Para ahli nahwu (grammar), sepakat mengakui bahwa bismilãhirrahmãnirrahîm
adalah kalimat tidak lengkap (terpotong). Umumnya mereka menganggap (sepakat
atau ikut-ikutan penafsir masa lalu), bahwa (selengkapnya) bismilãhirrahmãnirrahîm adalah
jumlah ismiyah (kalimat kata benda) tanpa mutada مبتدأ –
pokok kalimat. Dengan demikian – mereka beranggapan – bahwa bismilãhirrahmãnirrahîm adalah
khabar (خبر)
– keterangan; predikat. Dan menurut mereka kemudian, pokok kalimat yang hilang
(tidak diucap dan tidak ditulis) itu adalah – taqdîruhu
(logikanya secara nahwu) – adalah ana (انا).
Dengan demikian, bila diucapkan dan/atau ditulis menurut rumusan ilmu nahwu,
maka bismilãhirrahmãnirrahîm itu (seharusnya)
berbunyi: Ana bismilãhirrahmãnirrahîm (انا بسم الله الرحمن الر حيم).
Cuma pertanyaan berikutnya adalah, “Bisakah susunan demikian
itu dibenarkan oleh rumusan
susunan bahasa Arab yang fasih (resmi)?
susunan bahasa Arab yang fasih (resmi)?
Harfu jar(in)
Huruf jar adalah salah satu jenis partikel dalam bahasa
Arab, yang biasanya dijadikan ‘pendamping’ (imbuhan) kata kerja, yang kadang
memastikan objek kata kerja yang
bersangkutan, sehingga tak ada pilihan bagi membaca untuk mencari objek
(tersirat) yang lain. Contohnya adalah seperti kata Rasulullah dalam sebuah
hadis:
لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب
Tidak ada shalat (tidak sah shalatnya) bagi orang
yang tidak membaca Al-Fãtihah.”
Dalam hadis ini jelas kata yaqra’ didampingi (beri
imbuhan) partikel bi, yang secara tulisan menempel pada kata fãtihat(un)
tapi secara grammar sebenarnya melekat pada kata kerja yaqra’ (sehingga
menjadi yaqra’ bi…). Dengan susunan demikian, maka objek dari kata yaqra’
adalah pasti (tidak lain) fãtihatul-kitãb
(surat Al-Fãtihah).
Kasus seperti ini juga kita dapati pada surat Al-‘Alaq ayat 1; sehingga objek
dari kata perintah iqra’ tidak bisa lain kecuali ismu rabbika.[1]
Bismillãhirrahmãnirrahîm
sebagai kalimat
Membahas Bismillãhirrahmãnirrahîm sebagai
kalimat lengkap seharusnya tidak hanya menggunakan ilmu nahwu, tapi harus juga
melibatkan susunan Al-Qurãn sebagai sebuah wacana yang utuh, yang – secara bahasa –
melibatkaan ilmu sastra, dan sebagai wacana (sekarang berbentuk naskah) ilmiah
menggunakan metodologi dan sistemastika yang khas.
Secara sastra, Al-Qurãn menerapkan secara ketat apa yang di
kalangangan sastrawan disebut fashatul-kalãm(i), yaitu kalimat yang
fasih, dalam arti kalimat yang jitu secara sastra; yaitu kalimat yang diucapkan dan atau ditulis
dengan prinsip al-ma’lũm(u) makhdũf(un).
Prinsip di atas (al-ma’lũm makhdũf),
berarti bahwa dalam berwacana secara sastra (lisan maupun tulisan) janganlah
bertele-tele dengan menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui bersama (oleh
pembicara/penulis dan pendengar/pembaca). Bila masih menyebutkan hal-hal yang
sudah diketahui bersama, berarti pewacana bukanlah orang yang memahami sastra!
Dan hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi pada Al-Qurãn,
yang pewacananya adalah Allah!
Kembali pada bismillãhirrahmãnirrahîm.
Pertama, dia bukanlah jumlah ismiyah (kalimat kata benda) seperti
anggapan sebagian ahli nahwu selama ini; tapi yang lebih logis secara grammar
yang resmi, dia adalah jumlah fi’liyah (kalimat kata kerja), yakni
bentuk kalimat yang hanya ada dalam bahasa Arab.
Bila dia (bismillãhirrahmãnirrahîm)
adalah kalimat kata kerja, maka yang makhdũf (dibuang; tidak
diucapkan dan tidak ditulis) itu bukan mubtadã (pokok kalimat; subjek) tapi fi’il (kata
kerja).
Jadi pertanyaan berikutnya, bismillãhirrahmãnirrahîm
itu – sebagai jumlah fi’liyah - sebenarnya dimulai dengan kata kerja apa?
Harap diperhatikan bahwa pertanyaan itu sama sekali tak bisa
dijawab melalui ilmu nahwu!
Bahkan dalil sastra - al-ma’lũm
makhdũf
– hanya bisa memastikan bahwa dari bismillãhirrahmãnirrahîm ada
bagian yang dibuang. Tapi apa yang dibuang?
Terori sastra pun membisu.
Teori sastra tersebut baru bisa bekerja dengan bantuan
sistematika (susunan) Al-Qurãn, yang oleh Isa Bugis disebut sebagai “sistematik ayat”.
Hal yang dimaksud Isa Bugis sebagai sistematik ayat adalah
susunan ayat (dalam setiap surat) secara vertical, yaitu dari ayat pertama
sampai selesai.
Di sini penulis sepakat dengan pihak yang memandang bismillãhirrahmãnirrahîm sebagai
ayat pertama dari Al-Fãtihah, dan otomatis menjadi “gagasan inti” yang dijelaskan
oleh ayat-ayat berikutnya (ayat 2 sampai 7).
Di atas sudah ditegasskan bahwa dengan landasan dalil al-ma’lũm
makhduf, dipastikan bahwa dari bismillãhirrahmãnirrahîm
ada sesuatu yang ‘hilang’. Lalu bagaimana menemukan yang hilang itu? Dan harap
dicatat bahwa yang hilang itu adalah fi’il (kata kerja), bukan ism
(kata benda). Dengan memperhatikan susunan ayat, bertemukan kita dengan tiga
bentu kata kerja na’budu (نعبد) dan nasta’înu (نستعين) pada ayat 5, dan ihdinã (اهدنا) pada ayat 6. Bingo!
Sekarang, secara nahwu, kata kerja yang mana pun dari yang
tiga di atas itu, bisa diletakkan di depan kata bismillãhirrahmãnirrahîm;
sehingga susunannya menjadi seperti di bawah ini:
1.
Na’budu bismillãhirrahmãnirrahîmn
(Kami mengabdi...)
2.
Nasta’înu
bismillãhirrahmãnirrahîm (Kami mengharap
pertolongan…)
3.
Ihdinã
bismillãhirrahmãnirrahîm (Tunjukilah kami…)
Pertanyaan berikutnya, apakah gerangan makna bismillãhirrahmãnirrahîm?
(BERSAMBUNG)
(BERSAMBUNG)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar