Teguran Kepada Bani Israil 3
(Al-Baqarah 67- 85 )
67. (Menjadi peringatan juga bagi kalian ketika) Musa
berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor
sapi.” Mereka menjawab, “Kamu bercanda?” Jawab Musa, “Aku bersandar pada Allah (dengan mematuhi ajaranNya) sehingga
tidak mungkin berbuat bodoh!”
68. “(Bila benar) Minta Tuhanmu menjelaskan pada kami
seperti apa sapinya?” Kata Musa, “Sesungguhnya Dia (Allah) mengatakan bahwa
sapinya tidak tua dan tidak muda, tapi yang pertengahan di antaranya.
(Segeralah) kalian kerjakan apa yang diperintahkan!”
69. Mereka (masih rewel) berkilah, “Minta Tuhanmu supaya
menjelaskan pada kami apa warnanya?” Jawab Musa, “Dia (Allah) menjelaskan bahwa
sapinya berwarna kuning tua (serta) menyenangkan orang-orang yang melihatnya.”
70. Mereka (masih ngeyel) berkilah, “Mintalah (lagi)
Tuhanmu menjelaskan pada kami bagaimana sapinya? Sungguh sapi (yang telah
disebutkan) itu[1]
masih samar bagi kami. Bila Allah mau, bukankah seharusnya kami benar-benar
menerima penjelasan gamblang?
71. Kata Musa, “Sesungguhnya Dia mengatakan bahwa sapinya
adalah seekor sapi yang tidak pernah dipakai membajak dan menyiram kebun.
Mulus. Tidak belang.” Mereka menjawab, “Sekarang baru anda bicara benar
(jelas)!” Akhirnya mereka menyembelih sapi tersebut, setelah mereka hampir
tidak melakukannya.
72. (Kalian disuruh menyembelih sapi itu) karena pada waktu
itu kalian telah membunuh orang. Lalu kalian (pura-pura) saling menuduh siapa
pelakunya, tapi Allah mengungkap apa yang kalian sembunyikan.
73. Maka (untuk itu) Allah perintahkan,”Pukullah (jasad
korban) dengan bagian-(tubuh)-nya (sapi itu). Dengan cara itulah Allah
menghidupkan “si mati” (korban pembunuhan),[2]
yakni Ia perlihatkan kepada kalian
ayat-ayatNya agar kalian berpikir.
74. (Tapi) Selanjutnya hati kalian mengeras setelah kejadian
itu, bahkan mengeras seperti batu, atau bahkan lebih keras lagi. Padahal dari
batu pun bisa memancar sungai. Yakni dari batu yang terbelah bisa mengalir air,
tapi (air itu) hanya bisa muncul dari (hati yang) takut (patuh) terhadap Allah.[3]
75. (Dengan kenyataan demikian, wahai para mu’min), apakah
kalian masih berharap agar mereka beriman seperti kalian, sedangkan sekelompok
mereka terus menyimak Kalam Allah (ajaran Allah), kemudian mereka mengacak-acaknya, secara
sengaja, setelah memahaminya.[4]
76. Dan bila mereka berjumpa orang-orang beriman, mereka
bilang, “Kami beriman.” (Kita saudara seiman). Tapi bila sesama mereka kembali
(berhimpun), (satu pihak) berkata, “Apakah kalian mengungkapkan tentang apa
yang Allah telah ungkapkan kepada kalian, sehingga mereka bisa berhujah (punya
argumen) sesuai (ajaran) Tuhan kalian? (Bila demikian),alangkah bodohnya
kalian![5]
77. Apakah mereka tidak tahu, bahwa Allah memberi tahu
(Muhammad) tentang apa yang mereka rahasiakan dan mereka iklankan?
78. Dan di dalam komplotan mereka itu ada orang-orang ‘buta
huruf’ (bodoh), yang tidak tahu Kitab kecuali sebatas khayalan, yakni tidak
lain mereka itu kecuali hanya mengira-ngira (sok tahu).[6]
Maka celakalah orang-orang (seperti itu), yang menulis buku dengan tangan
mereka sendiri, lalu berkoar, “Ini adalah ajaran Allah!” agar dengannya mereka
mendapat secuil imbalan uang.
79. Celakalah mereka karena tulisan mereka. Yakni celakah
mereka karena hasil karya mereka.
80. Dan mereka sesumbar, “Neraka tidak akan menyentuh kami
kecuali dalam beberapa hari saja!” Tanyakan kepada mereka, “Apakah kalian sudah
buat perjanjian demikian dengan Allah?” (Bila demikian), maka Allah tak akan
pernah mengingkari janjiNya. Atau kalian hanya mengatasnamakan Allah untuk hal
yang kalian tidak tahu (berbohong).
81. Awas! Siapa pun melakukan suatu kejahatan dan mengemas
kejahatannya, maka mereka adalah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya.
82. Sebaliknya orang-orang beriman, yang melakukan tindakan
yang tepat (sesuai ajaran Allah), mereka adalah penghuni Jannah. Mereka kekal
di dalamnya.
83. Dulu Kami (Allah) rumuskan perjanjian untuk Bani Israil:
Janganlan kalian mengabdi selain Allah, kemudian berbuat ihsan kepada kedua
orangtua, kerabat dekat, anak yatim, kaum miskin. Dan berkata sopanlah kepada
sesama manusia. Yakni tegakkan harapan untuk hidup dengan ajaran Allah
(shalat), kemudian binalah kehidupan yang bersih (zakat). Kemudian kalian
berbalik arah (dari perjanjian itu), kecuali sedikit dari kalian (yang patuh).
Jelasnya (kebanyakan) kalian adalah para pembangkang.
84. Dan Kami (juga) merumuskan perjanjian agar kalian tidak
menumpahkan darah, dan tidak mengusir bangsa sendiri dari kampung halaman
sendiri. Kemudian kalian berikrar, dan bersumpah setia.
85. (Tapi) kemudian kalian semua terus membunuh sesama dan
mengusir sebagian bangsa kalian dari kampung halaman mereka. Kalian tonjolkan
kepada mereka dosa dan permusuhan. Dan bila mereka menjadi tawanan, kalian
mintai mereka tebusan. Padahal adalah haram bagi kalian mengusir mereka. Apakah
kalian mengimani sebagian Al-Kitab dan mengkafiri sebagian lain? Maka taka ada
imbalan bagi siapa yang berbuat begitu di antara kalian, kecuali kehinaan dalam
kehidupan dunia, dan di saat Qiyamat kalian diseret ke dalam siksa yang keras.
Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian lakukan.
[1]
Perhatikan bahwa di sini Yahudi menggunakan kata al-baqara, bukan al-baqaratu.
Secara bahasa, ini mengisyaratkan bahwa baqaratun atau al-baqaratu
tidak layak diterjemahkan sebagai sapi betina, tapi seekor sapi saja,
karena yang terbayang oleh Yahudi ternyata adalah seekor sapi. Terbukti
kemudian mereka mengatakan bahwa sapi itu (al-baqaru) masih samar bagi
mereka. Tentu yang dimaksud al-baqaru oleh mereka adalah sapi dalam arti
umum, bukan sapi jantan! Dengan kata lain, bila Musa menyebut seekor sapi
khusus (baqaratun), berdasar informasi Allah, maka Yahudi membayangkan
sapi secara umum (al-baqaru). Ini adalah masalah persepsi dalam berkomunikasi;
karena benda yang disebut masih abstrak. Entah jujur atau tidak, Yahudi memang
meminta untuk diberi penjelasan yang sangat detail.
[2][2]
Ada penafsir yang mengisahkan bahwa bagian tubuh sapi itu adalah lidahnya, yang
setelah dipukulkan, maka si mati pun bisa bicara, lalu menyebut siapa
pembunuhnya. Cerita seperti inilah yang biasa digunakan untuk memahami ayat
sebagai mu’jizat.
[3]
Sindiran keras terhadap sebagian Yahudi yang cenderung keras kepala. Ini salah
satu bukti mengapa mereka disebut al-hajaru (batu) pada ayat sebelum ini
(ayat 60).
[4]
Jadi, sebagian dari mereka, pentolan-petolan, mereka tidak pernah berhenti
berusaha memahami ajaran Allah, tapi dengan tujuan agar mereka bisa merusaknya.
[5]
Ayat ini menggambarkan bahwa di antara mereka ada pihak (tim) tertentu yang
terus mengkaji ajaran Allah (Taurat dan Al-Qurãn), demi memahami
sedalam-dalamnya. Kemudian, apa yang mereka temukan dari hasil kajian itu
mereka usahakan untuk tidak diketahui para mu’min, yang mereka anggap bodoh,
supaya para mu’min tidak menggunakan temuan mereka untuk menghantam mereka
sendiri. Ini adalah bentuk kecongkakan lain Yahudi, yang merasa bahwa Cuma
mereka yang bisa memahami ajaran Allah dengan baik.
[6] Di
sini jelas bahwa istilah ummiy digunakan untuk menyebut orang-orang yang
tidak mengenal Al-Kitab, kecuali sebatas sok tahu. Tapi mereka mampu menulis
buku. Jadi mereka sebenarnya orang-orang pintar (intelek), hanya tak tahu
Al-Kitab. Orang-orang seperti ini di kalangan muslim sekarang pun banyak.
Mereka tidak mengerti Al-Qurãn, tapi mampu menulis buku-buku Islam,
dengan mengandalkan berbagai sumber.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar