Sabbaha lillaahi maa fissamaawaati wal ardh!” (IMHO) smile emoticon asik lah bacanya apalagi klo faham tata bahasa… hehe
September 8 at 5:17pm

Ian Csa bang, sy msh bingung dgn pengertian ahwa. mohon penjelasannya


Ahmad Husein Kata أحوى di sini berasal dari kata kerja حَوِيَ – يَحْوَى – حَوًى , yang berarti: mewadahi; berisi; mengumpulkan; bergulung dsb. Kata bendanya berarti: warna gelap, terutama merah kehitaman dan hijau kehitaman; warna dari dedaunan yang mati. Dari akar ini, dalam Al-Qurãn muncul variasinya seperti hawãyã (حوايا), dan ahwã (أحوى). Kata ahwã dalam surat ini menempati posisi sifat dari ghutsã’an, yang bisa berarti jerami, rumput tua, daun tua, dsb., yang biasanya berwarna coklat tua, atau coklat kehitaman. Tapi dalam ayat ini tentu saja kata mar’ã dan ghutsã’an ahwã adalah perumpamaan bagi ‘padang’ atau ‘ladang’ atau sarana bagi penegakan iman. Bila dikaitkan dengan hadis kullukum rã’in wa kulli rã’in mas’ûlun ‘an raiyyatihi… maka jelaslah bahwa si rã’in (penggembala; pemimpin) dan raiyyah (gembalaan; rakyat), kedua-duanya berkiprah dalam atau membutuhkan mar’ã (padang rumput). Jelasnya, karena mar’ã ini adalah isim makan/zaman, maka untuk menegakkan iman itu memang membutuhkan waktu (kesempatan) dan tempat (wilayah).
Like · Reply · 1 · Yesterday at 10:28am

Ian Csa Dalam ayat lain, gutsa-an diterjemahkan sbg sampah banjir. Dalam kamus, selain berarti jerami, gutsa-an jg bs berarti sisa2/sampah. Di situ yg bikin sy bingung. Jika mar’a sbg sarana (ruang & waktu) pedukung iman (sebenernya kekafiran jg ada di mar’a), lalu gutsa-an sebagai ungkapan apa jika dikaitkan dgn ayat lain (sy lupa dlm surat apa, nnti sy edit klo udh inget) ?
Like · Reply · Yesterday at 12:40pm

Ahmad Husein Ghutsa-an/un memang bisa berarti sampah. Secara umum, ghutsa’ adalah runtuhan, rontokan, puing dsb. Tp dlm konteks padang rumput yg bisa berubah menjadi ghutsa’an, artinya bisa jerami, dedaunan kering, dan sebagainya. Apalagi dipertegas dengan kata ahwa, tidak logis bila diartikan sampah.
Istilah mar’a (padang rumput; tempat penggembalaan) adalan kiasan (analogi) sejarah yg diambil dari alam tumbuhan.
Ibarat tumbuhan, sejarah bermula dari benih/biji, berkembang jadi tunas dan seterusnya menjadi tumbuhan sempurna. Tapi setelah mencapai usia tua, terjadilah proses degenerasi (kemunduran), yg berujung pada kematian. Daun yg semula hijau berubah jadi coklat tua (ahwa).
Sebagai ‘padang iman”, saya katakan di mar’a itu ada ra’in (penggembala, dan ada raiyyah (hewan gembalaan). Ini menggambarkan bahwa pembangunan iman berproses melalui pengasuhan, bimbingan, pengajaran, dan mungkin juga penghukuman, bila diingat kambing kadang harus dicambuk.


Ahmad Husein Di mar’a ada kekafiran? Tentu saja. Katakanlah bila yang sudah mu’min adalah para ra’in, maka otomatis para raiyyah adalah orang2 yang masih kafir, dalam arti mrk baru sedang diproses untuk menjadi mu’min yg sebenarnya.

Ahmad Husein Kata ghutsa’ juga ditemukan dlm surat Al-Mun’minun ayat 41, yang diartikan Dep-Ag sbg sampah yang dibawa banjir. Tapi ada jg yang mengartikannya “whitered leaves” (daun-daun layu), “rubbish of dead leaves” (sampah berupa daun-daun kering). Penerjemah Majlis Mujahidin malah mengartikannya buih.

Ian Csa Sip bang.. makasih atas pencerahannya.

Ajib Setya Budi Saya udah baca ini. Rasanya baca lagi baca lagi ada sesuatu yang terasa mrnggetarkan jiwa. Maturnuwun.

Ahmad Husein Al-hamdu lillah… Masih perlu dikaji ulang, Mas.



Minggu, 19 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 3 (Al-Baqarah 67- 85 )



Teguran Kepada Bani Israil 3 (Al-Baqarah 67- 85 )

67. (Menjadi peringatan juga bagi kalian ketika) Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi.” Mereka menjawab, “Kamu bercanda?” Jawab Musa, “Aku bersandar pada  Allah (dengan mematuhi ajaranNya) sehingga tidak mungkin berbuat bodoh!”
68. “(Bila benar) Minta Tuhanmu menjelaskan pada kami seperti apa sapinya?” Kata Musa, “Sesungguhnya Dia (Allah) mengatakan bahwa sapinya tidak tua dan tidak muda, tapi yang pertengahan di antaranya. (Segeralah) kalian kerjakan apa yang diperintahkan!”
69. Mereka (masih rewel) berkilah, “Minta Tuhanmu supaya menjelaskan pada kami apa warnanya?” Jawab Musa, “Dia (Allah) menjelaskan bahwa sapinya berwarna kuning tua (serta) menyenangkan orang-orang yang melihatnya.”
70. Mereka (masih ngeyel) berkilah, “Mintalah (lagi) Tuhanmu menjelaskan pada kami bagaimana sapinya? Sungguh sapi (yang telah disebutkan) itu[1] masih samar bagi kami. Bila Allah mau, bukankah seharusnya kami benar-benar menerima penjelasan gamblang?
71. Kata Musa, “Sesungguhnya Dia mengatakan bahwa sapinya adalah seekor sapi yang tidak pernah dipakai membajak dan menyiram kebun. Mulus. Tidak belang.” Mereka menjawab, “Sekarang baru anda bicara benar (jelas)!” Akhirnya mereka menyembelih sapi tersebut, setelah mereka hampir tidak melakukannya.
72. (Kalian disuruh menyembelih sapi itu) karena pada waktu itu kalian telah membunuh orang. Lalu kalian (pura-pura) saling menuduh siapa pelakunya, tapi Allah mengungkap apa yang kalian sembunyikan.
73. Maka (untuk itu) Allah perintahkan,”Pukullah (jasad korban) dengan bagian-(tubuh)-nya (sapi itu). Dengan cara itulah Allah menghidupkan “si mati” (korban pembunuhan),[2] yakni  Ia perlihatkan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian berpikir.
74. (Tapi) Selanjutnya hati kalian mengeras setelah kejadian itu, bahkan mengeras seperti batu, atau bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu pun bisa memancar sungai. Yakni dari batu yang terbelah bisa mengalir air, tapi (air itu) hanya bisa muncul dari (hati yang) takut (patuh) terhadap Allah.[3]
75. (Dengan kenyataan demikian, wahai para mu’min), apakah kalian masih berharap agar mereka beriman seperti kalian, sedangkan sekelompok mereka terus menyimak Kalam Allah (ajaran Allah),  kemudian mereka mengacak-acaknya, secara sengaja, setelah memahaminya.[4]
76. Dan bila mereka berjumpa orang-orang beriman, mereka bilang, “Kami beriman.” (Kita saudara seiman). Tapi bila sesama mereka kembali (berhimpun), (satu pihak) berkata, “Apakah kalian mengungkapkan tentang apa yang Allah telah ungkapkan kepada kalian, sehingga mereka bisa berhujah (punya argumen) sesuai (ajaran) Tuhan kalian? (Bila demikian),alangkah bodohnya kalian![5]
77. Apakah mereka tidak tahu, bahwa Allah memberi tahu (Muhammad) tentang apa yang mereka rahasiakan dan mereka iklankan?
78. Dan di dalam komplotan mereka itu ada orang-orang ‘buta huruf’ (bodoh), yang tidak tahu Kitab kecuali sebatas khayalan, yakni tidak lain mereka itu kecuali hanya mengira-ngira (sok tahu).[6] Maka celakalah orang-orang (seperti itu), yang menulis buku dengan tangan mereka sendiri, lalu berkoar, “Ini adalah ajaran Allah!” agar dengannya mereka mendapat secuil imbalan uang.
79. Celakalah mereka karena tulisan mereka. Yakni celakah mereka karena hasil karya mereka.
80. Dan mereka sesumbar, “Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali dalam beberapa hari saja!” Tanyakan kepada mereka, “Apakah kalian sudah buat perjanjian demikian dengan Allah?” (Bila demikian), maka Allah tak akan pernah mengingkari janjiNya. Atau kalian hanya mengatasnamakan Allah untuk hal yang kalian tidak tahu (berbohong).
81. Awas! Siapa pun melakukan suatu kejahatan dan mengemas kejahatannya, maka mereka adalah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.
82. Sebaliknya orang-orang beriman, yang melakukan tindakan yang tepat (sesuai ajaran Allah), mereka adalah penghuni Jannah. Mereka kekal di dalamnya.
83. Dulu Kami (Allah) rumuskan perjanjian untuk Bani Israil: Janganlan kalian mengabdi selain Allah, kemudian berbuat ihsan kepada kedua orangtua, kerabat dekat, anak yatim, kaum miskin. Dan berkata sopanlah kepada sesama manusia. Yakni tegakkan harapan untuk hidup dengan ajaran Allah (shalat), kemudian binalah kehidupan yang bersih (zakat). Kemudian kalian berbalik arah (dari perjanjian itu), kecuali sedikit dari kalian (yang patuh). Jelasnya (kebanyakan) kalian adalah para pembangkang.
84. Dan Kami (juga) merumuskan perjanjian agar kalian tidak menumpahkan darah, dan tidak mengusir bangsa sendiri dari kampung halaman sendiri. Kemudian kalian berikrar, dan bersumpah setia.
85. (Tapi) kemudian kalian semua terus membunuh sesama dan mengusir sebagian bangsa kalian dari kampung halaman mereka. Kalian tonjolkan kepada mereka dosa dan permusuhan. Dan bila mereka menjadi tawanan, kalian mintai mereka tebusan. Padahal adalah haram bagi kalian mengusir mereka. Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengkafiri sebagian lain? Maka taka ada imbalan bagi siapa yang berbuat begitu di antara kalian, kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia, dan di saat Qiyamat kalian diseret ke dalam siksa yang keras. Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian lakukan.





[1] Perhatikan bahwa di sini Yahudi menggunakan kata al-baqara, bukan al-baqaratu. Secara bahasa, ini mengisyaratkan bahwa baqaratun atau al-baqaratu tidak layak diterjemahkan sebagai sapi betina, tapi seekor sapi saja, karena yang terbayang oleh Yahudi ternyata adalah seekor sapi. Terbukti kemudian mereka mengatakan bahwa sapi itu (al-baqaru) masih samar bagi mereka. Tentu yang dimaksud al-baqaru oleh mereka adalah sapi dalam arti umum, bukan sapi jantan! Dengan kata lain, bila Musa menyebut seekor sapi khusus (baqaratun), berdasar informasi Allah, maka Yahudi membayangkan sapi secara umum (al-baqaru). Ini adalah masalah persepsi dalam berkomunikasi; karena benda yang disebut masih abstrak. Entah jujur atau tidak, Yahudi memang meminta untuk diberi penjelasan yang sangat detail.
[2][2] Ada penafsir yang mengisahkan bahwa bagian tubuh sapi itu adalah lidahnya, yang setelah dipukulkan, maka si mati pun bisa bicara, lalu menyebut siapa pembunuhnya. Cerita seperti inilah yang biasa digunakan untuk memahami ayat sebagai mu’jizat.
[3] Sindiran keras terhadap sebagian Yahudi yang cenderung keras kepala. Ini salah satu bukti mengapa mereka disebut al-hajaru (batu) pada ayat sebelum ini (ayat 60).
[4] Jadi, sebagian dari mereka, pentolan-petolan, mereka tidak pernah berhenti berusaha memahami ajaran Allah, tapi dengan tujuan agar mereka bisa merusaknya.
[5] Ayat ini menggambarkan bahwa di antara mereka ada pihak (tim) tertentu yang terus mengkaji ajaran Allah (Taurat dan Al-Qurãn), demi memahami sedalam-dalamnya. Kemudian, apa yang mereka temukan dari hasil kajian itu mereka usahakan untuk tidak diketahui para mu’min, yang mereka anggap bodoh, supaya para mu’min tidak menggunakan temuan mereka untuk menghantam mereka sendiri. Ini adalah bentuk kecongkakan lain Yahudi, yang merasa bahwa Cuma mereka yang bisa memahami ajaran Allah dengan baik.
[6] Di sini jelas bahwa istilah ummiy digunakan untuk menyebut orang-orang yang tidak mengenal Al-Kitab, kecuali sebatas sok tahu. Tapi mereka mampu menulis buku. Jadi mereka sebenarnya orang-orang pintar (intelek), hanya tak tahu Al-Kitab. Orang-orang seperti ini di kalangan muslim sekarang pun banyak. Mereka tidak mengerti Al-Qurãn, tapi mampu menulis buku-buku Islam, dengan mengandalkan berbagai sumber.

Kamis, 16 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 2 (Al-Baqarah ayat 57-66)

Ayat tentang "Sabat" dalam Kitab Keluaran. Dalam ajaran Kristen, Sabat adalah nama hari ketujuh (Sabtu), yaitu hari saat Tuhan beristirahat setelah enam hari melakukan penciptaan. Hari Sabat adalah hari Tuhan beristirahat. Karena itu manusia pun harus beristirahat pada hari itu. Dan para pelanggar Sabat adalah mereka yang tetap menangkap ikan pada hari Sabat,sehingga mereka dikutuk jadi monyet.


57. Selanjutnya Kami naungi kalian dengan (semacam) awan, lalu Kami turunkan kepada kalian manna (anugerah) dan salwã (hiburan).[1] Santaplah (kajilah)[2] segala kebaikan yang telah dianugerahkan bagi kalian. (Jika membangkang perintah ini,  hai Musa), mereka tidak menzhalimi Kami, tapi mereka telah menzhalimi diri sendiri.
58. Yakni ketika Kami perintahkan, Masuklah kalian ke “negeri ini”[3] (ajaran Allah) Kemudian makanlah darinya apa yang kalian suka,[4] yakni masukilah oleh kalian “pintu sujud” (kepatuhan), seraya kalian teriakkan “merdeka!” Maka Kami (dengan ajaran Kami) bakal memperbaiki segala kesalahan kalian. Yakni Kami pasti tambahkan (kebaikan hidup) orang-orang yang berbuat baik menurut perintah Kami (muhsin).[5]
59. Tapi selanjutnya, orang-orang zhalim mengganti perkataan (ajaran; konsep) Allah dengan konsep yang tidak pernah dikatakan (diajarkan) kepada mereka. Maka Kami turunkan kepada orang-orang zhalim itu bencana dari langit,[6] karena pelanggaran yang terus mereka lakukan.
60. (Gambaran lainnya adalah) ketika Musa hendak memberi ‘minum’ (mengajarkan Taurat) kepada kaumnya, maka Kami ajarkan (caranya), “Pukul (taklukkan) dengan tongkatmu (Taurat) orang yang paling keras (al-hajaru; pentolan mereka), maka pasti bakal terbersit 12 ‘mata air’ (para kepala suku Yahudi yang menjadi panutan masing-masing suku). Masing-masing orang sudah tahu tempat minum (guru) mereka. Makan-minumlah anugerah (ilmu) dari Allah. Jangan kalian berbuat jahat dengan menjadi para perusak (konsep Allah).[7]
61. Kemudian waktu itu kalian mengeluh, ”Hai, Musa, kami tidak tahan harus menyantap satu jenis makanan. Mintakanlah bagi kami kepada Tuhanmu, agar dia menumbuhkan apa yang biasa bumi tumbuhkan, yaitu jenis sayuran seperti timun, bawang putih, adas, dan bawang merah! Musa menghardik, “Apakah kalian Ingin menukar semua yang remeh itu dengan sesuatu yang terbaik? (Kalau begitu) ‘merangkaklah’[8] lagi kalian ke tempat seperti Mesir. Pasti bakal kalian dapatkan semua yang kalian tuntut itu. Maka kehinanaan ditimpakan kepada mereka, karena mereka ternyata terus menolak ayat-ayat Allah; bahkan mereka terus ‘membunuh’ para nabi (penda’wah) tanpa alasan.[9] Hal itu mereka lakukan, karena mereka membangkang dan mendobrak aturan.
62. (Tapi) sebenarnya mereka yang merasa Yahudi[10] dan Nasrani berikut sekte-sekte mereka, siapa pun yang telah (putar haluan) beriman dengan ajaran Allah (yang diajarkan) pada giliran akhir (Islam), kemudian mereka telah berperilaku tepat, maka  mereka berhak atas imbalan sesuai janji Pembimbing mereka. Yakni mereka tidak akan mengalami hidup yang penuh ketakutan dan duka-cita.
63. (Sedangkan bagi pembangkang) seandainya Kami mengikat perjanjian (supaya mereka patuh) dengan mengangkat bukit Thur (di atas kepala mereka, lalu Kami perintahkan melalui rasul), “Patuhilah apa yang telah Kami sampaikan kepada kalian dengan sekuat kemampuan kalian! Yakni tanamkan ke dalam kesadaran kalian apa yang terkandung di dalamnya. Mudah-mudahan kalian menjadi para pelestari (ajaran Allah).
64. Kemudian, setelah mendengar perintah itu, mereka buang muka. Padahal andai tanpa karunia (ajaran) Allah sebagai bukti kasih-sayangnya, pasti kalian menjadi orang-orang yang rugi.
65. Padahal kalian telah tahu tentang orang-orang yang melanggar “Hukum Sabat”, sehingga Kami katakana kepada mereka, “Dasar kalian monyet-monyet yang hina!”[11]
66. Selanjutnya – hal itu – Kami jadikan peringatan bagi bagi (generasi) sekarang maupun dahulu, yakni sebagai nasihat bagi para pemelihara (ajaran Allah).




[1] Manna diartikan para penafsir sebagai semcam madu, dan salwã mereka artikan burung puyuh, untuk melengkapi cerita bahwa setelah lolos dari kejaran Fir’aun, Bani Israil memasuki tanah kosong yang kadang panas, shingga Allah mengirimkan awan untuk meneduhi mereka, serta menjatuhkan makanan dari langit yang bernama al-manna dan as-salwã tersebut. Lagi-lagi ini juga menjadi perdebatan apakah itu semua benar-benar terjadi atau hanya kiasan? Istilah al-mann dan as-salwã disebut dalam Al-Quran pada tiga tempat, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 57, Al-A’raf ayat 160, dan Thaha ayat 80. Secara kata kerja, manna adalah pemberian anugerah, atau mengingatkan terhadap anugerah yang telah diberikan berdasar perjanjian. Tapi, sebagai kata benda selalu diartikan semacam madu. Sedangkan salawa sebagai kata kerja berarti menghibur. Tapi sebagai kata benda selalu diartikan sebagai burung puyuh.
[2][2] Bila yang harus disantap adalah ajaran (konsep), maka cara ‘menyantapnya” adalah dengan mengkajinya.
[3] Para penafsir memastikan sebagai Baitul-Maqdis.
[4] Dalam surat Al-Muzzammil, bunyi perintahnya, “Kajilah yang mudah bagi kalian”.
[5] Redaksi ayat ini mirip dengan susunan ayat 35, Yaitu ketika Allah menyuruh Adam memasuki al-jannah. Berdasar ini, penulis memahami bahwa al-qaryah di sini adalah sama dengan al-jannah; yakni sebuah ‘negeri’ (bentuk kehidupan) yang dibangun dengan ajaran Allah; yang untuk memasukinya harus dimulai dengan melalui ‘pintu sujud (kepatuhan). Teriakan khithah Iadalah semacam pernyataan tekad untuk bebas dari cara hidup lama yang zhalim.
[6] Di sini tidak dijelaskan bentuk bencananya.
[7] Allah memberi tahu Musa untuk mengajarkan Taurat sesuai situasi kejiwaan bangsa Yahudi. Wakti itu mereka terbagi menjadi 12 suku, yang masing-masing dipimpin kepala suku yang keras pendirian (diumpamakan seperti batu). Setelah Musa berhasil menggarap mereka, maka mereka akan menjadi seperti mata air, dan setiap anggota suku tentunya akan menganggap setiap tokoh tak ubahnya mata air tempat mereka minum (belajar Taurat).
[8] Teks aslinya “turunlah kalian” (Sama seperti pada ayat  38). Apakah Mesir, tempat semula Yahudi tinggal, ada di bawah? Tentu bukan itu maksudnya. Tapi Musa menyindir Yahudi dengan mengatakan “turunlah…”, karena dengan mengajukan permintan seperti yang mereka ratapkan, berarti mereka telah merendahkan diri sendiri. Kembali ke soal al-manna dan as-salwã , apakah keduanya berarti santapan fisik? Bila dikaitkan dengan ratapan mereka yang meminta berbagai sayuran, ya berarti keduanya adalah makanan fisik. Tapi, apakah Musa diutus untuk mengurus isi perut mereka? Jelas, Musa adalah rasulullah. Urusannya adalah masalah iman. Dengan demikian penyebutan segala macam sayuran itu adalah sebagai kiasan saja untuk menyatakan kebosanan Yahudi atas satu konsep dari Allah. Mereka ingin konsep-konsep pilihan, yang bisa mereka pilih untuk disantap sesuka hati.
[9] Di sinilah kita temukan penegasan bahwa Yahudi ternyata mengingkari ayat-ayat (ajaran) Allah. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh para nabi (juru da’wah). Apakah mereka membunuh secara fisik atau hanya membunuh secara kiasan dengan membangkang para penyampai da’wah. Mungkin saja kedua-duanya mereka lakukan!
[10] Perhatikan kada hãdũ (هادوا) di sini adalah kata kerja lampau.
[11] Ayat ini biasa dipahami sebagai kutukan  kepada orang-orang yang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka dikutuk jadi monyet! Tidak bisakah ini dipahami sebagai makian saja untuk kebandelan mereka. Adakah bukti sejarah bahwa para pelanggar Sabat itu benar-benar jadi monyet?