TERBUKA UNTUK SEMUA KRITIK

Rabu, 01 Februari 2017

Tentang bismilãhirrahmãnirrahîm(i)



Para ahli nahwu (grammar), sepakat mengakui bahwa bismilãhirrahmãnirrahîm adalah kalimat tidak lengkap (terpotong). Umumnya mereka menganggap (sepakat atau ikut-ikutan penafsir masa lalu), bahwa (selengkapnya) bismilãhirrahmãnirrahîm adalah jumlah ismiyah (kalimat kata benda) tanpa mutada  مبتدأ – pokok kalimat. Dengan demikian – mereka beranggapan – bahwa bismilãhirrahmãnirrahîm adalah khabar  (خبر) – keterangan; predikat. Dan menurut mereka kemudian, pokok kalimat yang hilang (tidak diucap dan tidak ditulis) itu adalah – taqdîruhu (logikanya secara nahwu) – adalah ana (انا). Dengan demikian, bila diucapkan dan/atau ditulis menurut rumusan ilmu nahwu, maka bismilãhirrahmãnirrahîm itu (seharusnya) berbunyi: Ana bismilãhirrahmãnirrahîm (انا بسم الله الرحمن الر حيم).
Cuma pertanyaan berikutnya adalah, “Bisakah susunan demikian itu dibenarkan oleh rumusan
susunan bahasa Arab yang fasih (resmi)?

Harfu jar(in)
Huruf jar  adalah salah satu jenis partikel dalam bahasa Arab, yang biasanya dijadikan ‘pendamping’ (imbuhan) kata kerja, yang kadang memastikan objek  kata kerja yang bersangkutan, sehingga tak ada pilihan bagi membaca untuk mencari objek (tersirat) yang lain. Contohnya adalah seperti kata Rasulullah dalam sebuah hadis:
 لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

Tidak ada shalat (tidak sah shalatnya) bagi orang yang tidak membaca Al-Fãtihah.”  
Dalam hadis ini jelas kata yaqra’ didampingi (beri imbuhan) partikel bi, yang secara tulisan menempel pada kata fãtihat(un) tapi secara grammar sebenarnya melekat pada kata kerja yaqra’ (sehingga menjadi yaqra’ bi…). Dengan susunan demikian, maka objek dari kata yaqra’ adalah pasti (tidak lain) fãtihatul-kitãb (surat Al-Fãtihah). Kasus seperti ini juga kita dapati pada surat Al-‘Alaq ayat 1; sehingga objek dari kata perintah iqra’ tidak bisa lain kecuali ismu rabbika.[1]

Bismillãhirrahmãnirrahîm sebagai kalimat
Membahas Bismillãhirrahmãnirrahîm sebagai kalimat lengkap seharusnya tidak hanya menggunakan ilmu nahwu, tapi harus juga melibatkan susunan Al-Qurãn sebagai sebuah wacana yang utuh, yang – secara bahasa – melibatkaan ilmu sastra, dan sebagai wacana (sekarang berbentuk naskah) ilmiah menggunakan metodologi dan sistemastika yang khas.
Secara sastra, Al-Qurãn menerapkan secara ketat apa yang di kalangangan sastrawan disebut fashatul-kalãm(i), yaitu kalimat yang fasih, dalam arti kalimat yang jitu secara sastra;  yaitu kalimat yang diucapkan dan atau ditulis dengan prinsip al-ma’lũm(u) makhdũf(un).
Prinsip di atas (al-ma’lũm makhdũf), berarti bahwa dalam berwacana secara sastra (lisan maupun tulisan) janganlah bertele-tele dengan menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui bersama (oleh pembicara/penulis dan pendengar/pembaca). Bila masih menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui bersama, berarti pewacana bukanlah orang yang memahami sastra! Dan hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi pada Al-Qurãn, yang pewacananya adalah Allah!
Kembali pada bismillãhirrahmãnirrahîm. Pertama, dia bukanlah jumlah ismiyah (kalimat kata benda) seperti anggapan sebagian ahli nahwu selama ini; tapi yang lebih logis secara grammar yang resmi, dia adalah jumlah fi’liyah (kalimat kata kerja), yakni bentuk kalimat yang hanya ada dalam bahasa Arab.
Bila dia (bismillãhirrahmãnirrahîm) adalah kalimat kata kerja, maka yang makhdũf (dibuang; tidak diucapkan dan tidak ditulis) itu bukan mubtadã (pokok kalimat; subjek) tapi fi’il (kata kerja).
Jadi pertanyaan berikutnya, bismillãhirrahmãnirrahîm itu – sebagai jumlah fi’liyah - sebenarnya dimulai dengan kata kerja apa?
Harap diperhatikan bahwa pertanyaan itu sama sekali tak bisa dijawab melalui ilmu nahwu!
Bahkan dalil sastra - al-ma’lũm makhdũf – hanya bisa memastikan bahwa dari bismillãhirrahmãnirrahîm ada bagian yang dibuang. Tapi apa yang dibuang?
Terori sastra pun membisu.
Teori sastra tersebut baru bisa bekerja dengan bantuan sistematika (susunan) Al-Qurãn, yang oleh  Isa Bugis disebut sebagai “sistematik ayat”.
Hal yang dimaksud Isa Bugis sebagai sistematik ayat adalah susunan ayat (dalam setiap surat) secara vertical, yaitu dari ayat pertama sampai selesai.
Di sini penulis sepakat dengan pihak yang memandang bismillãhirrahmãnirrahîm sebagai ayat pertama dari Al-Fãtihah, dan otomatis menjadi “gagasan inti” yang dijelaskan oleh ayat-ayat berikutnya (ayat 2 sampai 7).
Di atas sudah ditegasskan bahwa dengan landasan dalil al-ma’lũm makhduf, dipastikan bahwa dari bismillãhirrahmãnirrahîm ada sesuatu yang ‘hilang’. Lalu bagaimana menemukan yang hilang itu? Dan harap dicatat bahwa yang hilang itu adalah fi’il (kata kerja), bukan ism (kata benda). Dengan memperhatikan susunan ayat, bertemukan kita dengan tiga bentu kata kerja  na’budu (نعبد) dan nasta’înu (نستعين) pada ayat 5, dan ihdinã (اهدنا) pada ayat 6. Bingo!
Sekarang, secara nahwu, kata kerja yang mana pun dari yang tiga di atas itu, bisa diletakkan di depan kata bismillãhirrahmãnirrahîm; sehingga susunannya menjadi seperti di bawah ini:
1.       Na’budu bismillãhirrahmãnirrahîmn (Kami mengabdi...)
2.       Nasta’înu bismillãhirrahmãnirrahîm (Kami mengharap pertolongan…)
3.       Ihdinã bismillãhirrahmãnirrahîm (Tunjukilah kami…)
Pertanyaan berikutnya, apakah gerangan makna bismillãhirrahmãnirrahîm?

(BERSAMBUNG)











[1] Akan dibahas pada gilirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar