Beberapa waktu lalu. Saya bertanya dalam hati, “Evie Tamala aja udah pake jilbab; terus kapan Rina Nose ya?”
Tak lama kemudian, Rina Nose (RN) muncul di teve dalam keadaam sudah berhijab!
Saya usap dada sambil ngucap. “al-hambu lillãh!!!”
Beberapa wakttu kemudian, saya brawsing video-video RN. Dan saya agak heran ketika dalam sebuah video digambarkan bahwa RN memelihara anjing.
Bukan saya benci anjing dan pemelharanya; tapi dalam pandangan umum, sorang muslim/muslimah “ga boleh piara anjing”. Tapi pertanyaan tak penting itu saya biarkan mengendap.
Tapi belum lagi pertanyaan itu tersimpan, beredar berita bahwa RN sudah copot jilbab!
Saya terhenyak. Ya Allah, apakah saya baru nonton sinetron Indonesia, yang umumnya tak punya kekuatan konsep dan skenario, plus buruk pemilihan aktor dan aktrisnya, juga settingnya sering ga cocok?
Inbox fesbuk saya pun dipenuhi pertanyaan: Apa pendapat Abang?
Apa ya?
Setahu saya, Islam mempunyai banyak simbol, antara lain berupa sejumlah ritus. Dan jilbab, bagi saya, adalah simbol yang paling fenomenal dan berpengaruh… Dan membuktikan betapa hebatnya peran wanita bagi Islam!
Jilbab berbeda dengan gamis dan sorban dan jenggot lelaki. Juga berbeda dengan celana cingkrang mereka!
Saya bilang sama istri dengan emosional, “Bagi Abang, tanpa wanita berjilab, Islam tak dikenal orang di dunia ini! Tak disebut. Tak dibahas orang!”
“Benar! Benar!” kata istri saya, sambil bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Saya tahu di sana ada lemari dan cermin cukup lebar. Mungkin di sana istri saya yang berjilbab sejak kecil mau berge’er ria. Haha!
Tak lama kemudian, Istri saya duduk lagi dekat saya. Saya pun meneruskan ocehan emosional saya, “Bagi Abang, jilbab adalah simbol perlawanan terhadap budaya populer, terhadap baudaya Barat yang cenderung mengeksploitasi tubuh wanita demi selera seks dan uang. Wanita muslimah,dengan jilbab mereka, tampil bukan hanya secara simbolik melakukan perlawanan, tapi juga secdara frontal bergerak di seluruh dunia, menghadapi risiko yang tidak ringan di segala bidang kehidupan. Para pelajar, pengajar, pekerja, dan lain-lain, semua berani berbenturan dengan segala bantuk kekuatan dunia yang mendukung kekuasaan nafsu birahi dan uang. Pokoknya, jilbab bukan hanya simbol tapi satu sisi kekuatan Islam itu sendiri!”
“Jadi, RN gimana?”Tanya istri saya setelah saya agak lama terdiam.
“Gimana ya? Yaa. Mungkin dia, dengan hidungnya yang pendek itu, tak mampu mengendus betapa hebatnya wanita dengan jilbabnya itu!” jawab saya seenaknya.
“Huuuuh, ga lucu!” kata istri saya.
“Emang kamu pikir si RN itu lucu?” kata saya sambil memencet hidung istri saya yang sering saya puji karena bangir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar