1.
Beredarlah kamu di bumi,
menjalankan ajaran Allah, yang jelas bernilai tinggi tiada tara.
2.
Sebagaimana Dia telah
mencipta alam semesta serta menata keseimbangannya;
3.
Yakni sebagaimana Dia
ciptakan kepastian hukum alam, maka Dia pun mengajarkan petunjuk bagi kehidupan
budaya.
4.
Selanjutnya, sebagaimana
Dia menghamparkan padang rumput hijau (bagi hewan gembalaan; begitu juga Dia
menghidangkan ruang dan waktu berbudaya saling asuh saling jaga).
5.
Maka perhatikanlah bahwa
Dia telah rumuskan bahwa padang rumput hijau itu pasti mengering hingga
warnanya menjadi coklat tua dimakan usia. (Begitu juga halnya ruang-waktu
budaya; kelak tidak lagi hijau – kondusif – bagi penegakan budaya mulia).
6.
Maka, selanjutnya (setelah
mengajarkan prinsip di atas itu), Kami akan bacakan (ajarkan) kepadamu
(Muhammad) selengkap-lengkapnya; maka kamu janganlah mengabaikannya;
7.
Kecuali yang Allah
kehendaki (agar kamu mengabaikannya); Karena Dia akan mengajarkan kepadamu
segala yang kasat mata serta semua yang hanya bisa dipahami secara intelektual
saja.
8.
Yakni akan Kami mudahkan
pengajarannya, demi kemudahan pelaksanaannya.
9.
Maka sampaikan peringatan
selagi itu berguna.
10.
Pastilah akan mengambil
pelajaran setiap orang yang mengkhawatirkan masa depannya.
11.
Sebaliknya, pastilah akan
mendepaknya jauh-jauh orang yang amat sakit jiwanya.
12.
Dia itulah yang senantiasa
ingin mengobarkan kehidupan neraka seluas-luasnya.
13.
Sehingga orang menanggung
derita seolah mati tak berkuburan dan hidup tak tentu tujuan.
14.
Sungguh telah berjaya orang
yang membersihkan diri dengan ajaranNya;
15.
Yakni telah membangun
kesadaran dengan ilmu pembimbingNya, dan selanjutnya hanya berharap untuk hidup
dengan ajaranNya selama-lamanya.
16.
Tapi sayangnya, kehidupan
dunia (status quo) selalu mencengkeram kesadaran kalian;
17.
Padahal kehidupan akhirat (alternatif
hidup dengan ajaran Allah) jelas lebih baik dan abadi.
18.
Sesunguhnya hal ini juga
sudah diajarkan melalui suhuf lama;
19.
Seperti, antara lain, dalam
suhuf Ibrahim dan Musa.
Komentar
Haris Prasongko says:
Assalamalaikum ……., saya
ucapkan terima kasih atas kiriman email ini ….., dan akan saya gunakan sebaik
baiknya …., dan semoga ini adalah awal dari perbaikan kehidupan saya dan yang
lain menuju hidup berpedoman al quran ….., wassalamualaikum …..
Komentar-komentar di
Facebook:
Avraham Naji Katanya di
sumber lain: “Sucikanlah nama tuhanmu yang maha tinggi”, Mungkin tanpa
mengaitkan dengan perintah ” Fasabbih bihamdi robbika wastagfir”, dan
pernyataan “Sabbaha lillaahi maa fissamaawaati wal ardh!” (IMHO) smile emoticon
asik lah bacanya apalagi klo faham tata bahasa… hehe
September 8 at 5:17pm
September 8 at 5:17pm
Ian Csa bang, sy msh
bingung dgn pengertian ahwa. mohon penjelasannya
Ahmad Husein Kata أحوى di sini berasal dari kata kerja حَوِيَ –
يَحْوَى – حَوًى , yang berarti: mewadahi; berisi; mengumpulkan; bergulung dsb.
Kata bendanya berarti: warna gelap, terutama merah kehitaman dan hijau
kehitaman; warna dari dedaunan yang mati. Dari akar ini, dalam Al-Qurãn muncul
variasinya seperti hawãyã (حوايا), dan ahwã (أحوى).
Kata ahwã dalam surat ini menempati posisi sifat dari ghutsã’an, yang bisa
berarti jerami, rumput tua, daun tua, dsb., yang biasanya berwarna coklat tua,
atau coklat kehitaman. Tapi dalam ayat ini tentu saja kata mar’ã dan ghutsã’an
ahwã adalah perumpamaan bagi ‘padang’ atau ‘ladang’ atau sarana bagi penegakan
iman. Bila dikaitkan dengan hadis kullukum rã’in wa kulli rã’in mas’ûlun ‘an
raiyyatihi… maka jelaslah bahwa si rã’in (penggembala; pemimpin) dan raiyyah
(gembalaan; rakyat), kedua-duanya berkiprah dalam atau membutuhkan mar’ã
(padang rumput). Jelasnya, karena mar’ã ini adalah isim makan/zaman, maka untuk
menegakkan iman itu memang membutuhkan waktu (kesempatan) dan tempat (wilayah).
Like · Reply · 1 · Yesterday at 10:28am
Like · Reply · 1 · Yesterday at 10:28am
Ian Csa Dalam ayat lain,
gutsa-an diterjemahkan sbg sampah banjir. Dalam kamus, selain berarti
jerami, gutsa-an jg bs berarti sisa2/sampah. Di situ yg bikin sy
bingung. Jika mar’a sbg sarana (ruang & waktu) pedukung iman
(sebenernya kekafiran jg ada di mar’a), lalu gutsa-an sebagai
ungkapan apa jika dikaitkan dgn ayat lain (sy lupa dlm surat apa, nnti sy edit
klo udh inget) ?
Like · Reply · Yesterday at 12:40pm
Like · Reply · Yesterday at 12:40pm
Ahmad Husein Ghutsa-an/un
memang bisa berarti sampah. Secara umum, ghutsa’ adalah runtuhan,
rontokan, puing dsb. Tp dlm konteks padang rumput yg bisa berubah menjadi ghutsa’an,
artinya bisa jerami, dedaunan kering, dan sebagainya. Apalagi dipertegas dengan
kata ahwa, tidak logis bila diartikan sampah.
Istilah mar’a (padang rumput; tempat penggembalaan) adalan kiasan (analogi) sejarah yg diambil dari alam tumbuhan.
Ibarat tumbuhan, sejarah bermula dari benih/biji, berkembang jadi tunas dan seterusnya menjadi tumbuhan sempurna. Tapi setelah mencapai usia tua, terjadilah proses degenerasi (kemunduran), yg berujung pada kematian. Daun yg semula hijau berubah jadi coklat tua (ahwa).
Sebagai ‘padang iman”, saya katakan di mar’a itu ada ra’in (penggembala, dan ada raiyyah (hewan gembalaan). Ini menggambarkan bahwa pembangunan iman berproses melalui pengasuhan, bimbingan, pengajaran, dan mungkin juga penghukuman, bila diingat kambing kadang harus dicambuk.
Istilah mar’a (padang rumput; tempat penggembalaan) adalan kiasan (analogi) sejarah yg diambil dari alam tumbuhan.
Ibarat tumbuhan, sejarah bermula dari benih/biji, berkembang jadi tunas dan seterusnya menjadi tumbuhan sempurna. Tapi setelah mencapai usia tua, terjadilah proses degenerasi (kemunduran), yg berujung pada kematian. Daun yg semula hijau berubah jadi coklat tua (ahwa).
Sebagai ‘padang iman”, saya katakan di mar’a itu ada ra’in (penggembala, dan ada raiyyah (hewan gembalaan). Ini menggambarkan bahwa pembangunan iman berproses melalui pengasuhan, bimbingan, pengajaran, dan mungkin juga penghukuman, bila diingat kambing kadang harus dicambuk.
Ahmad Husein Di mar’a
ada kekafiran? Tentu saja. Katakanlah bila yang sudah mu’min adalah para ra’in,
maka otomatis para raiyyah adalah orang2 yang masih kafir, dalam arti
mrk baru sedang diproses untuk menjadi mu’min yg sebenarnya.
Ahmad Husein Kata ghutsa’
juga ditemukan dlm surat Al-Mun’minun ayat 41, yang diartikan Dep-Ag sbg sampah
yang dibawa banjir. Tapi ada jg yang mengartikannya “whitered leaves”
(daun-daun layu), “rubbish of dead leaves” (sampah berupa daun-daun
kering). Penerjemah Majlis Mujahidin malah mengartikannya buih.
Ian Csa Sip bang..
makasih atas pencerahannya.
Ajib Setya Budi Saya
udah baca ini. Rasanya baca lagi baca lagi ada sesuatu yang terasa mrnggetarkan
jiwa. Maturnuwun.
Ahmad Husein Al-hamdu
lillah… Masih perlu dikaji ulang, Mas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar