57. Selanjutnya Kami naungi kalian dengan (semacam) awan,
lalu Kami turunkan kepada kalian manna (anugerah) dan salwã (hiburan).[1]
Santaplah (kajilah)[2]
segala kebaikan yang telah dianugerahkan bagi kalian. (Jika membangkang
perintah ini, hai Musa), mereka tidak
menzhalimi Kami, tapi mereka telah menzhalimi diri sendiri.
58. Yakni ketika Kami perintahkan, Masuklah kalian ke “negeri ini”[3]
(ajaran Allah) Kemudian makanlah darinya apa yang kalian suka,[4]
yakni masukilah oleh kalian “pintu sujud” (kepatuhan), seraya kalian teriakkan
“merdeka!” Maka Kami (dengan ajaran Kami) bakal memperbaiki segala kesalahan
kalian. Yakni Kami pasti tambahkan (kebaikan hidup) orang-orang yang berbuat
baik menurut perintah Kami (muhsin).[5]
59. Tapi selanjutnya, orang-orang zhalim mengganti perkataan
(ajaran; konsep) Allah dengan konsep yang tidak pernah dikatakan (diajarkan)
kepada mereka. Maka Kami turunkan kepada orang-orang zhalim itu bencana dari
langit,[6]
karena pelanggaran yang terus mereka lakukan.
60. (Gambaran lainnya adalah) ketika
Musa hendak memberi ‘minum’ (mengajarkan Taurat) kepada kaumnya, maka Kami
ajarkan (caranya), “Pukul (taklukkan) dengan tongkatmu (Taurat) orang yang
paling keras (al-hajaru; pentolan mereka), maka pasti bakal terbersit 12 ‘mata
air’ (para kepala suku Yahudi yang menjadi panutan masing-masing suku).
Masing-masing orang sudah tahu tempat minum (guru) mereka. Makan-minumlah
anugerah (ilmu) dari Allah. Jangan kalian berbuat jahat dengan menjadi para
perusak (konsep Allah).[7]
61.
Kemudian waktu itu kalian mengeluh, ”Hai, Musa, kami tidak tahan harus
menyantap satu jenis makanan. Mintakanlah bagi kami kepada Tuhanmu, agar dia
menumbuhkan apa yang biasa bumi tumbuhkan, yaitu jenis sayuran seperti timun,
bawang putih, adas, dan bawang merah! Musa menghardik, “Apakah kalian Ingin
menukar semua yang remeh itu dengan sesuatu yang terbaik? (Kalau begitu)
‘merangkaklah’[8]
lagi kalian ke tempat seperti Mesir. Pasti bakal kalian dapatkan semua yang
kalian tuntut itu. Maka kehinanaan ditimpakan kepada mereka, karena mereka
ternyata terus menolak ayat-ayat Allah; bahkan mereka terus ‘membunuh’ para nabi
(penda’wah) tanpa alasan.[9]
Hal itu mereka lakukan, karena mereka membangkang dan mendobrak aturan.
62. (Tapi)
sebenarnya mereka yang merasa Yahudi[10]
dan Nasrani berikut sekte-sekte mereka, siapa pun yang telah (putar haluan)
beriman dengan ajaran Allah (yang diajarkan) pada giliran akhir (Islam),
kemudian mereka telah berperilaku tepat, maka
mereka berhak atas imbalan sesuai janji Pembimbing mereka. Yakni mereka
tidak akan mengalami hidup yang penuh ketakutan dan duka-cita.
63.
(Sedangkan bagi pembangkang) seandainya Kami mengikat perjanjian (supaya mereka
patuh) dengan mengangkat bukit Thur (di atas kepala mereka, lalu Kami
perintahkan melalui rasul), “Patuhilah apa yang telah Kami sampaikan kepada
kalian dengan sekuat kemampuan kalian! Yakni tanamkan ke dalam kesadaran kalian
apa yang terkandung di dalamnya. Mudah-mudahan kalian menjadi para pelestari
(ajaran Allah).
64.
Kemudian, setelah mendengar perintah itu, mereka buang muka. Padahal andai
tanpa karunia (ajaran) Allah sebagai bukti kasih-sayangnya, pasti kalian
menjadi orang-orang yang rugi.
65.
Padahal kalian telah tahu tentang orang-orang yang melanggar “Hukum Sabat”,
sehingga Kami katakana kepada mereka, “Dasar kalian monyet-monyet yang hina!”[11]
66.
Selanjutnya – hal itu – Kami jadikan peringatan bagi bagi (generasi) sekarang
maupun dahulu, yakni sebagai nasihat bagi para pemelihara (ajaran Allah).
[1] Manna
diartikan para penafsir sebagai semcam madu, dan salwã mereka
artikan burung puyuh, untuk melengkapi cerita bahwa setelah lolos dari kejaran
Fir’aun, Bani Israil memasuki tanah kosong yang kadang panas, shingga Allah
mengirimkan awan untuk meneduhi mereka, serta menjatuhkan makanan dari langit
yang bernama al-manna dan as-salwã tersebut. Lagi-lagi ini
juga menjadi perdebatan apakah itu semua benar-benar terjadi atau hanya kiasan?
Istilah al-mann dan as-salwã disebut dalam Al-Quran pada tiga tempat,
yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 57, Al-A’raf ayat 160, dan Thaha ayat 80.
Secara kata kerja, manna adalah pemberian anugerah, atau mengingatkan
terhadap anugerah yang telah diberikan berdasar perjanjian. Tapi, sebagai kata
benda selalu diartikan semacam madu. Sedangkan salawa sebagai kata kerja
berarti menghibur. Tapi sebagai kata benda selalu diartikan sebagai burung
puyuh.
[2][2]
Bila yang harus disantap adalah ajaran (konsep), maka cara ‘menyantapnya”
adalah dengan mengkajinya.
[3]
Para penafsir memastikan sebagai Baitul-Maqdis.
[4]
Dalam surat Al-Muzzammil, bunyi perintahnya, “Kajilah yang mudah bagi kalian”.
[5]
Redaksi ayat ini mirip dengan susunan ayat 35, Yaitu ketika Allah menyuruh Adam
memasuki al-jannah. Berdasar ini, penulis memahami bahwa al-qaryah di
sini adalah sama dengan al-jannah; yakni sebuah ‘negeri’ (bentuk
kehidupan) yang dibangun dengan ajaran Allah; yang untuk memasukinya harus
dimulai dengan melalui ‘pintu sujud (kepatuhan). Teriakan khithah Iadalah semacam
pernyataan tekad untuk bebas dari cara hidup lama yang zhalim.
[6] Di
sini tidak dijelaskan bentuk bencananya.
[7]
Allah memberi tahu Musa untuk mengajarkan Taurat sesuai situasi kejiwaan bangsa
Yahudi. Wakti itu mereka terbagi menjadi 12 suku, yang masing-masing dipimpin
kepala suku yang keras pendirian (diumpamakan seperti batu). Setelah Musa
berhasil menggarap mereka, maka mereka akan menjadi seperti mata air, dan
setiap anggota suku tentunya akan menganggap setiap tokoh tak ubahnya mata air
tempat mereka minum (belajar Taurat).
[8]
Teks aslinya “turunlah kalian” (Sama seperti pada ayat 38). Apakah Mesir, tempat semula Yahudi
tinggal, ada di bawah? Tentu bukan itu maksudnya. Tapi Musa menyindir Yahudi
dengan mengatakan “turunlah…”, karena dengan mengajukan permintan seperti yang
mereka ratapkan, berarti mereka telah merendahkan diri sendiri. Kembali ke soal
al-manna dan as-salwã , apakah keduanya berarti
santapan fisik? Bila dikaitkan dengan ratapan mereka yang meminta berbagai
sayuran, ya berarti keduanya adalah makanan fisik. Tapi, apakah Musa diutus
untuk mengurus isi perut mereka? Jelas, Musa adalah rasulullah. Urusannya
adalah masalah iman. Dengan demikian penyebutan segala macam sayuran itu adalah
sebagai kiasan saja untuk menyatakan kebosanan Yahudi atas satu konsep dari
Allah. Mereka ingin konsep-konsep pilihan, yang bisa mereka pilih untuk
disantap sesuka hati.
[9] Di
sinilah kita temukan penegasan bahwa Yahudi ternyata mengingkari ayat-ayat
(ajaran) Allah. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh para nabi (juru
da’wah). Apakah mereka membunuh secara fisik atau hanya membunuh secara kiasan
dengan membangkang para penyampai da’wah. Mungkin saja kedua-duanya mereka
lakukan!
[11]
Ayat ini biasa dipahami sebagai kutukan
kepada orang-orang yang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka dikutuk
jadi monyet! Tidak bisakah ini dipahami sebagai makian saja untuk kebandelan
mereka. Adakah bukti sejarah bahwa para pelanggar Sabat itu benar-benar jadi
monyet?

Assalamualaikum,
BalasHapusFootnote nya tertulis double ya Bang...
Sudah dikoreksi. Terimakasih atas ketelitian anda.
Hapus