TERBUKA UNTUK SEMUA KRITIK

Senin, 13 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil (Al-Baqarah ayat 47-56)




Teguran Kepada Bani Israil

47. Hai, Bani Israil (Yahudi), bangunlah kesadaran (iman) berdasar ni’matku (ajaranKu), yang dengan itu Kumuliakan kalian atas segenap manusia.[1]
48. Awaslah kalian terhadap satu masa di kala orang tidak bisa saling menolong sedikit pun, dan tidak akan dipedulikan satu syafa’at (koneksi dengan seseorang), serta tidak dinilai tebusan apa pun, yakni kalian tidak bisa diselamatkan dengan apa pun (dan siapa pun).
49.Ingatlah kalian ketika Kami (Allah) menyelamatkan kalian dari bala tentara Fir’aun yang yang mendera kalian dengan penderitaan terburuk, yakni dengan membunuh anak-anak kalian dan hanya menyisakan wanita-wanita kalian. Itu semua adalah ujian bagi kalian dari Pembimbing Kalian Yang Agung.[2]
50. Lalu ketika itu (pula) Kami pecahkan laut untuk menyelatmatkan kalian seraya menggelamkan tantara Fir’aun di depan mata kalian.
51. Kemudian (setelah kalian selamat dari Fir’aun) Kami buat perjanjian (untuk pembinaan khusus?) dengan Musa selama 40 hari. Kemudian, sepeninggal Musa,  kalian terapkan (cara hidup) ‘anak sapi’ (cenderung menghisap), yakni kalian menjelma menjadi orang-orang buta ilmu (zalim).[3]
52. Kemudian Kami maafkan kalian atas perilaku demikian itu, dengan harapan semoga (selanjutnya) kalian berbuat tepat (bersyukur).
53. Yakni setelah itu, Kami datangkan (ajarkan) Al-Kitãb, yaitu Al-Furqãn (pemilah haq dan bathil) melalui Musa, agar kalian selalu menjadikannya petunjuk.
54. Pada waktu itu Musa menandaskan kepada kalian, “Hai, kaumku, kalian telah membodohi diri kalian sendiri dengan hidup saling hisap (peras). Maka (sekarang) kembalikan kalian kepada (ajaran) pencipta kalian, yakni bunuhlah nafsu kalian (kecenderungan untuk saling hisap di anta kalian). Itulah yang terbaik  menurut pencipta kalian. Sesungguhnya Dia adalah penyelenggara perbaikan hidup (taubat) yang Mahapenyayang (terhadap orang-orang beriman).[4]
55. Tapi kalian malah menyahut, “Hai, Musa! Kami tak akan pernah beriman mengikutimu, sampai kami melihat Allah secara kasat mata! Maka Dia (Allah) meledakkan halilintar di hadapan kalian.[5]
56. Kemudian (setelah mati, atau pingsan, tersambar halilintar?), Kami bangkitkan (hidupkan) kalian dari kematian, agar selanjutnya kalian mau berbuat tepat.[6]



[1][1] Ãlamin bisa berarti seluruh alam, bisa juga berarti semua manusia. Ayat ini sering disalahpahami seolah Bani Israil diciptakan sebagai bangsa yang lebih mulia dari bangsa-bangsa lain. Padahal, kemulian hanya didapat oleh orang-orang yang takwa. Ingat, inna akramakum ‘indallahi atqãkum (Al-Hujurat ayat 13).
[2] Bandingkan dengan perlakuan Myanmar terhadap muslim Rohingya.
[3] Tak peduli ilmu (ajaran Allah). Menjadi murtad.
[4] Tentang sifat rahîm Allah, ingat selalu surat Al-Azhab ayat 43.
[5] Ayat ini menjadi salah satu contoh besar kepalanya (takaburnya) Bani Israil.
[6][6] Peristiwa mereka ‘mati disambar petir’ adalah sama dengan peristiwa pembelahan laut. Kedua-duanya dijadikan perdebatan apakah itu benar-benar terjadi atau hanya kiasan? Paling mudah, tentu dengan memahaminya sebagai kejadian sebenarnya; karena bila dipahami sebagai kiasan, bagaimana uraiannya, ketika –secara kiasan- petir menyambar? Dst.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar