Selama ini kita selalu mendengar dan membaca bahwa bismillah
berarti “dengan nama Allah”. Penjelasannya adalah bahwa kita – sebagai orang
beriman – harus memulai segala pekerjaan dengan “menyebut nama Allah”.
Penjelasan tambahannya adalah sebuah hadis yang mengatakan, “Segala urusan
yang baik, yang tidak dimulai dengan
bismillah, maka dia putus!” (كل امر ذى بال لا يبدأ ببسم الله فهو يقطع).
Yaitu putus dalam arti tidak ada urusan dengan Allah.
Pertanyaannya adalah: apakah cukup dengan hanya menyebut?
Bagaimana bila yang “menyebut nama Allah” itu adalah orang
kafir? Atau orang yang beriman tapi bodoh, sehingga ia melakukan sesuatu yang
salah, misalnya makan daging babi tapi baca bismillah? Apakah daging
babinya bisa menjadi halal karena orang tersebut membaca bismillah? Lho, kalau
begitu, bismillah jadi seperti mantra?
Jawabannya tentu tidak demikian.
Lalu bagaimana?
Allah dengan ajaranNya
Menyebut (nama) Allah tidak bisa dilepaskan atau dipisahkan
dari ajaranNya, yakni Al-Qurãn. Bahkan Al-Qurãn adalah satu-satunya wakil Allah di
bumi sekarang ini (setelah ketiadaan rasul). Menyebut nama Allah tanpa
mengaitkan dengan ajaranNya adalah sama dengan menyebut (dan mengingat, juga
memikirkan) dzat (diri pribadi) Allah saja. Sesuatu yang dilarang
Rasulullah berdasar sebuah hadis yang berbunyi, “Tafakkaru fi khalqihi, wa
la tatafakkaru fi dzatihi”.
(Pikirkanlah tentang makhlukNya, dan jangan pikirkan tentang diriNya). (تفكروا فى خلقه و لا تتفكروا فى ذاته).
Bila demikian, ‘membaca’ bismillah – bagi orang
beriman - bukanlah soal ‘menyebut” nama Allah sambil mengingat dan/atau
memikirkan diri pribadi Allah, tapi melafalkan sekaligus melaksanakan ajaran
Allah. Dengan cara berpikir demikian, maka lafal bismillah tidak bisa (atau
tepatnya tidak boleh) diterjemahkan sebagai “dengan nama Allah”, tapi ‘harus’
“dengan ajaran Allah”. Ini memang bukan terjemahan harfiah, tapi ‘terjemahan
tafsiriah! Lalu, bagaimana
pertanggung-jawaban ilmiahnya?
Bila ilmu mantiq (logika) diakui sebagai salah satu ilmu
alat untuk menafsirkan Al-Qurãn, maka dalam ilmu mantiq, antara
lain, dikatakan bahwa ismun (اسم), nama, mengandung
dua sisi. Yaitu jauhar (جوهر) dan ‘aradh (عرض).
Jauhar adalan esensi, dan ‘aradh adalah identitas. Jadi,
bila kita menyebut nama apa pun, ingatlah bahwa nama tersebut mengandung jauhar
dan ‘aradh. Misalnya, bila kita sebut “Fulan”, maka si Fulan itu mempunyai
jauhar dan ‘aradh. Lantas, apa jauhar Fulan? Manusia. ‘Aradhnya? Fisiknya,
mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Melalui kenyataan fisiknyalah kita
mengetahui kehadiran manusia bernama Fulan. Selanjutnya, identitas Fulan bukan
hanya itu. Dia juga berbicara dengan suara dan gaya yang khas. Dia juga
berpakaian. Dia juga punya rumah, istri, anak dan lain-lain. Dan dia juga,
misalnya, berkarya.
Kemudian, ketika kita menyebut Fulan, apanya yang mau kita
bahas? Jauharnya, atau ‘aradhnya? Jauharnya, jelas, dia manusia. Setelah tahu
bahwa dia manusia, apa yang bisa dianggap penting dari Fulan untuk dibahas?
Tentu keberadaanya (eksistensinya) sebagai manusia. Maka mulailah kita bicara tentang
‘aradhnya, mulai dari fisiknya, dan seterusnya, sampai pada apa yang telah dan
sedang diperbuat oleh Fulan? Apa
manfaatnya bagi sesama? Apa karyanya?
Inti dari uraian ini adalah bahwa berbicara tentang Fulan
dengan hanya memikirkan jauharnya adalah taka ada gunanya. Pembicaraan baru
berguna, bila yang dibicarakan adalah ‘aradhnya, terutama yang menyangkut
manfaat dan karyanya.
Begitu dengan Fulan.
Lebih-lebih lagi Allah!
Apa gunanya membahas jauhar (dzat) Allah?
Yang berguna itu bila kita bicara tentang ajaran Allah.
Ajaran Allah adalah salah satu identitas Allah. Bahkan salah
satu identas yang paling menentukan. Tahu dari mana, misalnya, bahwa Allah itu
ada? Dari ajaranNya! Yakni Al-Qurãn. Tahu dari mana bahwa Dia pencipta?
Dari Al-Qurãn.
Sudah jelas?
Maksud penulis, bila kita ‘menyebut’ nama Allah, dan
memokuskan ingatan serta pikiran hanya pada Al-Qurãn, maka yang bakal terjadi
pasti sesuatu yang berbeda. Pertama, kita tidak lagi membahas diri pribadi
Allah. Dus, tak akan menjadi gila! Kedua, Al-Qurãn sebagai ajaran Allah
berfungsi sebagaimana mestinya! Ketiga, dengan berfungsinya Al-Qurãn
sebagaimana mestinya, maka yang mengaku umat Islam pasti bakal keluar dari
kegelapan jiwa (buta ilmu) menuju kecerahan jiwa (melek ilmu). Maka umat Islam
pasti menjadi manusia-manusia bermutu yang memberikan banyak manfaat bagi sesama
warga dunia.
Bekasi, 10 Februari, 12:23 WIB.

The Casino and Sportsbook - DrmCD
BalasHapusThe casino 오산 출장마사지 features a variety of poker tables, 의정부 출장샵 including the biggest, most popular ones 밀양 출장안마 and ones that are 남원 출장샵 legal in Michigan. 성남 출장안마 Play online poker for real