Teguran Kepada Bani Israil
47. Hai, Bani Israil (Yahudi), bangunlah kesadaran (iman)
berdasar ni’matku (ajaranKu), yang dengan itu Kumuliakan kalian atas
segenap manusia.[1]
48. Awaslah kalian terhadap satu masa di kala orang tidak
bisa saling menolong sedikit pun, dan tidak akan dipedulikan satu syafa’at (koneksi
dengan seseorang), serta tidak dinilai tebusan apa pun, yakni kalian tidak bisa
diselamatkan dengan apa pun (dan siapa pun).
49.Ingatlah kalian ketika Kami (Allah) menyelamatkan kalian
dari bala tentara Fir’aun yang yang mendera kalian dengan penderitaan terburuk,
yakni dengan membunuh anak-anak kalian dan hanya menyisakan wanita-wanita
kalian. Itu semua adalah ujian bagi kalian dari Pembimbing Kalian Yang Agung.[2]
50. Lalu ketika itu (pula) Kami pecahkan laut untuk menyelatmatkan
kalian seraya menggelamkan tantara Fir’aun di depan mata kalian.
51. Kemudian (setelah kalian selamat dari Fir’aun) Kami buat
perjanjian (untuk pembinaan khusus?) dengan Musa selama 40 hari. Kemudian,
sepeninggal Musa, kalian terapkan (cara
hidup) ‘anak sapi’ (cenderung menghisap), yakni kalian menjelma menjadi
orang-orang buta ilmu (zalim).[3]
52. Kemudian Kami maafkan kalian atas perilaku demikian itu,
dengan harapan semoga (selanjutnya) kalian berbuat tepat (bersyukur).
53. Yakni setelah itu, Kami datangkan (ajarkan) Al-Kitãb,
yaitu Al-Furqãn (pemilah haq dan bathil) melalui Musa, agar kalian
selalu menjadikannya petunjuk.
54. Pada waktu itu Musa menandaskan kepada kalian, “Hai,
kaumku, kalian telah membodohi diri kalian sendiri dengan hidup saling hisap
(peras). Maka (sekarang) kembalikan kalian kepada (ajaran) pencipta kalian,
yakni bunuhlah nafsu kalian (kecenderungan untuk saling hisap di anta kalian).
Itulah yang terbaik menurut pencipta
kalian. Sesungguhnya Dia adalah penyelenggara perbaikan hidup (taubat) yang
Mahapenyayang (terhadap orang-orang beriman).[4]
55. Tapi kalian malah menyahut, “Hai, Musa! Kami tak akan
pernah beriman mengikutimu, sampai kami melihat Allah secara kasat mata! Maka
Dia (Allah) meledakkan halilintar di hadapan kalian.[5]
56. Kemudian (setelah mati, atau pingsan, tersambar
halilintar?), Kami bangkitkan (hidupkan) kalian dari kematian, agar selanjutnya
kalian mau berbuat tepat.[6]
[1][1]
Ãlamin
bisa berarti seluruh alam, bisa juga berarti semua manusia. Ayat ini sering
disalahpahami seolah Bani Israil diciptakan sebagai bangsa yang lebih mulia
dari bangsa-bangsa lain. Padahal, kemulian hanya didapat oleh orang-orang yang
takwa. Ingat, inna akramakum ‘indallahi atqãkum (Al-Hujurat ayat 13).
[2]
Bandingkan dengan perlakuan Myanmar terhadap muslim Rohingya.
[3]
Tak peduli ilmu (ajaran Allah). Menjadi murtad.
[4]
Tentang sifat rahîm Allah, ingat selalu surat
Al-Azhab ayat 43.
[5]
Ayat ini menjadi salah satu contoh besar kepalanya (takaburnya) Bani Israil.
[6][6]
Peristiwa mereka ‘mati disambar petir’ adalah sama dengan peristiwa pembelahan
laut. Kedua-duanya dijadikan perdebatan apakah itu benar-benar terjadi atau
hanya kiasan? Paling mudah, tentu dengan memahaminya sebagai kejadian
sebenarnya; karena bila dipahami sebagai kiasan, bagaimana uraiannya, ketika
–secara kiasan- petir menyambar? Dst.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar