TERBUKA UNTUK SEMUA KRITIK

Senin, 27 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 4 (Al-Baqarah 86-96)



86.  Merekalah orang-orang yang telah membarter kehidupan dunia (remeh) dengan akhirat (agung). Sehingga azab mereka tak akan bisa diringankan. Yakni tak akan bisa ditolong dengan apa pun (dan siapa pun).
87. Sungguh telah Kami datangkan kepada Musa Al-Kitab, kemudian Kami susulkan setelahnya dengan para rasul lain, antara lain Kami datangkan Isa Ibnu Maryam dengan membawa Al-Bayyinat, yakni Kami kuatkan dia dengan Ruhul-Qudus. (Tapi semua kalian tolak). Apakah setiap datang kepada kalian seorang rasul yang tidak sesuai selera kalian lantas kalian bersikap takabur, sehingga sebagin dari mereka kalian sangkal dan sebaian lainnya kalian bunuh?
88. Mereka mengatakan, “Hati kami tertutup!”[1]  (Camkan, Muhammad!) Bahkan lebih dari itu! Allah telah melaknat mereka karena kekafiran mereka, sehingga hanya sedikit di antara mereka yang mau beriman.
89.  Apalagi ketika datang kepada mereka sebuah Kitab dari Allah (melallui Muhammad) sebagai penguat terhadap apa yang ada pada mereka, sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenanangan atas kaum kafir, tapi setelah datang kepada mereka apa yang sudah mereka kenal,[2] maka mereka pun mengkafirinya. Maka (pantas) laknat Allah menimpa orang-orang kafir itu.
90. Jelek sekali cara mereka mengorbankan diri (untuk neraka) demi menolak apa yang diajarkan Allah, semata-mata demi pembangkangan karena mereka kesal Allah memberikan karuniaNya melalui orang yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.[3] Dengan demikian, mereka menderita (akibat) kemurkaan demi kemurkaan. Yakni memang selayaknyalah orang-orang kafir menanggung azab yang menghinakan.
91. Yaitu ketika diperintahkan kepadfa meereka, “Berimanlah dengan yang Dia ajarkan (kepada Muhammad ini)!” (Mereka menjawab), “Kami (hanya) akan beriman kepada yang diajarkan kepada kami!” Yakni mereka pasti menolak (ajaran) setelahnya, meskipun itu Kebenaran yang menguatkan apa yang ada pada mereka. Tanyakan (Muhammad), “Kalau memang begitu, mengapa kalian terus berusaha membunuh para nabi (da’i)  Allah dahulu, bila kalian beriman (mengikuti mereka)?
92. Bahkan telah dihadirkan kepada kalian Musa dengan Al-Bayyinãt (Taurat; ajaran yang gamblang tak terbantahkan), (tapi) kemudian kalian menganut model kehidupan saling peras dengan mengabaikan itu, yakni kalian malah berbuat zhalim.
93. Karena sikap demikian itu, Kami cabut perjanjian dengan kalian, yang berdampak seolah-olah Kami menindihkan Bukit Thur dalam kehidupan kalian (sangat berat). (Kami ingatkan lagi), “Genggamlah apa yang Kami sampaikan kepada kalian dengan sekuat daya! Yakni simaklah (dengan benar). (Kalian malah mengejek), “Kami dulu telah menyimaknya, kemudian kami mencampakkannya!” Demikianlah jiwa mereka telah dicekoki model kehidupan ‘anak sapi’ (cenderung menghisap) yang menjiwai kekafiran mereka. “Alangkah jeleknya (pengaruh) yang mendorong kalian untuk membentuk iman kalian; bila kalian orang-orang yang memahami iman!
94. Tanyakan kepada mereka, “Bila (konsep) kehidupan mutakhir menurut Allah telah kalian jalankan dengan tulus, tidak oleh orang lain, maka jadilah kalian pejuang-pejuang yang berani mati; bila kalian jujur.
95. Sayang, mereka tak akan pernah berani mati selamanya. Karena tangan-tangan mereka dari dulu (membuat kerusakan). Demikian Allah tahu persis (dan memberi tahu, melalui Al-Qurãn ini) perilaku orang-orang zalim.
96. Sebaliknya kamu (Muhammad) sungguh bakal mendapati mereka (Yahudi) sebagai orang-orang yang paling ‘cinta hidup’.[4] Bahkan melebihi kaum musyrik (tak kenal Allah berikut ajaraNya)! Begitu cintanya mereka (pada kehidupan dunia), sampai-sampai ada yang ingin diberi umur 1000 tahun![5] Padahal (panjang umur) itu tak akan menjauhkan mereka dari azab. Karena Allah mahaawas terhadap perilaku (jahat) yang terus mereka lakuka.



[1] Ini adalah sikap berlagak jujur, tapi sebenarnya merupakan penolakan yang disertai penghinaan.
[2] Lihat S. Al-Baqarah ayat 146.
[3] Sebenarnya karunia (ajaran) Allah adalah untuk siapa saja yang mau. Tapi pemilihan rasul adalah mutlak merupakan hak istimewa Allah, sebagaimana Dia juga dulu pernah memlih Musa, salah satu rasul dari kalangan mereka (Yahudi). Lihat S. Thaha ayat 13,
[4] Dalam istilah hadis, mereka adalah orang yang cinta dunia, sekaligus takut mati.
[5] Ingat penyair kita, Khairil Anwar, yang mengatakan, “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”, tapi kemudian ia mati dalam usia 27 tahun.

Senin, 20 Februari 2017

Konsep Budaya Tinggi Mulia (Terjemah Percobaan Surat Al-A'la)

1.       Beredarlah kamu di bumi, menjalankan ajaran Allah, yang jelas bernilai tinggi tiada tara.
2.       Sebagaimana Dia telah mencipta alam semesta serta menata keseimbangannya;
3.       Yakni sebagaimana Dia ciptakan kepastian hukum alam, maka Dia pun mengajarkan petunjuk bagi kehidupan budaya.
4.       Selanjutnya, sebagaimana Dia menghamparkan padang rumput hijau (bagi hewan gembalaan; begitu juga Dia menghidangkan ruang dan waktu berbudaya saling asuh saling jaga).
5.       Maka perhatikanlah bahwa Dia telah rumuskan bahwa padang rumput hijau itu pasti mengering hingga warnanya menjadi coklat tua dimakan usia. (Begitu juga halnya ruang-waktu budaya; kelak tidak lagi hijau – kondusif – bagi penegakan budaya mulia).
6.       Maka, selanjutnya (setelah mengajarkan prinsip di atas itu), Kami akan bacakan (ajarkan) kepadamu (Muhammad) selengkap-lengkapnya; maka kamu janganlah mengabaikannya;
7.       Kecuali yang Allah kehendaki (agar kamu mengabaikannya); Karena Dia akan mengajarkan kepadamu segala yang kasat mata serta semua yang hanya bisa dipahami secara intelektual saja.
8.       Yakni akan Kami mudahkan pengajarannya, demi kemudahan pelaksanaannya.
9.       Maka sampaikan peringatan selagi itu berguna.
10.   Pastilah akan mengambil pelajaran setiap orang yang mengkhawatirkan masa depannya.
11.   Sebaliknya, pastilah akan mendepaknya jauh-jauh orang yang amat sakit jiwanya.
12.   Dia itulah yang senantiasa ingin mengobarkan kehidupan neraka seluas-luasnya.
13.   Sehingga orang menanggung derita seolah mati tak berkuburan dan hidup tak tentu tujuan.
14.   Sungguh telah berjaya orang yang membersihkan diri dengan ajaranNya;
15.   Yakni telah membangun kesadaran dengan ilmu pembimbingNya, dan selanjutnya hanya berharap untuk hidup dengan ajaranNya selama-lamanya.
16.   Tapi sayangnya, kehidupan dunia (status quo) selalu mencengkeram kesadaran kalian;
17.   Padahal kehidupan akhirat (alternatif hidup dengan ajaran Allah) jelas lebih baik dan abadi.
18.   Sesunguhnya hal ini juga sudah diajarkan melalui suhuf lama;
19.   Seperti, antara lain, dalam suhuf Ibrahim dan Musa.


Top of Form
Bottom of Form


Komentar
Haris Prasongko says:
Assalamalaikum ……., saya ucapkan terima kasih atas kiriman email ini ….., dan akan saya gunakan sebaik baiknya …., dan semoga ini adalah awal dari perbaikan kehidupan saya dan yang lain menuju hidup berpedoman al quran ….., wassalamualaikum …..


Komentar-komentar di Facebook:
Avraham Naji Katanya di sumber lain: “Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi”, Mungkin tanpa mengaitkan dengan perintah ” Fasabbih bihamdi robbika wastagfir”, dan pernyataan “Sabbaha lillaahi maa fissamaawaati wal ardh!” (IMHO) smile emoticon asik lah bacanya apalagi klo faham tata bahasa… hehe
September 8 at 5:17pm

Ian Csa bang, sy msh bingung dgn pengertian ahwa. mohon penjelasannya


Ahmad Husein Kata أحوى di sini berasal dari kata kerja حَوِيَ – يَحْوَى – حَوًى , yang berarti: mewadahi; berisi; mengumpulkan; bergulung dsb. Kata bendanya berarti: warna gelap, terutama merah kehitaman dan hijau kehitaman; warna dari dedaunan yang mati. Dari akar ini, dalam Al-Qurãn muncul variasinya seperti hawãyã (حوايا), dan ahwã (أحوى). Kata ahwã dalam surat ini menempati posisi sifat dari ghutsã’an, yang bisa berarti jerami, rumput tua, daun tua, dsb., yang biasanya berwarna coklat tua, atau coklat kehitaman. Tapi dalam ayat ini tentu saja kata mar’ã dan ghutsã’an ahwã adalah perumpamaan bagi ‘padang’ atau ‘ladang’ atau sarana bagi penegakan iman. Bila dikaitkan dengan hadis kullukum rã’in wa kulli rã’in mas’ûlun ‘an raiyyatihi… maka jelaslah bahwa si rã’in (penggembala; pemimpin) dan raiyyah (gembalaan; rakyat), kedua-duanya berkiprah dalam atau membutuhkan mar’ã (padang rumput). Jelasnya, karena mar’ã ini adalah isim makan/zaman, maka untuk menegakkan iman itu memang membutuhkan waktu (kesempatan) dan tempat (wilayah).
Like · Reply · 1 · Yesterday at 10:28am

Ian Csa Dalam ayat lain, gutsa-an diterjemahkan sbg sampah banjir. Dalam kamus, selain berarti jerami, gutsa-an jg bs berarti sisa2/sampah. Di situ yg bikin sy bingung. Jika mar’a sbg sarana (ruang & waktu) pedukung iman (sebenernya kekafiran jg ada di mar’a), lalu gutsa-an sebagai ungkapan apa jika dikaitkan dgn ayat lain (sy lupa dlm surat apa, nnti sy edit klo udh inget) ?
Like · Reply · Yesterday at 12:40pm

Ahmad Husein Ghutsa-an/un memang bisa berarti sampah. Secara umum, ghutsa’ adalah runtuhan, rontokan, puing dsb. Tp dlm konteks padang rumput yg bisa berubah menjadi ghutsa’an, artinya bisa jerami, dedaunan kering, dan sebagainya. Apalagi dipertegas dengan kata ahwa, tidak logis bila diartikan sampah.
Istilah mar’a (padang rumput; tempat penggembalaan) adalan kiasan (analogi) sejarah yg diambil dari alam tumbuhan.
Ibarat tumbuhan, sejarah bermula dari benih/biji, berkembang jadi tunas dan seterusnya menjadi tumbuhan sempurna. Tapi setelah mencapai usia tua, terjadilah proses degenerasi (kemunduran), yg berujung pada kematian. Daun yg semula hijau berubah jadi coklat tua (ahwa).
Sebagai ‘padang iman”, saya katakan di mar’a itu ada ra’in (penggembala, dan ada raiyyah (hewan gembalaan). Ini menggambarkan bahwa pembangunan iman berproses melalui pengasuhan, bimbingan, pengajaran, dan mungkin juga penghukuman, bila diingat kambing kadang harus dicambuk.


Ahmad Husein Di mar’a ada kekafiran? Tentu saja. Katakanlah bila yang sudah mu’min adalah para ra’in, maka otomatis para raiyyah adalah orang2 yang masih kafir, dalam arti mrk baru sedang diproses untuk menjadi mu’min yg sebenarnya.

Ahmad Husein Kata ghutsa’ juga ditemukan dlm surat Al-Mun’minun ayat 41, yang diartikan Dep-Ag sbg sampah yang dibawa banjir. Tapi ada jg yang mengartikannya “whitered leaves” (daun-daun layu), “rubbish of dead leaves” (sampah berupa daun-daun kering). Penerjemah Majlis Mujahidin malah mengartikannya buih.

Ian Csa Sip bang.. makasih atas pencerahannya.

Ajib Setya Budi Saya udah baca ini. Rasanya baca lagi baca lagi ada sesuatu yang terasa mrnggetarkan jiwa. Maturnuwun.

Ahmad Husein Al-hamdu lillah… Masih perlu dikaji ulang, Mas.



Minggu, 19 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 3 (Al-Baqarah 67- 85 )



Teguran Kepada Bani Israil 3 (Al-Baqarah 67- 85 )

67. (Menjadi peringatan juga bagi kalian ketika) Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi.” Mereka menjawab, “Kamu bercanda?” Jawab Musa, “Aku bersandar pada  Allah (dengan mematuhi ajaranNya) sehingga tidak mungkin berbuat bodoh!”
68. “(Bila benar) Minta Tuhanmu menjelaskan pada kami seperti apa sapinya?” Kata Musa, “Sesungguhnya Dia (Allah) mengatakan bahwa sapinya tidak tua dan tidak muda, tapi yang pertengahan di antaranya. (Segeralah) kalian kerjakan apa yang diperintahkan!”
69. Mereka (masih rewel) berkilah, “Minta Tuhanmu supaya menjelaskan pada kami apa warnanya?” Jawab Musa, “Dia (Allah) menjelaskan bahwa sapinya berwarna kuning tua (serta) menyenangkan orang-orang yang melihatnya.”
70. Mereka (masih ngeyel) berkilah, “Mintalah (lagi) Tuhanmu menjelaskan pada kami bagaimana sapinya? Sungguh sapi (yang telah disebutkan) itu[1] masih samar bagi kami. Bila Allah mau, bukankah seharusnya kami benar-benar menerima penjelasan gamblang?
71. Kata Musa, “Sesungguhnya Dia mengatakan bahwa sapinya adalah seekor sapi yang tidak pernah dipakai membajak dan menyiram kebun. Mulus. Tidak belang.” Mereka menjawab, “Sekarang baru anda bicara benar (jelas)!” Akhirnya mereka menyembelih sapi tersebut, setelah mereka hampir tidak melakukannya.
72. (Kalian disuruh menyembelih sapi itu) karena pada waktu itu kalian telah membunuh orang. Lalu kalian (pura-pura) saling menuduh siapa pelakunya, tapi Allah mengungkap apa yang kalian sembunyikan.
73. Maka (untuk itu) Allah perintahkan,”Pukullah (jasad korban) dengan bagian-(tubuh)-nya (sapi itu). Dengan cara itulah Allah menghidupkan “si mati” (korban pembunuhan),[2] yakni  Ia perlihatkan kepada kalian ayat-ayatNya agar kalian berpikir.
74. (Tapi) Selanjutnya hati kalian mengeras setelah kejadian itu, bahkan mengeras seperti batu, atau bahkan lebih keras lagi. Padahal dari batu pun bisa memancar sungai. Yakni dari batu yang terbelah bisa mengalir air, tapi (air itu) hanya bisa muncul dari (hati yang) takut (patuh) terhadap Allah.[3]
75. (Dengan kenyataan demikian, wahai para mu’min), apakah kalian masih berharap agar mereka beriman seperti kalian, sedangkan sekelompok mereka terus menyimak Kalam Allah (ajaran Allah),  kemudian mereka mengacak-acaknya, secara sengaja, setelah memahaminya.[4]
76. Dan bila mereka berjumpa orang-orang beriman, mereka bilang, “Kami beriman.” (Kita saudara seiman). Tapi bila sesama mereka kembali (berhimpun), (satu pihak) berkata, “Apakah kalian mengungkapkan tentang apa yang Allah telah ungkapkan kepada kalian, sehingga mereka bisa berhujah (punya argumen) sesuai (ajaran) Tuhan kalian? (Bila demikian),alangkah bodohnya kalian![5]
77. Apakah mereka tidak tahu, bahwa Allah memberi tahu (Muhammad) tentang apa yang mereka rahasiakan dan mereka iklankan?
78. Dan di dalam komplotan mereka itu ada orang-orang ‘buta huruf’ (bodoh), yang tidak tahu Kitab kecuali sebatas khayalan, yakni tidak lain mereka itu kecuali hanya mengira-ngira (sok tahu).[6] Maka celakalah orang-orang (seperti itu), yang menulis buku dengan tangan mereka sendiri, lalu berkoar, “Ini adalah ajaran Allah!” agar dengannya mereka mendapat secuil imbalan uang.
79. Celakalah mereka karena tulisan mereka. Yakni celakah mereka karena hasil karya mereka.
80. Dan mereka sesumbar, “Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali dalam beberapa hari saja!” Tanyakan kepada mereka, “Apakah kalian sudah buat perjanjian demikian dengan Allah?” (Bila demikian), maka Allah tak akan pernah mengingkari janjiNya. Atau kalian hanya mengatasnamakan Allah untuk hal yang kalian tidak tahu (berbohong).
81. Awas! Siapa pun melakukan suatu kejahatan dan mengemas kejahatannya, maka mereka adalah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.
82. Sebaliknya orang-orang beriman, yang melakukan tindakan yang tepat (sesuai ajaran Allah), mereka adalah penghuni Jannah. Mereka kekal di dalamnya.
83. Dulu Kami (Allah) rumuskan perjanjian untuk Bani Israil: Janganlan kalian mengabdi selain Allah, kemudian berbuat ihsan kepada kedua orangtua, kerabat dekat, anak yatim, kaum miskin. Dan berkata sopanlah kepada sesama manusia. Yakni tegakkan harapan untuk hidup dengan ajaran Allah (shalat), kemudian binalah kehidupan yang bersih (zakat). Kemudian kalian berbalik arah (dari perjanjian itu), kecuali sedikit dari kalian (yang patuh). Jelasnya (kebanyakan) kalian adalah para pembangkang.
84. Dan Kami (juga) merumuskan perjanjian agar kalian tidak menumpahkan darah, dan tidak mengusir bangsa sendiri dari kampung halaman sendiri. Kemudian kalian berikrar, dan bersumpah setia.
85. (Tapi) kemudian kalian semua terus membunuh sesama dan mengusir sebagian bangsa kalian dari kampung halaman mereka. Kalian tonjolkan kepada mereka dosa dan permusuhan. Dan bila mereka menjadi tawanan, kalian mintai mereka tebusan. Padahal adalah haram bagi kalian mengusir mereka. Apakah kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengkafiri sebagian lain? Maka taka ada imbalan bagi siapa yang berbuat begitu di antara kalian, kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia, dan di saat Qiyamat kalian diseret ke dalam siksa yang keras. Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian lakukan.





[1] Perhatikan bahwa di sini Yahudi menggunakan kata al-baqara, bukan al-baqaratu. Secara bahasa, ini mengisyaratkan bahwa baqaratun atau al-baqaratu tidak layak diterjemahkan sebagai sapi betina, tapi seekor sapi saja, karena yang terbayang oleh Yahudi ternyata adalah seekor sapi. Terbukti kemudian mereka mengatakan bahwa sapi itu (al-baqaru) masih samar bagi mereka. Tentu yang dimaksud al-baqaru oleh mereka adalah sapi dalam arti umum, bukan sapi jantan! Dengan kata lain, bila Musa menyebut seekor sapi khusus (baqaratun), berdasar informasi Allah, maka Yahudi membayangkan sapi secara umum (al-baqaru). Ini adalah masalah persepsi dalam berkomunikasi; karena benda yang disebut masih abstrak. Entah jujur atau tidak, Yahudi memang meminta untuk diberi penjelasan yang sangat detail.
[2][2] Ada penafsir yang mengisahkan bahwa bagian tubuh sapi itu adalah lidahnya, yang setelah dipukulkan, maka si mati pun bisa bicara, lalu menyebut siapa pembunuhnya. Cerita seperti inilah yang biasa digunakan untuk memahami ayat sebagai mu’jizat.
[3] Sindiran keras terhadap sebagian Yahudi yang cenderung keras kepala. Ini salah satu bukti mengapa mereka disebut al-hajaru (batu) pada ayat sebelum ini (ayat 60).
[4] Jadi, sebagian dari mereka, pentolan-petolan, mereka tidak pernah berhenti berusaha memahami ajaran Allah, tapi dengan tujuan agar mereka bisa merusaknya.
[5] Ayat ini menggambarkan bahwa di antara mereka ada pihak (tim) tertentu yang terus mengkaji ajaran Allah (Taurat dan Al-Qurãn), demi memahami sedalam-dalamnya. Kemudian, apa yang mereka temukan dari hasil kajian itu mereka usahakan untuk tidak diketahui para mu’min, yang mereka anggap bodoh, supaya para mu’min tidak menggunakan temuan mereka untuk menghantam mereka sendiri. Ini adalah bentuk kecongkakan lain Yahudi, yang merasa bahwa Cuma mereka yang bisa memahami ajaran Allah dengan baik.
[6] Di sini jelas bahwa istilah ummiy digunakan untuk menyebut orang-orang yang tidak mengenal Al-Kitab, kecuali sebatas sok tahu. Tapi mereka mampu menulis buku. Jadi mereka sebenarnya orang-orang pintar (intelek), hanya tak tahu Al-Kitab. Orang-orang seperti ini di kalangan muslim sekarang pun banyak. Mereka tidak mengerti Al-Qurãn, tapi mampu menulis buku-buku Islam, dengan mengandalkan berbagai sumber.

Kamis, 16 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 2 (Al-Baqarah ayat 57-66)

Ayat tentang "Sabat" dalam Kitab Keluaran. Dalam ajaran Kristen, Sabat adalah nama hari ketujuh (Sabtu), yaitu hari saat Tuhan beristirahat setelah enam hari melakukan penciptaan. Hari Sabat adalah hari Tuhan beristirahat. Karena itu manusia pun harus beristirahat pada hari itu. Dan para pelanggar Sabat adalah mereka yang tetap menangkap ikan pada hari Sabat,sehingga mereka dikutuk jadi monyet.


57. Selanjutnya Kami naungi kalian dengan (semacam) awan, lalu Kami turunkan kepada kalian manna (anugerah) dan salwã (hiburan).[1] Santaplah (kajilah)[2] segala kebaikan yang telah dianugerahkan bagi kalian. (Jika membangkang perintah ini,  hai Musa), mereka tidak menzhalimi Kami, tapi mereka telah menzhalimi diri sendiri.
58. Yakni ketika Kami perintahkan, Masuklah kalian ke “negeri ini”[3] (ajaran Allah) Kemudian makanlah darinya apa yang kalian suka,[4] yakni masukilah oleh kalian “pintu sujud” (kepatuhan), seraya kalian teriakkan “merdeka!” Maka Kami (dengan ajaran Kami) bakal memperbaiki segala kesalahan kalian. Yakni Kami pasti tambahkan (kebaikan hidup) orang-orang yang berbuat baik menurut perintah Kami (muhsin).[5]
59. Tapi selanjutnya, orang-orang zhalim mengganti perkataan (ajaran; konsep) Allah dengan konsep yang tidak pernah dikatakan (diajarkan) kepada mereka. Maka Kami turunkan kepada orang-orang zhalim itu bencana dari langit,[6] karena pelanggaran yang terus mereka lakukan.
60. (Gambaran lainnya adalah) ketika Musa hendak memberi ‘minum’ (mengajarkan Taurat) kepada kaumnya, maka Kami ajarkan (caranya), “Pukul (taklukkan) dengan tongkatmu (Taurat) orang yang paling keras (al-hajaru; pentolan mereka), maka pasti bakal terbersit 12 ‘mata air’ (para kepala suku Yahudi yang menjadi panutan masing-masing suku). Masing-masing orang sudah tahu tempat minum (guru) mereka. Makan-minumlah anugerah (ilmu) dari Allah. Jangan kalian berbuat jahat dengan menjadi para perusak (konsep Allah).[7]
61. Kemudian waktu itu kalian mengeluh, ”Hai, Musa, kami tidak tahan harus menyantap satu jenis makanan. Mintakanlah bagi kami kepada Tuhanmu, agar dia menumbuhkan apa yang biasa bumi tumbuhkan, yaitu jenis sayuran seperti timun, bawang putih, adas, dan bawang merah! Musa menghardik, “Apakah kalian Ingin menukar semua yang remeh itu dengan sesuatu yang terbaik? (Kalau begitu) ‘merangkaklah’[8] lagi kalian ke tempat seperti Mesir. Pasti bakal kalian dapatkan semua yang kalian tuntut itu. Maka kehinanaan ditimpakan kepada mereka, karena mereka ternyata terus menolak ayat-ayat Allah; bahkan mereka terus ‘membunuh’ para nabi (penda’wah) tanpa alasan.[9] Hal itu mereka lakukan, karena mereka membangkang dan mendobrak aturan.
62. (Tapi) sebenarnya mereka yang merasa Yahudi[10] dan Nasrani berikut sekte-sekte mereka, siapa pun yang telah (putar haluan) beriman dengan ajaran Allah (yang diajarkan) pada giliran akhir (Islam), kemudian mereka telah berperilaku tepat, maka  mereka berhak atas imbalan sesuai janji Pembimbing mereka. Yakni mereka tidak akan mengalami hidup yang penuh ketakutan dan duka-cita.
63. (Sedangkan bagi pembangkang) seandainya Kami mengikat perjanjian (supaya mereka patuh) dengan mengangkat bukit Thur (di atas kepala mereka, lalu Kami perintahkan melalui rasul), “Patuhilah apa yang telah Kami sampaikan kepada kalian dengan sekuat kemampuan kalian! Yakni tanamkan ke dalam kesadaran kalian apa yang terkandung di dalamnya. Mudah-mudahan kalian menjadi para pelestari (ajaran Allah).
64. Kemudian, setelah mendengar perintah itu, mereka buang muka. Padahal andai tanpa karunia (ajaran) Allah sebagai bukti kasih-sayangnya, pasti kalian menjadi orang-orang yang rugi.
65. Padahal kalian telah tahu tentang orang-orang yang melanggar “Hukum Sabat”, sehingga Kami katakana kepada mereka, “Dasar kalian monyet-monyet yang hina!”[11]
66. Selanjutnya – hal itu – Kami jadikan peringatan bagi bagi (generasi) sekarang maupun dahulu, yakni sebagai nasihat bagi para pemelihara (ajaran Allah).




[1] Manna diartikan para penafsir sebagai semcam madu, dan salwã mereka artikan burung puyuh, untuk melengkapi cerita bahwa setelah lolos dari kejaran Fir’aun, Bani Israil memasuki tanah kosong yang kadang panas, shingga Allah mengirimkan awan untuk meneduhi mereka, serta menjatuhkan makanan dari langit yang bernama al-manna dan as-salwã tersebut. Lagi-lagi ini juga menjadi perdebatan apakah itu semua benar-benar terjadi atau hanya kiasan? Istilah al-mann dan as-salwã disebut dalam Al-Quran pada tiga tempat, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 57, Al-A’raf ayat 160, dan Thaha ayat 80. Secara kata kerja, manna adalah pemberian anugerah, atau mengingatkan terhadap anugerah yang telah diberikan berdasar perjanjian. Tapi, sebagai kata benda selalu diartikan semacam madu. Sedangkan salawa sebagai kata kerja berarti menghibur. Tapi sebagai kata benda selalu diartikan sebagai burung puyuh.
[2][2] Bila yang harus disantap adalah ajaran (konsep), maka cara ‘menyantapnya” adalah dengan mengkajinya.
[3] Para penafsir memastikan sebagai Baitul-Maqdis.
[4] Dalam surat Al-Muzzammil, bunyi perintahnya, “Kajilah yang mudah bagi kalian”.
[5] Redaksi ayat ini mirip dengan susunan ayat 35, Yaitu ketika Allah menyuruh Adam memasuki al-jannah. Berdasar ini, penulis memahami bahwa al-qaryah di sini adalah sama dengan al-jannah; yakni sebuah ‘negeri’ (bentuk kehidupan) yang dibangun dengan ajaran Allah; yang untuk memasukinya harus dimulai dengan melalui ‘pintu sujud (kepatuhan). Teriakan khithah Iadalah semacam pernyataan tekad untuk bebas dari cara hidup lama yang zhalim.
[6] Di sini tidak dijelaskan bentuk bencananya.
[7] Allah memberi tahu Musa untuk mengajarkan Taurat sesuai situasi kejiwaan bangsa Yahudi. Wakti itu mereka terbagi menjadi 12 suku, yang masing-masing dipimpin kepala suku yang keras pendirian (diumpamakan seperti batu). Setelah Musa berhasil menggarap mereka, maka mereka akan menjadi seperti mata air, dan setiap anggota suku tentunya akan menganggap setiap tokoh tak ubahnya mata air tempat mereka minum (belajar Taurat).
[8] Teks aslinya “turunlah kalian” (Sama seperti pada ayat  38). Apakah Mesir, tempat semula Yahudi tinggal, ada di bawah? Tentu bukan itu maksudnya. Tapi Musa menyindir Yahudi dengan mengatakan “turunlah…”, karena dengan mengajukan permintan seperti yang mereka ratapkan, berarti mereka telah merendahkan diri sendiri. Kembali ke soal al-manna dan as-salwã , apakah keduanya berarti santapan fisik? Bila dikaitkan dengan ratapan mereka yang meminta berbagai sayuran, ya berarti keduanya adalah makanan fisik. Tapi, apakah Musa diutus untuk mengurus isi perut mereka? Jelas, Musa adalah rasulullah. Urusannya adalah masalah iman. Dengan demikian penyebutan segala macam sayuran itu adalah sebagai kiasan saja untuk menyatakan kebosanan Yahudi atas satu konsep dari Allah. Mereka ingin konsep-konsep pilihan, yang bisa mereka pilih untuk disantap sesuka hati.
[9] Di sinilah kita temukan penegasan bahwa Yahudi ternyata mengingkari ayat-ayat (ajaran) Allah. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh para nabi (juru da’wah). Apakah mereka membunuh secara fisik atau hanya membunuh secara kiasan dengan membangkang para penyampai da’wah. Mungkin saja kedua-duanya mereka lakukan!
[10] Perhatikan kada hãdũ (هادوا) di sini adalah kata kerja lampau.
[11] Ayat ini biasa dipahami sebagai kutukan  kepada orang-orang yang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka dikutuk jadi monyet! Tidak bisakah ini dipahami sebagai makian saja untuk kebandelan mereka. Adakah bukti sejarah bahwa para pelanggar Sabat itu benar-benar jadi monyet?

Senin, 13 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil (Al-Baqarah ayat 47-56)




Teguran Kepada Bani Israil

47. Hai, Bani Israil (Yahudi), bangunlah kesadaran (iman) berdasar ni’matku (ajaranKu), yang dengan itu Kumuliakan kalian atas segenap manusia.[1]
48. Awaslah kalian terhadap satu masa di kala orang tidak bisa saling menolong sedikit pun, dan tidak akan dipedulikan satu syafa’at (koneksi dengan seseorang), serta tidak dinilai tebusan apa pun, yakni kalian tidak bisa diselamatkan dengan apa pun (dan siapa pun).
49.Ingatlah kalian ketika Kami (Allah) menyelamatkan kalian dari bala tentara Fir’aun yang yang mendera kalian dengan penderitaan terburuk, yakni dengan membunuh anak-anak kalian dan hanya menyisakan wanita-wanita kalian. Itu semua adalah ujian bagi kalian dari Pembimbing Kalian Yang Agung.[2]
50. Lalu ketika itu (pula) Kami pecahkan laut untuk menyelatmatkan kalian seraya menggelamkan tantara Fir’aun di depan mata kalian.
51. Kemudian (setelah kalian selamat dari Fir’aun) Kami buat perjanjian (untuk pembinaan khusus?) dengan Musa selama 40 hari. Kemudian, sepeninggal Musa,  kalian terapkan (cara hidup) ‘anak sapi’ (cenderung menghisap), yakni kalian menjelma menjadi orang-orang buta ilmu (zalim).[3]
52. Kemudian Kami maafkan kalian atas perilaku demikian itu, dengan harapan semoga (selanjutnya) kalian berbuat tepat (bersyukur).
53. Yakni setelah itu, Kami datangkan (ajarkan) Al-Kitãb, yaitu Al-Furqãn (pemilah haq dan bathil) melalui Musa, agar kalian selalu menjadikannya petunjuk.
54. Pada waktu itu Musa menandaskan kepada kalian, “Hai, kaumku, kalian telah membodohi diri kalian sendiri dengan hidup saling hisap (peras). Maka (sekarang) kembalikan kalian kepada (ajaran) pencipta kalian, yakni bunuhlah nafsu kalian (kecenderungan untuk saling hisap di anta kalian). Itulah yang terbaik  menurut pencipta kalian. Sesungguhnya Dia adalah penyelenggara perbaikan hidup (taubat) yang Mahapenyayang (terhadap orang-orang beriman).[4]
55. Tapi kalian malah menyahut, “Hai, Musa! Kami tak akan pernah beriman mengikutimu, sampai kami melihat Allah secara kasat mata! Maka Dia (Allah) meledakkan halilintar di hadapan kalian.[5]
56. Kemudian (setelah mati, atau pingsan, tersambar halilintar?), Kami bangkitkan (hidupkan) kalian dari kematian, agar selanjutnya kalian mau berbuat tepat.[6]



[1][1] Ãlamin bisa berarti seluruh alam, bisa juga berarti semua manusia. Ayat ini sering disalahpahami seolah Bani Israil diciptakan sebagai bangsa yang lebih mulia dari bangsa-bangsa lain. Padahal, kemulian hanya didapat oleh orang-orang yang takwa. Ingat, inna akramakum ‘indallahi atqãkum (Al-Hujurat ayat 13).
[2] Bandingkan dengan perlakuan Myanmar terhadap muslim Rohingya.
[3] Tak peduli ilmu (ajaran Allah). Menjadi murtad.
[4] Tentang sifat rahîm Allah, ingat selalu surat Al-Azhab ayat 43.
[5] Ayat ini menjadi salah satu contoh besar kepalanya (takaburnya) Bani Israil.
[6][6] Peristiwa mereka ‘mati disambar petir’ adalah sama dengan peristiwa pembelahan laut. Kedua-duanya dijadikan perdebatan apakah itu benar-benar terjadi atau hanya kiasan? Paling mudah, tentu dengan memahaminya sebagai kejadian sebenarnya; karena bila dipahami sebagai kiasan, bagaimana uraiannya, ketika –secara kiasan- petir menyambar? Dst.

Sabtu, 11 Februari 2017

Surat Al-Baqarah ayat 38-46

38. Kami tegaskan (lagi), “Keluarlah kalian dari situ (Jannah) semua!” (kalau mau). Tapi (bila kalian menyesal), nanti pasti pasti bakal datang petunjuk dariKu. Siapa yang mengikuti petunjukKu, maka mereka tidak akan merasakan hidup yang penuh ketakutan dan duka cita.

39.Sebaliknya orang-orang kafir, yakni mereka yang melecehkan ayat-ayat Kami, merekalah para ahli (pembangun) neraka (dunia-akhirat), dan mereka menjadi para pelestarinya.
40. Hai, Bani Israil!  Sadarilah  oleh kalian ni’matKu (ajaranKU) yang telah Kukaruniakan kepada kalian, yakni tunaikanlah perjanjian kalian terhadapKu, yaitu bahwa kalian hanya akan takut (patuh) kepadaKu.
41. Yaitu berimanlah kalian dengan yang Aku turunkan – Al-Qurãn, (sebagai) pengukuh kebenaran pegangan kalian. Yakni janganlah kalian (malah) menjadi orang-orang yang kafir paling dulu. Janganlah kalian ‘tukar guling’ (barter) ayat-ayatKu dengan (konsep lain) yang murahan. Sebaliknya peliharalah sesuai perintahku.
42. Janganlah kalian ramu (konsep) yang benar dengan (konsep) yang batil, yakni kalian melebur kebenaran dalam kebatilan secara sadar (sengaja).
43. (sebaliknya) kalian tegakkanlah harapan hidup dengannya (shalat), dan tumbuhkan kehidupan bersih (zakat), yakni hidup merunduk-patuhlah kalian bersama orang-orang yang merunduk-patuh.
44. Apakah kalian akan selalu menyuruh orang lain beriman[1] sambil mengabaikan diri kalian sendiri, seraya kalian membacakan Al-Kitab? Apakah kalian tidak berotak?
45. (Seharusnya) kalian gantungkanlah harapan dengan teguh bertahan (sabar) seraya terus menghidupkan harapan untuk hidup – dengan ajaran Allah (shalat). Tapi ini memang sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
46. (yaitu) orang-orang yang bersangka baik (optimis) bahwa mereka (bisa menjadi) para pewujud (ajaran) Pembimbing mereka, selagi mereka benar-benar menjadi para perujuk kepadanya.





[1] Lihat surat Al-Baqarah ayat 177. Istilah al-birru di situ jelas ditujukan sebagai sebutan “orang beriman” (man amana). Jadi di sini al-birru tidak diterjemahkan harfiah sebagai kebajikan.

Kamis, 09 Februari 2017

Terjemahan Al-Fatihah Dan Al-Baqarah Ayat 1-38



1. Al-Fãtihah (Pendahuluan) – Ikrar dari pada ma’min
1.       Kami mengabdi, meminta pertolongan dan petunjuk hanya kepada Allah yang maharahmãn dan rahîm.[1]
2.       (Kami menyatakan) kekaguman bagi Allah, Pembimbing segenap manusia.
3.       Yang (bersifat) rahmãn – dengan mengajarkan Al-Qurãn bagi semua manusia.[2] Yang (bersifat) rahîm bagi para mu’min saja.[3]
4.       Yang menguasai ruang dan waktu Ad-Dîn.[4]
5.       Kami menyatakan bahwa hanya menurut-(ajaran)-Mu kami mengabdi, dan (dengan sendirinya) – kepada ajaranMu pula – kami bergatung (mengharap pertolongan).
6.       (Karena itulah) bimbinglah selalu kami (agar selalu berjalan) di jalan-(ajaran)-Mu yang lurus (benar menurutMu).
7.       Yakni jalan hidup (ajaran) yang telah Engkau karuniakan kepada mereka (para rasul). Bukan jalan hidup pilihan mereka yang Engkau murkai (Yahudi dan Nasrani).[5]
*Ãmîn (Ya Allah, kabulkan doa (harapan hidup) kami!

2. Al-Baqarah (Ibarat seekor sapi)

1.       Alif – lãm – mîm
2.       Itulah (Alif – lãm – mîm – sebagai lambang) Al-Kitãb (yakni Al-Qurãn), yang tidak berisikan hal-hal yang meragukan, (sehingga cocok) sebagai pedoman hidup bagi yang mau bertakwa.
3.       (Yakni) yang terus-menerus beriman (hidup berbudaya)[6] dengan Al-Ghaib(u) – yakni Al-Qurãn dalam sebagai gagasan[7] - dengan terus menegakkan harapan (shalat)[8], serta memanfaatkan segala rejeki – ilmiah dan bendawi - yang Kami anugerahkan (berdasar petunjuk Kami).[9]
4.       Mereka (para muttaqîn) adalah yang hidup (berbudaya) dengan ajaran yang diturunkan (diajarkan) kepadamu; yakni (ajaran) yang senilai dengan yang sebelummu, serta tahu pasti (yakin) dengan tujuan akhirnya (bahagia di dunia dan akhirat).[10]
5.       Mereka teguh menjalankan pedoman hidup dari pembimbing mereka (Allah), sehingga mereka menjadi para pemenang (unggul dalam budaya).
6.       Sebaliknya – jelas tegas – orang-orang kafir (menolak; menutup diri) – untuk beriman (hidup berbudaya) demikian, sama saja sikap mereka – baik apakah engkau (Muhammad) peringatkan mereka atau tidak, selamanya mereka tak akan beriman.
7.       Allah, melalui ajaranNya, telah menutup hati mereka, yakni melalui pendengaran (daya tanggap), dan penglihatan (daya wawas) – yang tidak difungsikan[11] - Allah jadikan penutup; sehingga dengan demikian mereka layak merasakan penderitaan (azab) yang berat.

‘Omong Doang’
8.       Lalu, dari sebagian manusia ada orang-orang yang mengatakan, “Kami beriman dengan (ajaran) Allah serta tujuan akhir kehidupan (menurutNya)!” Padahal mereka bukan orang yang bersikap demikian (beriman).
9.       Mereka (seperti) menipu Allah serta orang-orang beriman; padahal sebenarnya mereka hanya menipu diri sendiri.
10.   Dalam diri mereka tumbuh penyakit. Lalu Allah – dengan penawaran ajaraNya – menambah parah penyakit mereka; sehingga mereka merasakan derita (azab) yang mahapedih karena mereka terus-menerus berbohong.
11.   Bila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan (budaya) di bumi ini,” mereka membantah, “Kami adalah para penegak budaya yang sebenarnya!”
12.   Halah! Mereka adalah para perusak (budaya) sejati! Tetapi mereka tidak peduli.
13.   Apalagi bila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang yang beriman (dengan sebenarnya)!” Mereka menjawab (sinis), “Apakah kami (harus) beriman seperti orang-orang bodoh itu?” Halah, sebenarnya merekalah yang bodoh, tapi tidak tahu diri.
14.   Lalu, bila mereka berjumpa orang-orang beriman, mereka membual, “Kita adalah orang-orang beriman!” (Kita saudara seiman!). Tapi pada saat mereka bersembunyi (dari mu’min) bersama ‘setan-setan’ (dedengkot) mereka, mereka pun berkata (jujur), “Sebenarnya kami pendukung kalian. Sesungguhnya kami (di hadapan mu’min) hanyalah bermain-main (berpura-pura)!”
15.   Allah – dengan perkembangan da’wah ajaranNYa – akan mempermainkan mereka! Yakni akan memperpanjang keadaan terombang-ambing mereka dalam kesesatan.
16.   Mereka adalah orang-orang yang membarter kesesatan dengan petunjuk, sehingga tidak beruntunglah bisnis mereka; karena sebenarnya mereka bukan orang-orang berpetunjuk (berilmu).
17.   Gambaran (analogi) mereka – dalam usaha mereka menghentikan da’wah Al-Qurãn - adalah seperti orang-orang yang berusaha menyalakan api (di tengah kegelapan). Ketika api itu menerangi lingkungan sekitarnya, Allah – dengan da’wah ajaranNya yang terus berkembang – melenyapkan terang api (propaganda mereka), yakni membiarkan mereka kehilangan wawasan (kebingungan).
18.   Mereka (bgagaikan) tuli, bisu, buta; sehingga tidak lagi mempunyai rujukan (pegangan).
19.   Atau – ketika mendengar da’wah - seperti (orang-orang yang ketika) hujan turun dari langit, di waktu gelap, disertai petir dan kilat, mereka memasukan jari-jemari ke kuping supaya tidak mendengar suara petir, karena mereka takut mati. Allah tahu persis bagaimana kelakuan orang-orang kafir!
20.   Masih untung kilat itu tidak benar-benar menyambar mata (membutakan) mereka. Setiap kilat menerangi, mereka manfaatkan untuk berjalan. Tapi bila (malam) menggelapkan mereka, mereka diam terpaku. Bila saja Allah mau, pasti Dia lenyapkan kuping dan mata mereka (untuk membuat mereka tak berdaya). Sungguh Allah mampu melakukan apa saja.
21.   Wahai manusia! Mengabdilah dengan (menjalankan ajaran) Pembimbing kalian, yang telah menciptakan kalian serta menusia-manusia sebelum kalian. Mudah-mudahan kalian menjadi para pemelihara (pelestari) – konsep budaya agung.
22.   (Untuk itu) Dia telah menyediakan bagi kalian permukaan bumi seperti permadani terhampar, dan langit seperti sebuah bangunan (yang tersusun berlapis-bertingkat). Lalu Dia turunkan dari langit air (hujan), sebagan anugerah, sehingga dengannya Dia menumbuhkan buah-buahan sebagai rejeki kalian. Maka janganlah kalian merekayasa tandingan bagi Allah (dan ajaranNya), padahal kalian mengetahui (segala akibatnya yang telah diuraikan di atas).
23.   Tapi bila kalian masih meragukan salah satu (surat) yang Kami turunkan (ajarkan) melalui hamba (rasul) kami, hadirkanlah (tulislah) sebuah surat yang sama (setara). Silakan panggilah (ajaklah) para syahid (pendukung) kalian, kecuali Allah; bila kalian memang pemilik kebenaran.
24.   Bila kalian tidak bisa melakukan demikian – dan memang tak akan pernah bisa, (tapi masih ragu juga), maka lestarikanlah (kehidupan) neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia – yakni manusia yang berkepala batu (keras kepala memperahankan kebodohan). (Yakni silakan abadikan kehidupan neraka) yang ditimpakan kepada orang-orang kafir (karena kekafiran mereka!).
25.   Sebaliknya gembirakanlah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang berbuat tepat (shalih) bahwa mereka (berhak) atas semacam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai (irigasi). Setiap dianugerahkan kepada mereka semacam buah-buahan sebagai rejeki, mereka berkata, “Inilah (hasil) yang telah dianugerahkan (diwacanakan; diajarkan; dida’wahkan) kepada kami dulu secara kiasan.” Yakni di sana mereka berjumpa sejawat-sejawat bersih (tidak curang), dan di dalamnya mereka hidup selama-lamanya.
26.   Sesungguhnya Allah (melalui Al-Qurãn ini) tidak sungkan menghidangkan gambaran wacana (uraian; deskripsi) setingkat nyamuk (remeh) atau yang lebih tinggi (rumit) lagi. Bagi orang-orang beriman, maka mereka tahu itulah gambaran kebenaran dari Pembimbing mereka. Sebaliknya bagi orang-orang kafir, maka mereka menyeletuk, “Apa sih maunya Allah dengan uraian bertele-tele ini?” Pasti tersesat (bingung) – dengan uraian Al-Qurãn ini – banyak orang. Tapi pasti menyauk petunjuk banyak orang pula. Dan – sudah pasti! – tidak akan sesat – dengan Al-Qurãn ini, kecuali para penabrak pagar kebenaran (Fasiq).
27.   Yaitu orang-orang yang terus berusaha merusak Ikatan Perjanjian Allah – yakni Al-Qurãn ini – setelah perjanjian itu dimantapkan (dipastikan). Yakni mereka terus berusaha memutus ikatan –perjanjian - yang diperintahkan Allah untuk selalu mengencangkan ikatannya. Yakni mereka terus melakukan perusakan (budaya) di bumi. Mereka itulah para penyandang kerugian (kebangkrutan).
28.   Bagaimana kalian mengafiri (ajaran) Allah, padahal dahulu (dari zaman Adam) kalian mati (kutu), lalu – dengan wahyuNya – Dia menghidupan (budaya) kalian, lalu Dia mematikan (lagi) – seiring pilihan kalian. Kemudian – dengan Al-Qurãn ini – kalian diajak kembali kepada-(ajaran)-Nya?
29.   Dialah (Allah) yang telah menciptakan bagi kalian segala yang ada di bumi semua. Kemudian Dia memperseimbangkan tatanan langit, sehingga serasilah tujuh langit semua. Yakni Dia berkuasa melakukan apa saja. (Begitu pula tentu Dia mampu memberi ajaran penata kehidupan).
Kisah Adam
30.   Perhatikan oleh kalian ketika dulu Pembimbing kalian berkata kepada para malaikat,[12] “Sesungguhnya Aku akan menjadikan[13] di dunia ini seorang khalîfah. Mereka menyela, “
Apakah Engkau akan menjadikan (mengangkat) Khalîfah dari orang yang selalu membuat keruskan di bumi, bahkan selalu menumpahkan darah[14] sedangkan kami selalu giat mengagungkanMu dan berbuat hidup) bersih menurutMu? Dia (Allah) menjawab, “Aku sangat mengetahui apa yang kalian tidak tahu!”
31.   Lalu Dia (Allah) – setelah memilih manusia bernama Adam sebagai Khalîfah - mengajarkan kepada Adam Al-Asmã seutuhnya.[15] Kemudian Dia (Allah) memamerkan kepada malaikat, dan berkata, “Terangkan kepadaKu tentang Al-Asmã’ ini semua, bila kalian mengetahui kebenaran!”
32.   Mereka menjawab, “Kami hanya (mampu) berbuat menurutMu![16] Kami tidak mempunyai ilmu apa pun, kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaberilmu dan Pembuat Keputusan Yang Mahatepat (bijaksana).
33.   (Lalu) Dia (Allah) berkata kepada Adam, “Hai Adam! Terangkan kepada mereka rtincian Al-Asmã’ itu. Maka setelah Adam menerangkan tentang Al-Asmã seutuhnya, Dia (Allah) menukas, “Bukankan telah Kukatakan kepada kalian bahwa Aku menguasai rahasia jagat raya dan bumi; juga mengetahui apa yang kalian tampakkan maupun yang kalian sembunyikan?”
34.   (Maka selanjutnya, setelah para malaikat terdiam), Kami perintahkan kepada para malaikat, “Patuhlah kalian kepada Adam (sebagai khalîfah)!” Maka para malaikat patuh (ikut kebijakan Adam yang telah menerima Al-Asmã’ sebagai pedoman budaya), kecuali iblis. Dia membangkang dan takabur, yakni memastikan diri sebagai golongan kafir.[17]
35.   Selanjutnya Kami perintahkan kepada Adam, “Hai Adam! Bangunlah bersama umatmu[18] kehidupan yang tenteram, yakni Al-Jannah!  Nikmatilah sesuka hati apa pun dan di mana pun di dalamnya, tapi janganlah kalian mendekati ‘sejarah’ ini, sehingga kalian menjadi golongan zhalim!
36.   Kemudian Setan[19] ‘menjegal’ keduanya (Adam dan para pengikutnya) darinya (Al-Jannah), sehingga menjauhkan keduanya dari situasi dan kondisi yang ada di dalamnya. Karena itu Kami (Allah) menghardik, “Minggatlah kalian, untuk hidup saling bermusuhan. Di bumi ada satu pusaran kehidupan (yang menjebak kalian); yakni kesenangan (duniawi) yang terbatas waktu.
37.   Lalu (karena menyesal telah disesatkan setan) Adam berusaha menemukan kembali (menekuni lagi) kalimat-kalimat (ajaran Allah; Al-Asmã’) Pembimbingnya; dan kemudian dia kembali (merujuk) kapadanya. Sesungguhnya Dia (Allah) – dengan ajaranNya – adalah Penyelenggara Taubat Yang Mahapenyayang (kepada mu’min).
38.   Kami tegaskan (lagi), “Keluarlah kalian dari situ (Jannah) semua!” (kalau mau). Tapi (bila kalian menyesal), nanti pasti pasti bakal datang petunjuk dariKu. Siapa yang mengikuti petunjukKu, maka mereka tidak akan merasakan hidup yang penuh ketakutan dan duka cita.






[1] Lihat uraian tentang bismillah…, yang intinya menempatkan tiga kata kerja dalam Al-Fãtihah sebagai awal dari Ibismillah yang merupakan jumlah fi’liyah.
[2] Lihat surat Ar-Rahmãn ayat 2.
[3][3] Lihat surat Al-Ahzãb ayat 43.
[4] Agama – baik yang haqq – benar menurutNya, maupun yang bãthil – yakni agama-agama atau peraturan hidup apa pun yang bersifat ‘membatalkan’ atau menggagalkan atau merusak agamaNya. Semua ruang dan waktu (yaum)-nya ada dalam kekuasaan Allah.
[5] Periksa, antara lain, tafsir Jalalain.
[6] Di sini “beriman” diartikan “hidup berbudaya” atau singkatnya “berbudaya” saja, karena unsur-unsur iman, seperti kata Nabi Muhammad dalam beberapa hadis, mencakup isi kalbu, ucapan, dan perbuatan. Begitu juga unsur-unsur budaya.
[7] Al-Qurãn sebagai sebuah gagasan (ide) sudah pasti bersifat ghaib (abstrak), dalam arti hanya bisa hadir di dalam pikiran. Jadi, penulis di sini tidak memahami istililah al-ghaib(u) secara harfiah, tapi sebagai sebutan lain bagi Al-Qurãn.
[8] Shalat menurut sebuah hadis adala du’ã’ (harapan; cita-cita, dsb.). Di sini menegakkan shalat berarti menegakkan harapan/cita-cita untuk membuat Al-Qurãn sebagai al-ghaib (ide; gagasan) mewujud menjadi kenyataan. Adapun penegakan shalat ritual adalah sarana untuk melakukan pembatinan (internalisasi) Al-Qurãn ke dalam jiwa (pikiran dan perasaan).
[9] Orang bertakwa tidak mungkin hanya membelanjakan (spend out)  “sebagian” dari rejeki yang mereka terima dari Allah. Yang logis adalah mereka membelanjakan semua, atau menganggarkan semua rejeki berdasarkan aturan Allah.
[10] Dengan memahami Al-Qurãn sebagai gagasan, para muttaqin tahu pasti apa yang bakal mereka capai (wujudkan).
[11] Lihat surat Al-A’rãf ayat 179.
[12] Dalam bahasa aslinya, malaikat adalah jamak dari malak. Tapi dalam bahasa Indonesia malaikat adalah kata benda tunggal. Di sini penulis menggunakan kata malaikat dalam pemaham orang Indonesia.
[13] “akan menjadikan” adalah terjemahan dari kata jã’ilun yang sebenarnya adalah isim fã’il (kata pelaku), tapi di sini dianggap sebagai fi’il muhdari, sesuai kesepakatan para ahli nahwu bahwa isim fã’il kadang bisa dimaknai sebagai fi’il mudhari. Dan penerjemahan demikian memang lebih cocok dengan susunan (redaksi) kalimat.
[14] Fi’il mudhari yufsidu dan yasfiku di sini diartikan “selalu…”, karena pada dasarnya fi’il mudhari memang mecakup pengertian sedang, akan, dan terus menerus (selalu) bertindak atau bergerak. Lihat, misalnya, surat Yasin ayat 38. Salah satu konsekuensi (akibat) dari penerjemahan ini adalah para malaikat sudah tahu siapa yang akan dinobatkan sebagai Khalîfah; sehingga wajar bila mereka mengetahui kebiasaannya! Dengan demikian rangkaian ayat ini tidak bercerita tentang Adam sebagai manusia pertama, tapi Adam yang sudah hadir akan dinobatkan jadi khalîfah!
[15] Di sini Al-Asmã’u tidak dipahami harfiah sebagai “nama-nama” (benda), tapi sebagai sebutan bagi wahyu yang diajarkan kepada Adam.
[16] Terjemahan dari sub-hanaka,  yang sering bahkan selalu diartikan “mahasuci Engkau”. Di sini diartikan demikian dengan lasan bahwa kata sub-hanan (سلبحانا) adalah masdar dari kata kerja lampau sabaha, yang artinya berenang atau beredar, atau bergiat, beraktifitas, dsb. Jadi, sub-hanaka adalah ungkapatan dari hamba Allah, yang menegaskan bahwa mereka hanya melakukan aktirfitas hidup berdasar perintah/ajaran Allah.
[17] Iblis dinyaatkan sebagai minal kãfirîn (من الكافريىن), golongan kafir. Apakah sebelumnya ada pula yang kafir? Atau ini merupakan isyarat bahwa iblis adalah perintis membentukan golongan kafir dan kemudian menjadi pemimpin di sana? Atau ini hanya gaya bahasa Al-Qurãn untuk menegaskan betapa hinanya sikap kafir?
[18] Selama ini dikatakan Adam disuruh masuk surge bersama istirinya, Hawa, padahal di sini kata yang diterjemahkan sebagai “istri” itu adalah zauj , yang berarti “suami”, bukan zaujatun (زوجة) yang berarti “istri”. Apakah Adam yang adalah lelaki berpasangan dengan lelaki pula? Atau ada kesalahan bahasa dalam Al-Qurãn seperti kata sebagian orang? Tidak. Bila kita ingat bahwa kedudukan Adam selanjutnya adalah seorang khalifah, maka jauz (pasangan) yang dimaksud, logisnya, bukanlah pasangan biologis, lawan jenis, tapi yang dimaksud adalah pasangan dari posisi khalifah tersebut, yakni para pengikutnya.
[19] Siapa setan (), yang namanya barudisebut di sini? Dari jalan cerita terkesan bahwa setan adalah sebutan lain bagi iblis. Dari pemahaman ini timbul asumsi bahwa iblis disebut setan ketika ia giat bekerja menggoda. Dengan kata lain, ketika diam namanya iblis, ketika bekerja namanya setan!