TERBUKA UNTUK SEMUA KRITIK

Kamis, 16 Februari 2017

Teguran Kepada Bani Israil 2 (Al-Baqarah ayat 57-66)

Ayat tentang "Sabat" dalam Kitab Keluaran. Dalam ajaran Kristen, Sabat adalah nama hari ketujuh (Sabtu), yaitu hari saat Tuhan beristirahat setelah enam hari melakukan penciptaan. Hari Sabat adalah hari Tuhan beristirahat. Karena itu manusia pun harus beristirahat pada hari itu. Dan para pelanggar Sabat adalah mereka yang tetap menangkap ikan pada hari Sabat,sehingga mereka dikutuk jadi monyet.


57. Selanjutnya Kami naungi kalian dengan (semacam) awan, lalu Kami turunkan kepada kalian manna (anugerah) dan salwã (hiburan).[1] Santaplah (kajilah)[2] segala kebaikan yang telah dianugerahkan bagi kalian. (Jika membangkang perintah ini,  hai Musa), mereka tidak menzhalimi Kami, tapi mereka telah menzhalimi diri sendiri.
58. Yakni ketika Kami perintahkan, Masuklah kalian ke “negeri ini”[3] (ajaran Allah) Kemudian makanlah darinya apa yang kalian suka,[4] yakni masukilah oleh kalian “pintu sujud” (kepatuhan), seraya kalian teriakkan “merdeka!” Maka Kami (dengan ajaran Kami) bakal memperbaiki segala kesalahan kalian. Yakni Kami pasti tambahkan (kebaikan hidup) orang-orang yang berbuat baik menurut perintah Kami (muhsin).[5]
59. Tapi selanjutnya, orang-orang zhalim mengganti perkataan (ajaran; konsep) Allah dengan konsep yang tidak pernah dikatakan (diajarkan) kepada mereka. Maka Kami turunkan kepada orang-orang zhalim itu bencana dari langit,[6] karena pelanggaran yang terus mereka lakukan.
60. (Gambaran lainnya adalah) ketika Musa hendak memberi ‘minum’ (mengajarkan Taurat) kepada kaumnya, maka Kami ajarkan (caranya), “Pukul (taklukkan) dengan tongkatmu (Taurat) orang yang paling keras (al-hajaru; pentolan mereka), maka pasti bakal terbersit 12 ‘mata air’ (para kepala suku Yahudi yang menjadi panutan masing-masing suku). Masing-masing orang sudah tahu tempat minum (guru) mereka. Makan-minumlah anugerah (ilmu) dari Allah. Jangan kalian berbuat jahat dengan menjadi para perusak (konsep Allah).[7]
61. Kemudian waktu itu kalian mengeluh, ”Hai, Musa, kami tidak tahan harus menyantap satu jenis makanan. Mintakanlah bagi kami kepada Tuhanmu, agar dia menumbuhkan apa yang biasa bumi tumbuhkan, yaitu jenis sayuran seperti timun, bawang putih, adas, dan bawang merah! Musa menghardik, “Apakah kalian Ingin menukar semua yang remeh itu dengan sesuatu yang terbaik? (Kalau begitu) ‘merangkaklah’[8] lagi kalian ke tempat seperti Mesir. Pasti bakal kalian dapatkan semua yang kalian tuntut itu. Maka kehinanaan ditimpakan kepada mereka, karena mereka ternyata terus menolak ayat-ayat Allah; bahkan mereka terus ‘membunuh’ para nabi (penda’wah) tanpa alasan.[9] Hal itu mereka lakukan, karena mereka membangkang dan mendobrak aturan.
62. (Tapi) sebenarnya mereka yang merasa Yahudi[10] dan Nasrani berikut sekte-sekte mereka, siapa pun yang telah (putar haluan) beriman dengan ajaran Allah (yang diajarkan) pada giliran akhir (Islam), kemudian mereka telah berperilaku tepat, maka  mereka berhak atas imbalan sesuai janji Pembimbing mereka. Yakni mereka tidak akan mengalami hidup yang penuh ketakutan dan duka-cita.
63. (Sedangkan bagi pembangkang) seandainya Kami mengikat perjanjian (supaya mereka patuh) dengan mengangkat bukit Thur (di atas kepala mereka, lalu Kami perintahkan melalui rasul), “Patuhilah apa yang telah Kami sampaikan kepada kalian dengan sekuat kemampuan kalian! Yakni tanamkan ke dalam kesadaran kalian apa yang terkandung di dalamnya. Mudah-mudahan kalian menjadi para pelestari (ajaran Allah).
64. Kemudian, setelah mendengar perintah itu, mereka buang muka. Padahal andai tanpa karunia (ajaran) Allah sebagai bukti kasih-sayangnya, pasti kalian menjadi orang-orang yang rugi.
65. Padahal kalian telah tahu tentang orang-orang yang melanggar “Hukum Sabat”, sehingga Kami katakana kepada mereka, “Dasar kalian monyet-monyet yang hina!”[11]
66. Selanjutnya – hal itu – Kami jadikan peringatan bagi bagi (generasi) sekarang maupun dahulu, yakni sebagai nasihat bagi para pemelihara (ajaran Allah).




[1] Manna diartikan para penafsir sebagai semcam madu, dan salwã mereka artikan burung puyuh, untuk melengkapi cerita bahwa setelah lolos dari kejaran Fir’aun, Bani Israil memasuki tanah kosong yang kadang panas, shingga Allah mengirimkan awan untuk meneduhi mereka, serta menjatuhkan makanan dari langit yang bernama al-manna dan as-salwã tersebut. Lagi-lagi ini juga menjadi perdebatan apakah itu semua benar-benar terjadi atau hanya kiasan? Istilah al-mann dan as-salwã disebut dalam Al-Quran pada tiga tempat, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 57, Al-A’raf ayat 160, dan Thaha ayat 80. Secara kata kerja, manna adalah pemberian anugerah, atau mengingatkan terhadap anugerah yang telah diberikan berdasar perjanjian. Tapi, sebagai kata benda selalu diartikan semacam madu. Sedangkan salawa sebagai kata kerja berarti menghibur. Tapi sebagai kata benda selalu diartikan sebagai burung puyuh.
[2][2] Bila yang harus disantap adalah ajaran (konsep), maka cara ‘menyantapnya” adalah dengan mengkajinya.
[3] Para penafsir memastikan sebagai Baitul-Maqdis.
[4] Dalam surat Al-Muzzammil, bunyi perintahnya, “Kajilah yang mudah bagi kalian”.
[5] Redaksi ayat ini mirip dengan susunan ayat 35, Yaitu ketika Allah menyuruh Adam memasuki al-jannah. Berdasar ini, penulis memahami bahwa al-qaryah di sini adalah sama dengan al-jannah; yakni sebuah ‘negeri’ (bentuk kehidupan) yang dibangun dengan ajaran Allah; yang untuk memasukinya harus dimulai dengan melalui ‘pintu sujud (kepatuhan). Teriakan khithah Iadalah semacam pernyataan tekad untuk bebas dari cara hidup lama yang zhalim.
[6] Di sini tidak dijelaskan bentuk bencananya.
[7] Allah memberi tahu Musa untuk mengajarkan Taurat sesuai situasi kejiwaan bangsa Yahudi. Wakti itu mereka terbagi menjadi 12 suku, yang masing-masing dipimpin kepala suku yang keras pendirian (diumpamakan seperti batu). Setelah Musa berhasil menggarap mereka, maka mereka akan menjadi seperti mata air, dan setiap anggota suku tentunya akan menganggap setiap tokoh tak ubahnya mata air tempat mereka minum (belajar Taurat).
[8] Teks aslinya “turunlah kalian” (Sama seperti pada ayat  38). Apakah Mesir, tempat semula Yahudi tinggal, ada di bawah? Tentu bukan itu maksudnya. Tapi Musa menyindir Yahudi dengan mengatakan “turunlah…”, karena dengan mengajukan permintan seperti yang mereka ratapkan, berarti mereka telah merendahkan diri sendiri. Kembali ke soal al-manna dan as-salwã , apakah keduanya berarti santapan fisik? Bila dikaitkan dengan ratapan mereka yang meminta berbagai sayuran, ya berarti keduanya adalah makanan fisik. Tapi, apakah Musa diutus untuk mengurus isi perut mereka? Jelas, Musa adalah rasulullah. Urusannya adalah masalah iman. Dengan demikian penyebutan segala macam sayuran itu adalah sebagai kiasan saja untuk menyatakan kebosanan Yahudi atas satu konsep dari Allah. Mereka ingin konsep-konsep pilihan, yang bisa mereka pilih untuk disantap sesuka hati.
[9] Di sinilah kita temukan penegasan bahwa Yahudi ternyata mengingkari ayat-ayat (ajaran) Allah. Bahkan mereka tak segan-segan untuk membunuh para nabi (juru da’wah). Apakah mereka membunuh secara fisik atau hanya membunuh secara kiasan dengan membangkang para penyampai da’wah. Mungkin saja kedua-duanya mereka lakukan!
[10] Perhatikan kada hãdũ (هادوا) di sini adalah kata kerja lampau.
[11] Ayat ini biasa dipahami sebagai kutukan  kepada orang-orang yang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka dikutuk jadi monyet! Tidak bisakah ini dipahami sebagai makian saja untuk kebandelan mereka. Adakah bukti sejarah bahwa para pelanggar Sabat itu benar-benar jadi monyet?

2 komentar:

  1. Assalamualaikum,
    Footnote nya tertulis double ya Bang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah dikoreksi. Terimakasih atas ketelitian anda.

      Hapus