1. Al-Fãtihah (Pendahuluan) – Ikrar dari
pada ma’min
2.
(Kami menyatakan) kekaguman
bagi Allah, Pembimbing segenap manusia.
3.
Yang (bersifat) rahmãn
– dengan mengajarkan Al-Qurãn bagi semua manusia.[2]
Yang (bersifat) rahîm bagi para mu’min saja.[3]
5.
Kami menyatakan bahwa hanya
menurut-(ajaran)-Mu kami mengabdi, dan (dengan sendirinya) – kepada ajaranMu
pula – kami bergatung (mengharap pertolongan).
6.
(Karena itulah) bimbinglah
selalu kami (agar selalu berjalan) di jalan-(ajaran)-Mu yang lurus (benar menurutMu).
7.
Yakni jalan hidup (ajaran)
yang telah Engkau karuniakan kepada mereka (para rasul). Bukan jalan hidup
pilihan mereka yang Engkau murkai (Yahudi dan Nasrani).[5]
*Ãmîn (Ya Allah, kabulkan doa (harapan
hidup) kami!
2. Al-Baqarah (Ibarat seekor sapi)
1.
Alif – lãm
– mîm
2.
Itulah (Alif – lãm
– mîm
– sebagai lambang) Al-Kitãb (yakni Al-Qurãn), yang tidak berisikan hal-hal yang
meragukan, (sehingga cocok) sebagai pedoman hidup bagi yang mau bertakwa.
3.
(Yakni) yang terus-menerus
beriman (hidup berbudaya)[6]
dengan Al-Ghaib(u) – yakni Al-Qurãn dalam sebagai gagasan[7]
- dengan terus menegakkan harapan (shalat)[8],
serta memanfaatkan segala rejeki – ilmiah dan bendawi - yang Kami anugerahkan
(berdasar petunjuk Kami).[9]
4.
Mereka (para muttaqîn)
adalah yang hidup (berbudaya) dengan ajaran yang diturunkan (diajarkan)
kepadamu; yakni (ajaran) yang senilai dengan yang sebelummu, serta tahu pasti
(yakin) dengan tujuan akhirnya (bahagia di dunia dan akhirat).[10]
5.
Mereka teguh menjalankan
pedoman hidup dari pembimbing mereka (Allah), sehingga mereka menjadi para
pemenang (unggul dalam budaya).
6.
Sebaliknya – jelas tegas –
orang-orang kafir (menolak; menutup diri) – untuk beriman (hidup berbudaya)
demikian, sama saja sikap mereka – baik apakah engkau (Muhammad) peringatkan mereka
atau tidak, selamanya mereka tak akan beriman.
7.
Allah, melalui ajaranNya,
telah menutup hati mereka, yakni melalui pendengaran (daya tanggap), dan
penglihatan (daya wawas) – yang tidak difungsikan[11]
- Allah jadikan penutup; sehingga dengan demikian mereka layak merasakan
penderitaan (azab) yang berat.
‘Omong Doang’
8.
Lalu, dari sebagian manusia
ada orang-orang yang mengatakan, “Kami beriman dengan (ajaran) Allah serta
tujuan akhir kehidupan (menurutNya)!” Padahal mereka bukan orang yang bersikap
demikian (beriman).
9.
Mereka (seperti) menipu
Allah serta orang-orang beriman; padahal sebenarnya mereka hanya menipu diri
sendiri.
10.
Dalam diri mereka tumbuh
penyakit. Lalu Allah – dengan penawaran ajaraNya – menambah parah penyakit
mereka; sehingga mereka merasakan derita (azab) yang mahapedih karena mereka
terus-menerus berbohong.
11.
Bila dikatakan kepada
mereka, “Janganlah kalian membuat kerusakan (budaya) di bumi ini,” mereka
membantah, “Kami adalah para penegak budaya yang sebenarnya!”
12.
Halah! Mereka adalah
para perusak (budaya) sejati! Tetapi mereka tidak peduli.
13.
Apalagi bila dikatakan
kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang yang beriman (dengan
sebenarnya)!” Mereka menjawab (sinis), “Apakah kami (harus) beriman seperti
orang-orang bodoh itu?” Halah, sebenarnya merekalah yang bodoh, tapi
tidak tahu diri.
14.
Lalu, bila mereka berjumpa
orang-orang beriman, mereka membual, “Kita adalah orang-orang beriman!” (Kita
saudara seiman!). Tapi pada saat mereka bersembunyi (dari mu’min) bersama ‘setan-setan’
(dedengkot) mereka, mereka pun berkata (jujur), “Sebenarnya kami pendukung
kalian. Sesungguhnya kami (di hadapan mu’min) hanyalah bermain-main
(berpura-pura)!”
15.
Allah – dengan perkembangan
da’wah ajaranNYa – akan mempermainkan mereka! Yakni akan memperpanjang keadaan
terombang-ambing mereka dalam kesesatan.
16.
Mereka adalah orang-orang
yang membarter kesesatan dengan petunjuk, sehingga tidak beruntunglah bisnis
mereka; karena sebenarnya mereka bukan orang-orang berpetunjuk (berilmu).
17.
Gambaran (analogi) mereka –
dalam usaha mereka menghentikan da’wah Al-Qurãn - adalah seperti orang-orang
yang berusaha menyalakan api (di tengah kegelapan). Ketika api itu menerangi
lingkungan sekitarnya, Allah – dengan da’wah ajaranNya yang terus berkembang –
melenyapkan terang api (propaganda mereka), yakni membiarkan mereka kehilangan
wawasan (kebingungan).
18.
Mereka (bgagaikan) tuli,
bisu, buta; sehingga tidak lagi mempunyai rujukan (pegangan).
19.
Atau – ketika mendengar da’wah
- seperti (orang-orang yang ketika) hujan turun dari langit, di waktu gelap,
disertai petir dan kilat, mereka memasukan jari-jemari ke kuping supaya tidak
mendengar suara petir, karena mereka takut mati. Allah tahu persis bagaimana
kelakuan orang-orang kafir!
20.
Masih untung kilat itu
tidak benar-benar menyambar mata (membutakan) mereka. Setiap kilat menerangi,
mereka manfaatkan untuk berjalan. Tapi bila (malam) menggelapkan mereka, mereka
diam terpaku. Bila saja Allah mau, pasti Dia lenyapkan kuping dan mata mereka
(untuk membuat mereka tak berdaya). Sungguh Allah mampu melakukan apa saja.
21.
Wahai manusia! Mengabdilah
dengan (menjalankan ajaran) Pembimbing kalian, yang telah menciptakan kalian
serta menusia-manusia sebelum kalian. Mudah-mudahan kalian menjadi para
pemelihara (pelestari) – konsep budaya agung.
22.
(Untuk itu) Dia telah
menyediakan bagi kalian permukaan bumi seperti permadani terhampar, dan langit
seperti sebuah bangunan (yang tersusun berlapis-bertingkat). Lalu Dia turunkan
dari langit air (hujan), sebagan anugerah, sehingga dengannya Dia menumbuhkan
buah-buahan sebagai rejeki kalian. Maka janganlah kalian merekayasa tandingan
bagi Allah (dan ajaranNya), padahal kalian mengetahui (segala akibatnya yang
telah diuraikan di atas).
23.
Tapi bila kalian masih
meragukan salah satu (surat) yang Kami turunkan (ajarkan) melalui hamba (rasul)
kami, hadirkanlah (tulislah) sebuah surat yang sama (setara). Silakan panggilah
(ajaklah) para syahid (pendukung) kalian, kecuali Allah; bila kalian memang
pemilik kebenaran.
24.
Bila kalian tidak bisa
melakukan demikian – dan memang tak akan pernah bisa, (tapi masih ragu juga),
maka lestarikanlah (kehidupan) neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia –
yakni manusia yang berkepala batu (keras kepala memperahankan kebodohan).
(Yakni silakan abadikan kehidupan neraka) yang ditimpakan kepada orang-orang
kafir (karena kekafiran mereka!).
25.
Sebaliknya gembirakanlah
orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang berbuat tepat (shalih) bahwa mereka
(berhak) atas semacam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai
(irigasi). Setiap dianugerahkan kepada mereka semacam buah-buahan sebagai
rejeki, mereka berkata, “Inilah (hasil) yang telah dianugerahkan (diwacanakan;
diajarkan; dida’wahkan) kepada kami dulu secara kiasan.” Yakni di sana mereka
berjumpa sejawat-sejawat bersih (tidak curang), dan di dalamnya mereka hidup
selama-lamanya.
26.
Sesungguhnya Allah (melalui
Al-Qurãn
ini) tidak sungkan menghidangkan gambaran wacana (uraian; deskripsi) setingkat
nyamuk (remeh) atau yang lebih tinggi (rumit) lagi. Bagi orang-orang beriman,
maka mereka tahu itulah gambaran kebenaran dari Pembimbing mereka. Sebaliknya
bagi orang-orang kafir, maka mereka menyeletuk, “Apa sih maunya Allah dengan
uraian bertele-tele ini?” Pasti tersesat (bingung) – dengan uraian Al-Qurãn
ini – banyak orang. Tapi pasti menyauk petunjuk banyak orang pula. Dan – sudah
pasti! – tidak akan sesat – dengan Al-Qurãn ini, kecuali para penabrak
pagar kebenaran (Fasiq).
27.
Yaitu orang-orang yang
terus berusaha merusak Ikatan Perjanjian Allah – yakni Al-Qurãn
ini – setelah perjanjian itu dimantapkan (dipastikan). Yakni mereka terus
berusaha memutus ikatan –perjanjian - yang diperintahkan Allah untuk selalu
mengencangkan ikatannya. Yakni mereka terus melakukan perusakan (budaya) di
bumi. Mereka itulah para penyandang kerugian (kebangkrutan).
28.
Bagaimana kalian mengafiri
(ajaran) Allah, padahal dahulu (dari zaman Adam) kalian mati (kutu), lalu –
dengan wahyuNya – Dia menghidupan (budaya) kalian, lalu Dia mematikan (lagi) –
seiring pilihan kalian. Kemudian – dengan Al-Qurãn ini – kalian diajak kembali
kepada-(ajaran)-Nya?
29.
Dialah (Allah) yang telah
menciptakan bagi kalian segala yang ada di bumi semua. Kemudian Dia
memperseimbangkan tatanan langit, sehingga serasilah tujuh langit semua. Yakni
Dia berkuasa melakukan apa saja. (Begitu pula tentu Dia mampu memberi ajaran
penata kehidupan).
Kisah Adam
30.
Perhatikan oleh kalian
ketika dulu Pembimbing kalian berkata kepada para malaikat,[12]
“Sesungguhnya Aku akan menjadikan[13]
di dunia ini seorang khalîfah. Mereka menyela, “
Apakah Engkau akan menjadikan (mengangkat) Khalîfah dari orang yang selalu membuat keruskan di bumi, bahkan selalu menumpahkan darah[14] sedangkan kami selalu giat mengagungkanMu dan berbuat hidup) bersih menurutMu? Dia (Allah) menjawab, “Aku sangat mengetahui apa yang kalian tidak tahu!”
Apakah Engkau akan menjadikan (mengangkat) Khalîfah dari orang yang selalu membuat keruskan di bumi, bahkan selalu menumpahkan darah[14] sedangkan kami selalu giat mengagungkanMu dan berbuat hidup) bersih menurutMu? Dia (Allah) menjawab, “Aku sangat mengetahui apa yang kalian tidak tahu!”
31.
Lalu Dia (Allah) – setelah
memilih manusia bernama Adam sebagai Khalîfah - mengajarkan kepada Adam Al-Asmã seutuhnya.[15]
Kemudian Dia (Allah) memamerkan kepada malaikat, dan berkata, “Terangkan
kepadaKu tentang Al-Asmã’ ini semua, bila kalian mengetahui kebenaran!”
32.
Mereka menjawab, “Kami
hanya (mampu) berbuat menurutMu![16]
Kami tidak mempunyai ilmu apa pun, kecuali yang telah Engkau ajarkan kepada
kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaberilmu dan Pembuat Keputusan Yang
Mahatepat (bijaksana).
33.
(Lalu) Dia (Allah) berkata
kepada Adam, “Hai Adam! Terangkan kepada mereka rtincian Al-Asmã’
itu. Maka setelah Adam menerangkan tentang Al-Asmã seutuhnya, Dia (Allah) menukas,
“Bukankan telah Kukatakan kepada kalian bahwa Aku menguasai rahasia jagat raya
dan bumi; juga mengetahui apa yang kalian tampakkan maupun yang kalian
sembunyikan?”
34.
(Maka selanjutnya, setelah para
malaikat terdiam), Kami perintahkan kepada para malaikat, “Patuhlah kalian
kepada Adam (sebagai khalîfah)!” Maka para malaikat patuh (ikut kebijakan Adam
yang telah menerima Al-Asmã’ sebagai pedoman budaya), kecuali iblis. Dia
membangkang dan takabur, yakni memastikan diri sebagai golongan kafir.[17]
35.
Selanjutnya Kami perintahkan kepada
Adam, “Hai Adam! Bangunlah bersama umatmu[18]
kehidupan yang tenteram, yakni Al-Jannah!
Nikmatilah sesuka hati apa pun dan di mana pun di dalamnya, tapi
janganlah kalian mendekati ‘sejarah’ ini, sehingga kalian menjadi golongan
zhalim!
36.
Kemudian Setan[19]
‘menjegal’ keduanya (Adam dan para pengikutnya) darinya (Al-Jannah), sehingga
menjauhkan keduanya dari situasi dan kondisi yang ada di dalamnya. Karena itu
Kami (Allah) menghardik, “Minggatlah kalian, untuk hidup saling bermusuhan. Di
bumi ada satu pusaran kehidupan (yang menjebak kalian); yakni kesenangan
(duniawi) yang terbatas waktu.
37.
Lalu (karena menyesal telah disesatkan
setan) Adam berusaha menemukan kembali (menekuni lagi) kalimat-kalimat
(ajaran Allah; Al-Asmã’) Pembimbingnya; dan kemudian dia kembali (merujuk)
kapadanya. Sesungguhnya Dia (Allah) – dengan ajaranNya – adalah Penyelenggara
Taubat Yang Mahapenyayang (kepada mu’min).
38.
Kami tegaskan (lagi), “Keluarlah
kalian dari situ (Jannah) semua!” (kalau mau). Tapi (bila kalian menyesal),
nanti pasti pasti bakal datang petunjuk dariKu. Siapa yang mengikuti
petunjukKu, maka mereka tidak akan merasakan hidup yang penuh ketakutan dan
duka cita.
[1]
Lihat uraian tentang bismillah…, yang intinya menempatkan tiga kata
kerja dalam Al-Fãtihah sebagai awal dari Ibismillah yang merupakan jumlah
fi’liyah.
[2]
Lihat surat Ar-Rahmãn ayat 2.
[4] Agama – baik yang haqq –
benar menurutNya, maupun yang bãthil – yakni agama-agama atau peraturan
hidup apa pun yang bersifat ‘membatalkan’ atau menggagalkan atau merusak
agamaNya. Semua ruang dan waktu (yaum)-nya ada dalam kekuasaan Allah.
[5] Periksa,
antara lain, tafsir Jalalain.
[6] Di
sini “beriman” diartikan “hidup berbudaya” atau singkatnya “berbudaya” saja,
karena unsur-unsur iman, seperti kata Nabi Muhammad dalam beberapa hadis,
mencakup isi kalbu, ucapan, dan perbuatan. Begitu juga unsur-unsur budaya.
[7]
Al-Qurãn
sebagai sebuah gagasan (ide) sudah pasti bersifat ghaib (abstrak), dalam
arti hanya bisa hadir di dalam pikiran. Jadi, penulis di sini tidak memahami
istililah al-ghaib(u) secara harfiah, tapi sebagai sebutan lain bagi
Al-Qurãn.
[8] Shalat
menurut sebuah hadis adala du’ã’ (harapan; cita-cita, dsb.). Di
sini menegakkan shalat berarti menegakkan harapan/cita-cita untuk membuat
Al-Qurãn
sebagai al-ghaib (ide; gagasan) mewujud menjadi kenyataan. Adapun
penegakan shalat ritual adalah sarana untuk melakukan pembatinan
(internalisasi) Al-Qurãn ke dalam jiwa (pikiran dan perasaan).
[9]
Orang bertakwa tidak mungkin hanya membelanjakan (spend out) “sebagian” dari rejeki yang mereka terima dari
Allah. Yang logis adalah mereka membelanjakan semua, atau menganggarkan semua
rejeki berdasarkan aturan Allah.
[10]
Dengan memahami Al-Qurãn sebagai gagasan, para muttaqin tahu pasti apa yang bakal mereka
capai (wujudkan).
[11]
Lihat surat Al-A’rãf ayat 179.
[12]
Dalam bahasa aslinya, malaikat adalah jamak dari malak. Tapi dalam bahasa
Indonesia malaikat adalah kata benda tunggal. Di sini penulis menggunakan kata
malaikat dalam pemaham orang Indonesia.
[13]
“akan menjadikan” adalah terjemahan dari kata jã’ilun
yang sebenarnya adalah isim fã’il (kata pelaku), tapi di sini
dianggap sebagai fi’il muhdari, sesuai kesepakatan para ahli nahwu bahwa isim fã’il
kadang bisa dimaknai sebagai fi’il mudhari. Dan penerjemahan demikian memang
lebih cocok dengan susunan (redaksi) kalimat.
[14]
Fi’il mudhari yufsidu dan yasfiku di sini diartikan “selalu…”,
karena pada dasarnya fi’il mudhari memang mecakup pengertian sedang, akan, dan
terus menerus (selalu) bertindak atau bergerak. Lihat, misalnya, surat Yasin
ayat 38. Salah satu konsekuensi (akibat) dari penerjemahan ini adalah para
malaikat sudah tahu siapa yang akan dinobatkan sebagai Khalîfah;
sehingga wajar bila mereka mengetahui kebiasaannya! Dengan demikian rangkaian
ayat ini tidak bercerita tentang Adam sebagai manusia pertama, tapi Adam yang
sudah hadir akan dinobatkan jadi khalîfah!
[15]
Di sini Al-Asmã’u tidak dipahami harfiah sebagai “nama-nama” (benda),
tapi sebagai sebutan bagi wahyu yang diajarkan kepada Adam.
[16]
Terjemahan dari sub-hanaka, yang
sering bahkan selalu diartikan “mahasuci Engkau”. Di sini diartikan demikian
dengan lasan bahwa kata sub-hanan (سلبحانا) adalah masdar dari kata kerja lampau sabaha,
yang artinya berenang atau beredar, atau bergiat, beraktifitas, dsb. Jadi, sub-hanaka
adalah ungkapatan dari hamba Allah, yang menegaskan bahwa mereka hanya
melakukan aktirfitas hidup berdasar perintah/ajaran Allah.
[17]
Iblis dinyaatkan sebagai minal kãfirîn (من الكافريىن),
golongan kafir. Apakah sebelumnya ada pula yang kafir? Atau ini merupakan
isyarat bahwa iblis adalah perintis membentukan golongan kafir dan kemudian
menjadi pemimpin di sana? Atau ini hanya gaya bahasa Al-Qurãn
untuk menegaskan betapa hinanya sikap kafir?
[18]
Selama ini dikatakan Adam disuruh masuk surge bersama istirinya, Hawa, padahal
di sini kata yang diterjemahkan sebagai “istri” itu adalah zauj , yang
berarti “suami”, bukan zaujatun (زوجة) yang berarti “istri”. Apakah Adam yang
adalah lelaki berpasangan dengan lelaki pula? Atau ada kesalahan bahasa dalam
Al-Qurãn
seperti kata sebagian orang? Tidak. Bila kita ingat bahwa kedudukan Adam selanjutnya
adalah seorang khalifah, maka jauz (pasangan) yang dimaksud, logisnya,
bukanlah pasangan biologis, lawan jenis, tapi yang dimaksud adalah pasangan
dari posisi khalifah tersebut, yakni para pengikutnya.
[19]
Siapa setan (), yang namanya barudisebut di sini? Dari jalan cerita terkesan bahwa
setan adalah sebutan lain bagi iblis. Dari pemahaman ini timbul asumsi bahwa
iblis disebut setan ketika ia giat bekerja menggoda. Dengan kata lain, ketika
diam namanya iblis, ketika bekerja namanya setan!
Alhamdulillahirabbil'alamin...
BalasHapusMsh ada bbrp kesalahan ketik tp tdk mengganggu sih.
Ditunggu lanjutajnya, Bang.
terimakasih pak
BalasHapus